Change, Should We Believe in?

Achmad Room Fitrianto - 25 Jun 2018

Achmad Room Fitrianto*)

Change atau perubahan kadang kala menjadikan seseorang mengalami dilemma. Kadang kala dia harus bersusah payah menghadapinya atau malah orang lain “take it easy” dan cuek bebek menghadapinya. Menurut Ulrich Beck (1992;2) banyak factor yang mempengaruhi perubahan terutama perubahan sosial, gaya hidup, kondisi perekonomian, tuntutan masyarakat dan tentu saja globalisasi. Sklair’s (2002) malah melihat globalisasi adalah perangkat sosial yang mengevaluasi suatu lembaga. Malahan dalam prespective ekonomi, globalisasi bisa dilihat sebagai peningkatan ketergantungan terhadap pasar dan produksi antar negara yang bisa dilihat dari arus transaksi barang dan jasa, serta pergerakan modal dan transfer teknology (Bhagwati, 2004; 3).

Tahun 2018 dikenal dengan tahun perubahan, bukan apa apa karena ditahun ini terjadi “perubahan-perubahan” kepempimpinan daerah yang diawali dengan pemilu kada bersama, sampai sampai perubahan pucuk pimpinan ini juga dialami oleh UIN Sunan Ampel. Salah satu perguruan tinggi keagamaan tertua di Indonesia timur ini mengalami estafet kepemimpinan dari Prof Dr. Abd A’la M.Ag ke Prof Masdar Hilmy, MA, PhD. Menjadi menariki estafet kepemimpinan ini bila disimak pada acara serah terima jabatan yang dilakukan pada 21 Juni 2018. Pejabat lama mengatakan “belum bisa mengerjakan apa apa” dan pejabat baru malah menunjukkan beberapa “karya” pejabat lama dan akan meneruskan hal hal yang baik dan berusaha menjadikannya lebih baik legasi yang telah diberikan. Prosesi serah terima ini mengingatkan akan kaidah  “al-Muhafadhotu 'ala qadimi al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah” sungguh satu hal yang pas menjaga tradisi-tradisi lama yang baik sembari menyesuaikan dengan tradisi-tradisi modern yang lebih baik.

Tuntutan dunia yang semakin mengelobal tidak memungkiri menjadikan UINSA harus berbenah. Kenapa harus berbenah ? karena globalisasi menjadikan dunia ini tanpa batas. “borderless state” katanya. Ohmae, 1990;18) melihat kondisi borderless state ini menciptakan peluang untuk mengepakkan sayap dan jaringannya. Memperbesar ceruk pasar katanya. Melihat premise ini, sebagaimana di ungkapkan oleh rektor baru UINSA Prof. Masdar, yang dimuat oleh Jawa Pos sehari setelah pelantikannya bahwa UINSA kedepan akan mentargetkan 20% mahasiswa berasal dari luar negeri (baca Global). Sekilas ini ibarat mimpi, namun bukan berati tidak mungkin dicapai. Menjadikan UINSA world class university bukan berarti akan mengalahkan Harvard, Oxford atau Al Azhar namun membawa characteristic universitas universita global kedalam nilai nilai akademisi di UINSA.  Menambah “international outlook”, begitu tribun news mengambarkannya. Yang ditandai dengan penguatan indeksitas hasil penelituan baik dosen maupun mahasiswa ke jurnal international ataupun dengan menginisiasi program pertukaran international  serta beberapa penambahan pada jumlah visiting professor dari beberapa universitas partner di luar negeri.

Memang dengan tuntutan internationalisasi karya ilmiah dan adanya pengajar asing yang dilibatkan bukannya tanpa halangan, hambatan, dan tentangan. Kondisi “boarderless state” mengharuskan untuk melakukan innovasi dan pembangunan jaringan dan itu bukan hal yang mudah. Kondisi resistensi dan hambatan ini diungkapkan oleh Henry Mintzberg’s bila globalisasi adalah suatu kondisi dimana masyarakat mengalami condisi chaos, ketidak stabilan dan goncangan. Namun demikian usaha usaha upgrade dan keterbukaan akan perubahan menjadikan bisa lebih beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi. Ditambahkan lagi bila dilengkapi dengan usaha usaha peningkatan kualitas diri dan layanan menjadi kunci menghadapi globalisasi.

