Wajah kita sebelum dan sesudah suksesi kepemimpinan

Aun Falestien Faletehan - 26 Jul 2018

Dalam kajian organizational behavior, momen suksesi kepemimpinan merupakan salah satu periode yang paling dinamis dalam organisasi. Kita terkadang melihat banyaknya kemunculan orang-orang baik, namun juga acapkali mendengar banyak aib. Fenomena pertama amat jelas digunakan untuk mendongkrak elektabilitas dan strategi pemasaran sang calon pejabat, sementara situasi yang kedua biasanya digunakan untuk kampanye hitam dengan tujuan menurunkan tingkat elektabilitas oposisi. Bagi pengamat, terutama mereka yang tidak berkeinginan masuk dalam jajaran struktur, mungkin mereka terasa geli bila melihat perubahan drastis perilaku seseorang menjelang pemilihan kepemimpinan. Sekarang nampak sangat santun, meskipun dulu tidak seperti itu. Sekarang nampak sangat tidak bermoral, sekalipun dulu termasuk orang yang sangat religius. Periode menjelang suksesi kepemimpinan merupakan fase yang paling sulit melihat karakter sejati seseorang. Kita akan dibutakan dengan variasi drama-pencitraan, relasi pertemanan atau ‘titipan’, serta informasi yang belum tervalidasi. Meminjam istilah dalam Ilmu Ekonomi, kita memasuki kondisi information asymmetry karena tidak memiliki informasi yang seutuhnya tentang bakal calon pejabat yang akan memimpin kita kelak. Bentuk transaksi kita adalah membeli kucing dalam karung.

Setelah suksesi terjadi, suasana organisasi terlihat lebih dinamis dari sebelumnya. Berdasarkan sejumlah telaah riset sebelumnya, akan banyak orang yang akan berseloroh seperti “ternyata ia begini ya orangnya” atau “waduh kok nggak sama dengan gayanya sebelum menjabat ya”, dan frase-frase sejenisnya. Kita akan menyaksikan sisi orisinalitas dari karakter seseorang ketika sedang memimpin. Jabatan, jika menggunakan bahasa agama, memang dikategorikan amanah. Bila kita melihat perubahan drastis karakter seseorang mulai dari masa sebelum dan masa sesudah menjabat, janganlah menyalahkan jabatan; semisal karena tidak kuat menanggung amanah. Jabatan sebenarnya tidak pernah merubah karakter seseorang. Jabatan hanya membuka potret asli seseorang.

Kritik terhadap pejabat adalah hal yang biasa, dan sudah semestinya diperlukan untuk perbaikan organisasi, walaupun kita terkadang amat sulit untuk membedakan antara kritik untuk kemajuan organisasi atau kritik karena ketidaksukaan secara personal dengan pejabat terkait. Salah satu hal yang menarik untuk dikaji adalah proses perubahan seseorang antara sebelum dan sesudah menjabat dalam hal memberikan kritik. Setidaknya ada empat tipe individu, dalam kaitannya antara bekerja secara profesional di kala menjabat dan memberikan kritik kepada pejabat di kala ia tidak mendapatkan kursi pimpinan. Keempat tipe tersebut adalah sebagai berikut:

1) Orang yang mampu bekerja sewaktu menjabat, sekaligus mampu memberikan kritik di kala tidak                 menjabat.

2) Orang yang mampu bekerja sewaktu menjabat, namun tidak mampu memberikan kritik di kala tidak             menjabat.

3) Orang yang tidak mampu bekerja sewaktu menjabat, namun mampu memberikan kritik di kala tidak             menjabat.

4) rang yang tidak mampu bekerja sewaktu menjabat, sekaligus tidak mampu memberikan kritik di kala             tidak menjabat.

