Ekonomi Digital dan Kaffahisme Perekonomian Indonesia

Syarifuddin HH - 08 Feb 2018

Beberapa hari yang lalu, Gubernur Jawa Timur (Jatim) Soekarwo menyatakan, implementasi ekonomi digital merupakan solusi untuk meningkatkan daya saing nasional. (Sindonews, 30/01/2018). Di samping itu, eksistensi ekonomi digital juga telah menarik hati Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga mengeluarkan aturan tentang financial technology (Fintech).

Kemudian yang menjadi pertanyaan utama, dapatkah ekonomi digital muncul dan mendarah daging di Indonesia dan apa dampaknya?

Ekonomi Digital

Tanda muncul dan berkembangnya ekonomi digital adalah maraknya perkembangan bisnis atau transaksi perniagaan yang memanfaatkan internet sebagai media, wadah, kolaborasi serta kooperasi antar perusahaan atau independen. Amir hartman mendefinisikan ekonomi digital sebagai “The virtual arena in which business actually is conducted, value is created and exchange, transaction occur, and one-to-one relation mature by using any internet initiative as medium of exchange” (Hartman: 2000).

Dalam perjalanannya, pelaku bisnis (baik instansi ataupun individu) harus mampu bertahan dan memenangkan persaingan guna eksistensi masa depan. Untuk itu, memahami dan mengerti tentang ekonomi digital sangatlah urgent. Mulai dari cara penggunaan, pengoperasian, perawatan aktif dan karakteristik dari konsep yang menjadi pondasi atau landasan. Hal ini penting diketahui, mengingat praktik ekonomi klasik dan modern sangat jauh berbeda.

Menurut survei yang diselenggarakan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2016 menunjukkan, jumlah total pengguna internet Indonesia mencapai 132,7 juta pengguna. Jika dikomparasikan dengan dua tahun sebelumnya, 2014, pengguna internet hanya sebatas 88,1 juta jiwa (Busurnews, 10/09/2017). Artinya, semakin bertambah tahun akan semakin banyak manusia yang berselancar di dunia internet (kian mendarah-daging). Tidak lain dan tidak bukan, salah satunya untuk menunjang terpenuhinya kebutuhan. Seperti seller sebagai penyedia barang/jasa dan buyer sebagai penikmat atau konsumennya.

 Kembali pada kesediaan pelaku ekonomi masif, Don Tapscoot menemukan formula dalam memahami karakteristik ekonomi media atau ekonomi digital. Diantaranya: 1) Knowledge; 2) Digitazion; 3) Virtualization; 4) Molecularization; 5) Internetworking; 6) Disintermediation; 7) Convergence; 8) Innovation; 9) Prosumption; 10) Immediacy; 11) Globlization, dan 12) Discordance, (Tapscoot: 1996). Sehingga diharapkan para pelaku bisnis modern dapat tetap bertahan dan bersaing secara sehat di kemudian hari.

Kaffahisme Perekonomian Indonesia

Meminjam istilah dari Zulfikar MS, Kaffahisme merupakan sistem ekonomi yang melibatkan partisipasi umat, membawa dampak positif terhadap lingkungannya serta menyadarkan keuntungan di dunia berasal dari besar kecilnya rezeki yang diturunkan Allah SWT. kepada umat (Zulfikar: 2014).

Kalimat yang merupakan cetusan konsep Kaffahisme Ekonomi di atas, merupakan sebagian dampak positif yang dirasakan masing-masing individu (dalam koridor pelaku atau pemain di dalamnya). Lain daripada itu, ekonomi digital mampu menumbuhkan generasi emas yang lebih selektif dalam memilih, cerdas mengaplikasikan, dan pintar untuk memanfaatkan segala aspek yang mendorong diri ke arah modernisasi zaman.

Dengan demikian, harapan yang secara tersirat disampaikan orang nomor satu di Jawa Timur tersebut akan menjadi nyata. Di samping dapat menjadi tumpuan daya saing nasional, Indonesia juga memiliki kesempatakan untuk menjadi pioner ekonomi digital dengan jumlah masyarakat terbanyak di asia.

 Akan tetapi yang menjadi problematika selanjutnya ialah, dengan lahirnya ekonomi digital ini terdapat efek negatif yang tidak main-main. Akibat disrupsi ekonomi dari revolusi digital, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan, “Indonesia akan kehilangan 50 juta peluang kerja.” Hal ini dikuatkan dengan prediksi McKinsey pada akhir 2017 yang menyatakan, sekitar 800 juta pekerja di seluruh dunia akan kehilangan pekerjaan hingga 2030 mendatang.

Akhirnya, timbullah kembali pertanyaan, apakah dengan lahirnya ekonomi digital di era milenial ini mampu meningkatkan kesejahteraan perekonomian secara ‘Kaffah’? atau bahkan menyisakan gumpalan sesak kepul asap dapur ekonomi klasik di tingkat perusahaan regional-nasional ‘kuno’ atau individu Gaptek? Lalu, bagaimana dengan pengangguran yang kian bermunculan menggenapi jumlah sebelumnya? Semoga ada jawaban!

 

Building Character Qualities: For the Smart, Pious, Honorable Nation

Ketentuan Pengguna

Semua isi yang ada di situs resmi UIN Sunan Ampel Surabaya boleh dilihat, disalin, dicetak, dan didistribusikan untuk tujuan non-komersial.

Statistik Website

shopify visitor statistics

Lihat Daftar Pengunjung Website

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

JL. A. Yani 117, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, 60237

+62 31 8410298

+62 31 8413300

humas@uinsby.ac.id

uinsa_surabaya

© Copyright 2018 - Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data