Kedua, Globalisasi merupakan sosial katalisator untuk melakukan konstruksi sosial. Konsepsi twin tower di UINSA merupakan konsep pemaduan antara Islamic studies dengan ilmu pengetahuan dan technology yang membebaskan belenggu normative dalam kajian klasik dogma agama. Terobosan ini menjadikan banyak dibukanya program study baru non keagaamaan yang masih memiliki matakuliah dengan dasar dasar keagaamaan.  Pada masa banyak tafsir keagamaan hanya berkutat pada benar salah yang kaku, yang bermuara pada tindakan kekerasan kepada mereka yang tidak sepehaman menjadikan konsepsi twin tower ini sebagai alat katalisator untuk memodernisasi proses pengajaran dalam nilai nilai Islam. Bukan bermaksud mengganti nilai nilai yang sudah diajarkan namun memberikan pendekatan yang lebih kekinian yang bisa diterjemahkan secara mudah dan dipraktekkan dengan rasionalitas kekinian.

Ketiga, Globalisasi , diakui atau tidak, menciptakan jenjang yang semakin lebar antara orang miskin dan orang kaya. John Pilger malah menggambarkan gap yang dihasilkan globalisasi dalam bentuk ulasan dari hasil perusahaan multinasional yang cenderung mengeruk keuntungan yang besar ketika mereka berinvntasi di negara berkembang. Kondisi kesenjangan yang diciptakan oleh oleh globalisasi sebetulnya bisa dijembatani oleh konsepsi zakat. Zakat tidak hanya berupa kewajiban untuk menyerahkan sekian persen hartanya untuk di dermakan, namun ini dilihat dari bagaimana konsepsi berbagi dikedepankan dan pelarangan untuk melakukan ekploitasi yang berlebihan. Pembagian zakat kepada tujuh “asnaf” bisa dilihat sebagai model pemberdayaan. Bukan hanya sekedar memberi untuk makan, namun bisa dilihat sebagai process interaksi, diskusi, dan diseminasi guna mensharing dan menularkan ketrampilann, pengetahuan, etos dan semangat untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.  Pengenalan konsep Zakat dengan pendekatan modern (baca: Pendekatan Sustainability Development Goals) hanya bisa dilakukan oleh sebuah perguruan tinggi yang memiliki pemahaman yang paripurkan terhadap nilai nilai keutamaan kitab suci yang diterjemahkan dalam konteks keninian yang dimaksudkan bukan untuk menjudge orang lain lebih jelek.

Terlepas dari tiga aspect globalisasi diatas yang harus disikapi, terlihat bahwa kreatifitas dan pengetahuan yang mumpuni menjadi kunci guna membangun lembaga pendidikan tinggi yang berkelanjutan dan memiliki daya saing. Kondisi ini dilihat Johnston (2000) sebagai bentuk pengintensifikasian dari nilai, pengetahuan, ketrampilan serta penguasaan akan teknologi dalam memunculkan keunggulan bersaing. Akankah UINSA bisa menjawab tantangan ini? Bisa!, asalakan bisa melepaskan diri dari belengu“bureaucratic system”  yang “mbundeli” dan muter seperti “kitiran” serta membangun Lingkungan pendidikan yang transparent dan accountable serta mampu melakukan “frugal innovation” yang menghasilkan pola pendidikan tinggi yang murah namun tidak murahan.  Namun demikian kondisi ini tidak bisa kita bebankan hanya kepundak pimpinan, gerak bersama sebagai komunitas dan keluarga besar adalah foundasi mencapai “world class university”.

 

Achmad Room Fitrianto adalah Adalah pemerhati masalah sosial kemasyarakatan, reformasi pemerintahan, tata kota dan pengembangan usaha kecil menengah. Peneliti pada Lembaga Pengembangan Kewirausahaan dan Bisnis Islam UINSA dan Pengajar pada Departement Ilmu Ekonomi, FEBI UINSA

 

Bibliography

Beck, U. 1992. Risk Society, Towards a New Modernity. London: Sage Publications.

Bhagwati, J. 2004. In Defense of Globalization. New York: Oxford University Press.

Johnstone. A. 2008. Individualisation and the de-traditionalised life. Cities and Innovation Lecture material week 3. Murdoch University August 19, 2008.

Ohmae,K. 1990. The Borderless world: power and strategy in the interlinked economy. New York : Harper Perennial.

Pilger,J. 2002. The new rules of the world. London: Verso

Sklair, L. 2002. Globalization: Capitalism and its Alternatives. Oxford: Oxford
University Press

Building Character Qualities: For the Smart, Pious, Honorable Nation

Ketentuan Pengguna

Semua isi yang ada di situs resmi UIN Sunan Ampel Surabaya boleh dilihat, disalin, dicetak, dan didistribusikan untuk tujuan non-komersial.

Statistik Website

shopify visitor statistics

Lihat Daftar Pengunjung Website

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

JL. A. Yani 117, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, 60237

+62 31 8410298

+62 31 8413300

humas@uinsby.ac.id

uinsa_surabaya

© Copyright 2018 - Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data