Periode pasca suksesi kepemimpinan akan melahirkan banyak fenomena negatif namun sangat menarik. Misal, seseorang yang tidak lagi menjabat amat mudah terkena post power syndrome karena gagal menghilangkan bayang-bayang kebesaran jabatannya di masa lalu. Selain itu, putusnya sistem kerja organisasi karena tidak mulusnya suksesi kepemimpinan juga bisa terjadi. Sebagai misal, tidak adanya upaya pengalihan seluruh data dan aset kepada pejabat selanjutnya, padahal setiap organisasi memiliki sejarah dan memori sendiri. Orang bisa saja masuk dan keluar dari struktur, namun riwayat dan DNA organisasi tersebut tetaplah tidak tercabut. 

Munculnya keempat tipologi individu di atas juga menjadi contoh fenomena menarik yang akan kita saksikan. Seperti apakah tipe seseorang yang memimpin kita? Tipe pertama jelas adalah idaman semua bawahan. Bawahan akan memiliki persepsi positif: “Tindakan pejabat ini sesuai dengan kritiknya sewaktu ia belum menjabat. Ia konsisten.”  Tipe kedua juga setidaknya masih akan disayang. Bawahan bisa saja berpikir: “Bapak/Ibu ini dulu sangat diam dan tampak apatis dengan kondisi organisasi, tapi sekarang sangat profesional dalam bekerja. Kelihatan lebih bertaji.” Yang penting, dua tipe teratas berpotensi untuk terus didukung bawahan karena dalam posisi mampu menjabat: mampu berpikir inovatif terkait program kerja dan mampu bergaul dengan skill sosialnya. 

Tipe ketiga dan keempat mungkin yang akan banyak memenuhi cerita gosip di kantin, group WhatsApp atau bahkan di atas meja kerja bawahan. Bawahan mungkin masih memaklumi tipe yang terakhir karena menyadari jika pimpinan ini tidak kritis sewaktu dulu tidak menjabat. Mereka mungkin berpikir: “Bapak/Ibu ini kurang sigap dalam menjabat. Tapi ya pantas sih. Dulu kan sebelum menjabat, orangnya diam, jarang aktif berkontribusi bagi perkembangan organisasi.” Namun berbeda halnya untuk tipe ketiga, ekspektasi tinggi bawahan akan berubah menjadi kekecewaan yang amat dalam. Ini ibarat melihat pengamat sepak bola yang tidak memiliki skill namun tiba-tiba harus bermain bola. Ia selalu berteriak keras dan bahkan menghina buruknya permainan sepak bola yang ditontonnya. Akan tetapi tatkala ia turun di lapangan, cara bermainnya tidak lebih bagus dari pemain yang dikritiknya.

Salah satu mistikus terbesar Islam, Rumi, berkata: “People of the world don’t look at themselves, and so they blame one another.” Setiap orang selalu lebih suka melihat, menilai dan menyalahkan orang lain; daripada sibuk mengevaluasi diri sendiri. Dalam organisasi yang paling kental dengan tradisi keislaman sekalipun, kebiasaan ini akan selalu muncul. Pemimpin, dalam semua levelnya, adalah pemain panggung yang menjadi sorotan jajaran bawahan dan publik. Bismillah, bermainlah dengan indah dan amanah. Bersiap dikritik dan terus melejit. Jadikan penilaian orang lain sebagai rasa sayangnya mereka terhadap perkembangan organisasi. Khalifah Umar bin Khattab diriwayatkan pernah merasa sedih tatkala tidak ada lagi rakyat yang berani melakukan kritik atas kepemimpinannya. Supaya mobil tetap di jalur yang tepat, terkadang diperlukan suara klakson kencang dari mobil lain yang ada di belakangnya.   

Building Character Qualities: For the Smart, Pious, Honorable Nation

Ketentuan Pengguna

Semua isi yang ada di situs resmi UIN Sunan Ampel Surabaya boleh dilihat, disalin, dicetak, dan didistribusikan untuk tujuan non-komersial.

Statistik Website

shopify visitor statistics

Lihat Daftar Pengunjung Website

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

JL. A. Yani 117, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, 60237

+62 31 8410298

+62 31 8413300

humas@uinsby.ac.id

uinsa_surabaya

© Copyright 2018 - Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data