Rumah Gus Mus, UINSA, & Narasi Indonesia Damai

Dr. Zumrotul Mukaffa, M.Ag - 02 Mar 2018

Ini kali kedua, penulis mengikuti pengajian pada Jumat rutin di rumah KH. Mustofa Bisri –akrab disapa dengan Gus Mus. Kali ini penulis sowan bersama Tim Mengaji (mengasah jati diri) Indonesia. Tepatnya pada Jumat, 16 Pebruari 2018. Untuk kali ini suasana pengajian tampak sedikit berbeda dibanding dua minggu sebelumnya. Ada banyak petugas polisi yang berjaga-jaga sejak di pintu gang menuju kediaman Gus Mus.

“Biasanya tidak begini? atau karena dua minggu yang lalu kita hadir di saat para jamaah belum hadir dan kita berada di dalam Aula hingga jamaah bubar, sementara sekarang kita terlambat hadir?,” salah satu Tim Mengaji Indonesia bergumam sambil terus menyusuri jalan melewati ribuan para jamaah yang duduk lesehan dengan rapi di depan rumah-rumah penduduk dan sekitar aula tempat pengajian yang tepat bersebelahan dengan ndalem kasepuhan yang biasa digunakan Gus Mus menerima para tamu.

Dengan langkah yang penuh ewuh pakewo, Tim Mengaji terus berjalan diantara para jamaah sambil sayup-sayup terdengar suara Gus Mus yang mampu menghilangkan rasa lelah yang telah menempuh perjalanan panjang dari Surabaya.  Tim dengan mudah dapat menuju tempat mendekati ndalem kasepuhan karena memang jamaah pengajian ini tidak menutup jalan. “Monggo-monggo pinarak,” demikian para jamaah mempersilahkan kami yang baru saja datang seraya menggeser duduknya untuk memberikan tempat kepada kami meskipun mereka sendiri sudah duduk berhimpitan.

Inilah sebuah realitas kearifan yang masih tersisa dan selalu dirindukan di tengah hiruk pikuk perebutan “tempat” di hampir semua lini kehidupan. Jabatan tangan dan senyuman hangat dengan mata berbinar dari para jamaah menyambut kehadiran kami telah meluluhlantakkan keakuan yang terbentuk oleh dinding-dinding tinggi kota Surabaya. Bersama mereka seakan aroma wewangian surga terasa begitu dekat.  Batin dan pikiran pun terus bergulat merefleksikan setiap simbol yang muncul dari realitas pengajian di komplek Ponpes Raudlatut Tholibin, Rembang tersebut.

Pergulatan di hati dan pikiran itu lantas terhenti sesaat setelah terdengar bunyi microfon yang mengeraskan suara Gus Mus, yang memulai pengajian. Gus Mus menguraikan ayat-ayat al-Quran yang substansinya mengajak para jamaah untuk kembali pada hakikat manusia sebagai abdi Tuhan yang mukhlisin; orang-orang yang tulus. Menjadi orang yang di setiap helaan nafasnya terucap asma'-Nya, di setiap langkahnya didorong oleh keinginan kuat untuk dicintai-Nya, di setiap karya hidupnya dihasilkan dari dialog dengan Dia dan ayat-ayat-Nya, yang selanjutnya dikelola dan dimanfaatkan untuk-Nya.

Penjelasan Gus Mus disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh para jamaah dari berbagai lapisan masyarakat. Penulis sendiri tidak dapat sepenuhnya konsentrasi mendengarkan yang disampaikan karena sesekali harus menjawab pertanyaan para jamaah yang penasaran dengan kami yang mungkin terasa asing bagi mereka karena wajah kami tidak biasa mereka temui selama mereka mengikuti rutinan bahkan sejak orangtuanya Gus Mus, KH. Bisri Mustofa. Ada perasaan terganggu tidak dapat sepenuhnya menangkap yang disampaikan Gus Mus, tetapi membiarkan mereka yang menyapa dengan hangat dan tulus tentu saja tidak sampai hati dan malu dengan kearifan yang telah mereka lakukan.

