BERSERI WALAU TAK DIBERI

Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag - 06 Aug 2018

http://medsoskini.blogspot.com/2017/11/

 

 

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ٦٠ 

 

Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan doamu. Sungguh, orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina-dina" (QS. Al Mukmin [40]: 60)

 

            Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan kekuasaan-Nya dalam penciptaan langit, bumi dan manusia. Tapi sayang, hanya sedikit manusia yang memahaminya. Sebagai kelanjutan dari ayat-ayat tersebut, ayat yang dikutip di atas memerintahkan kita meminta pertolongan kepada Allah Yang Maha Hebat itu. Semakin sering kita memohon, semakin senanglah Allah, sebab itu berarti pengakuan kita akan kebesaran-Nya, sekaligus kelemahan kita di hadapan-Nya. Sebaliknya, orang yang tidak meminta kepada-Nya dipandang congkak, sebab ia merasa bisa hidup tanpa Allah.

            Ayat di atas juga berisi janji Allah untuk tidak akan mengecewakan semua peminta, dan Ia tidak akan ingkar janji. “Sungguh Allah tidak akan mengingkari janji” (QS. Ali Imran [3]: 9). Abu Hurairah r.a bercerita, Nabi SAW bersabda, “Setiap doa muslim pasti dikabulkan Allah. Adakalanya dipercepat terkabulnya di dunia, atau ditunda kelak di akhirat, atau diampuni dosa-dosanya sesuai dengan doanya, asalkan doa itu bukan untuk perbuatan dosa atau memutus silaturrahim.”

            Berdasar hadis di atas, ada tiga macam respon Allah terhadap doa manusia, yaitu KTP (Kabul, Tunda, Pengganti). Pertama, kabul, yaitu dikabulkan persis sesuai dengan permintaan, sebagaimana dialami Nabi SAW. Ketika ia sedang berapi-api menyampaikan khutbah, tiba-tiba seorang pria interupsi, “Wahai Nabi, Madinah sedang paceklik. Hujan sudah lama tidak turun, sehingga beberapa ternak mati, dan kita juga kesulitan air. Saya mohon tuan berdoa agar Allah menurunkan hujan.” Nabi SAW lalu melihat langit sejenak dan berdoa, dan arak-arakan mendung tebal lalu menutup langit, lalu tidak lama kemudian, hujan turun.

            Pada Jum’at berikutnya, pria tersebut mengulang interupsinya, “Wahai Nabi, sekarang Madinah sudah kelebihan air, sehingga banjir menggenang di beberapa tempat. Saya mohon tuan berdoa agar hujan berhenti.” Dengan sedikit senyum, Nabi berdoa, “Allahumma hawalaynaa, walaa ‘alaynaa (wahai Allah, hentikan hujan di daerah ini, dan alihkan ke daerah lain).” Benar-benar terkabul, hujan berhenti di Madinah, dan beralih ke daerah lain (HR. Al Bukhari).

            Itulah contoh respon doa yang terkabul secara langsung dan persis sesuai dengan permintaan. Dalam hal ini, jangan kemudian mengira doa Nabi selalu terkabul. Puluhan tahun Nabi berdoa untuk pamannya, Abu Thalib, tapi ia tetap kafir sampai wafatnya. Nabi sedih, sebab sang paman itulah yang menyelamatkannya dari beberapa kali pembunuhan orang kafir. Doa Nabi Nuh a.s juga tidak dikabulkan, sehingga anaknya tetap kafir dan mati ditelan banjir bandang.

       Kedua, tunda, artinya kadangkala Allah menunda mengabulkan sebuah doa dalm waktu yang lama, bahkan bisa saja dikabulkan setelah yang berdoa itu meninggal dunia. Itulah yang dialami Abu Bakar r.a dan istrinya. Mereka berdua bertahun-tahun berdoa agar anaknya, Abdurrahman masuk Islam (lihat QS. Al Ahqaf [46]: 17), tapi, tetap saja ia kafir  sampai sang ibu wafat. Bahkan, ia pernah mengajak sang ayah duel di medan perang. Baru setelah ibunya wafat, Abdurrahman masuk Islam, dan sejak itu, ia lengket dengan Nabi SAW dan diberi kehormatan menyediakan siwak pembersih gigi pada detik-detik terakhir wafatnya Nabi SAW. Jadi, musibah yang kita alami merupakan ujian, dan menunggu terkabulnya doa adalah ujian berikutnya. Jika Anda tergesa-gesa untuk dikabulkan, maka Anda mendikte Allah sesuai dengan kemauan Anda. Nabi SAW bersabda, “Doa seorang di antara kalian akan dikabulkan Allah, selama ia tidak tergesa-gesa dan berkata, ”qad da’awtu rabbi, falam yastajib li (saya sudah berdoa kepada Tuhanku, tapi mengapa Ia tidak mengabulkanku)” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a). Berdoalah, dan berpasrahlah kepada Allah, sebab Dialah Allah Yang Maha Pintar untuk memilihkan hari yang terbaik kapan Ia mengabulkannya.

            Ketiga, pengganti, yaitu doa kita tidak dikabulkan sesuai dengan permintaan, tapi diberi pengganti yang lebih baik. Ada kisah menarik. Seorang mahasiswa di perguruan tinggi meminta motor kepada ayahnya, penjual kerupuk keliling dari kampung ke kampung. Sang ayah tidak membelikan motor atas pertimbangan tertentu. Sebagai gantinya, ia membeli seekor sapi kecil. