Fondasi Perubahan

Dr. Muhamad Ahsan - 17 Apr 2018

Saat menjadi pendamping KKN Tahun 2010 di Desa Bareng Kecamatan Sekar, Bojonegoro rute menuju ke desa tersebut benar-benar menantang. Medan yang berbukit dan berbatu menjadi tantangan tersendiri bagi dosen pendamping lapangan. Selain medan berbukit dan berbatu, hamparan pemandangan yang indah dapat membangkitkan kerinduan saat menuju Desa Bareng. Kabut yang menyelimuti hutan jati di senja hari, telah menjadi penawar penat setelah berkeliling desa bersama mahasiswa.

Pada kunjungan berikutnya, terlihat banyak paving yang ditumpuk di mulut-mulut gang kecil sepanjang jalan menuju Desa Bareng. Informasi yang beredar, tumpukan paving tersebut adalah program dari petinggi kabupaten membangun jalan desa. Istilah kerennya pavingisasi. Bisa dibayangkan jalan dimulut gang  yang biasanya becek dan liat saat musim hujan akan terlihat lebih teratur dan rapi. Sungguh sebuah perubahan yang akan membangkitkan kegembiraan bagi wajah-wajah lugu penduduk di desa tersebut. Memang, jalan telah menjadi salah satu urat nadi perekonomian karena dapat mempersingkat waktu tempuh dan memangkas biaya logistik. Sama seperti argumen pemerintah saat ini yang  tengah gencar membangun infrastruktur jalan tol di mana-mana.

Keterkejutan muncul saat kunjungan berikutnya karena paving yang tersusun rapi telah berubah menjadi bergelombang. Usut punya usut, ternyata truk-truk yang keluar masuk mengangkut hasil pertanian dari desa telah menjadi penyebab pavingnya bergelombang. Rupanya muatan truk ditambah beban truk itu sendiri telah mengoyak struktur dari susunan paving yang rapi. Tanah sebagai pijakan atau fondasi ditambah pasir sebagai alas paving telah memberi perlawanan secara alami karena tidak mampu menahan beban truk beserta muatannya.

Ilustrasi paving bergelombang yang digambarkan di atas, juga sering kita temui di jalan-jalan raya penghubung antar kabupaten dan provinsi. Banyak yang mengistilahkannya dengan ‘aspal njengat’. Aspal njengat itu, jalan aspal yang bergelombang, retak dan keluar dari permukaan jalan aspal yang rata. Tentu aspal njengat ini sangat membahayakan pengguna jalan. Semoga pembaca dapat mengimajinasikan jalan aspal jengat tersebut karena tulisan ini tidak menghadirkan foto yang mampu menuntaskan imajinasi pembaca dengan jelas.

Semua yang diilustrasikan di atas sebenarnya hanya ingin menggambarkan sebuah  perubahan setengah hati. Mengapa dikatakan setengah hati?  Perubahan yang digagas tidak melihat kondisi internal dan eksternal. Lebih tegasnya tidak mampu memindai drivers (pemicu) perubahan dengan baik dan benar.

Dalam buku Beyond Change Management yang dibahas kawan-kawan manajemen semester 4 di kelas. Mereka membahas drivers perubahan dan mengambil simpulan dalam diskusi mereka, bahwa drivers itu banyak dipicu oleh external drivers seperti tuntutan pasar dan bisnis, organisasi pesaing, budaya kompetitor; sedang internal drivers lebih kepada pola fikir dan perilaku pemimpin (leader) dan karyawan (followers).

Sampai pertemuan ke 5, mereka juga sudah mampu memindai bahwa leader dalam organisasi harus memiliki kepekaan dan kesadaran yang diistilahkan dengan conscious.Mengetahui organisasinya berada di posisi developmental, transitional atau transformational. Bahkan, sampai artikel ini  ditulis kawan-kawan manajemen semester 4 ini juga sudah mampu membuat simpulan bahwa fondasi perubahan dalam organisasi haruslah kuat. Simpulan mereka dapat dikatakan relevan dengan cerita di awal tulisan yang menggambarkan bagaimana perubahan tanpa fondasi yang kuat akan berakhir dengan kegagalan atau bahkan kekecewaan.

Fondasi yang rapuh sebagai penyebab resistensi dapat terjadi karena perbedaan pandangan dari para profesional sebagai pemilik power (kuasa) dalam mencapai visi organisasi (Pieterse et al). Maka pemilik power sebagai profesional sebaiknya memiliki persamaan persepsi tentang pencapaian visi organisasi dengan motivasi “change or die”. Bila telah memiliki persepsi yang sama, maka pendekatan transformational change dapat dikatakan sebagai pilihan yang pas karena orientasinya tidak hanya perubahan perilaku dan budaya tetapi juga mindset sebagai yang utama. Hasil riset juga menunjukkan bahwa pendekatan tersebut lebih menunjukkan hasil yang positif bagi pengikut (followers) saat menyikapi kesalahan dalam proses perubahan.

Ah...saya jadi teringat cerita ustadz saat di SD Inpres dulu, bagaimana  Muhammad s.a.w muda merangkul semua kabilah yang ada ketika memindahkan batu hitam pasca pemugaran Ka’bah. Sebuah pesan yang bijak.

Bagaimana dengan organisasi anda?

Sumber bacaan:

Michelle C. Bligh, Jeffrey C. Kohles & Qing Yan. (2018). Leading and Learning to Change: The Role of Leadership Style and Mindset in Error Learningand Organizational Change, Journal of Change Management pp. 1-26

Jos H. Pieterse, Marjolein C.J. Caniëls, Thijs Homan. (2012). Professional discourses and resistance to change, Journal of Organizational Change Management, pp. 798-818.

Dean Anderson and Dian Ackerman Anderson. (2010). Beyond Change Management, How to Achieve Breakthrough Results Through Conscious Change Leadership. Published by Pfeiffer an Imprint of Wiley

Building Character Qualities: For the Smart, Pious, Honorable Nation

Ketentuan Pengguna

Semua isi yang ada di situs resmi UIN Sunan Ampel Surabaya boleh dilihat, disalin, dicetak, dan didistribusikan untuk tujuan non-komersial.

Statistik Website

shopify visitor statistics

Lihat Daftar Pengunjung Website

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

JL. A. Yani 117, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, 60237

+62 31 8410298

+62 31 8413300

humas@uinsby.ac.id

uinsa_surabaya

© Copyright 2018 - Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data