 

Kurang lebih 15 menit menikmati kebersamaan dengan mereka, tiba-tiba rintik hujan sedikit menyirami jamaah pengajian. Mereka pun tidak beranjak dari tempat duduknya, mereka tetap tenang menikmati pengajian dalam suasana rintik hujan yang memang tidak sampai membasahi mereka. Tetapi penghormatannya kepada tamu yang membuat kami tersentuh dan menitikkan air mata karena mereka justeru memaksa kami untuk masuk ke ndalem. “mereka menyatakan “Panjenengan meniko tamu .... panjenengan tamu ... monggo-monggo mlebet ndalem .... teng ndalem kosong,” ujar beberapa jamaah kapada kami dengan tegas.

Tidak ingin ada keributan, karena yang mempersilahkan tidak hanya satu orang, kami pun terus beranjak masuk ke ndalem. Seperti para jamaah yang berada di luar, di dalam ndalem pun kami harus saling menyapa dan berbagi informasi, meski hanya sekedar menanyakan asal dan tujuan hadirnya. Tidak lama setelah itu Gus Mus pun mengakhiri pengajiannya dengan menyatakan wes sakmene ae ono tamu gedhe, jamaah pun perlahan-lahan meninggalkan tempat pengajian setelah secara bergiliran berjabatan tangan dengan kyai idolanya dengan berharap memperoleh keberkahan hidup dari Allah Swt., melalui orang-orang terdekatnya.

 

********

 

Seperti biasanya, setelah mengaji Gus Mus menerima tamunya di ndalem yang sederhana, tetapi sangat terasa keteduhan dan kesahajaannya. Rumah ini benar-benar rumah ummat. Jika dua minggu sebelumnya ada calon Wakil Gubernur Jateng Ida Fauziah beserta para anggota legislatif pusat maupun daerah, pada Jumat ini hadir Calon Gubernur petahana, Ganjar Pronowo dan calon wakilnya, Taj  Yasin bersama timnya. Rumah ini menyejukkan semua yang hadir untuk nuwon sewu dan tentu saja berharap mendapatkan simpatisan dan dukungan baik dari Gus Mus maupun jamaahnya. Sebuah contoh akhlaq seorang Guru Bangsa yang mengiringi langkah para calon pemimpin Propinsi Jateng ini dengan untaian doa: "Jika manfaat untuk diri, keluarga, bangsa, dan negara mudah-mudahan jadi, tetapi jika tidak ada manfaatnya mudah-mudahan tidak jadi", disertai dengan nasehat-nasehat ringan tapi sangat dalam maknanya bagi seorang pemimpin yang dituntut mengedepankan kepentingan bangsa dan negaranya.

Menariknya lagi, pada dhuha Jum'at kali ini, dari sekian banyak tamu yang hadir --baik secara individu maupun atas nama organisasi, baik yang hanya datang untuk mengaji dan silaturrahim maupun yang datang untuk konsultasi atau untuk mengundang Gus Mus untuk hadir di acara tertentu sebagaimana Tim Mengaji Indonesia --, ternyata juga hadir beberapa pendeta, biarawati beserta jamaahnya. Gus Mus tidak hanya disowani para tokoh lintas partai, organisasi, profesi, namun juga para tokoh lintas agama.

Dari sini, tampak bahwa kyai yang dikenal sebagai budayawan ini seakan sebagai oase di tengah gurun panas, yang menawarkan kesejukan dan kedamaian. Rumah Gus Mus ini bagaikan miniatur rumah besar kita INDONESIA, yang mendambakan hidup rukun, sejuk, dan damai. Masalahnya adalah mampukah kita menciptakan miniatur Indonesia di rumah kita, di institusi kita, di lingkungan kita?

Dengan usaha sekuat kemampuan kita, insyaallah miniatur Indonesia sejuk dan damai akan muncul & terasa di acara “Mengaji Indonesia” dari UINSA (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel) untuk Bangsa, yang akan digelar secara rutin tiga bulanan. Dari UINSA untuk Indonesia. Amien ya rabbal ‘alamin.

Building Character Qualities: For the Smart, Pious, Honorable Nation

Ketentuan Pengguna

Semua isi yang ada di situs resmi UIN Sunan Ampel Surabaya boleh dilihat, disalin, dicetak, dan didistribusikan untuk tujuan non-komersial.

Statistik Website

shopify visitor statistics

Lihat Daftar Pengunjung Website

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

JL. A. Yani 117, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, 60237

+62 31 8410298

+62 31 8413300

humas@uinsby.ac.id

uinsa_surabaya

© Copyright 2018 - Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data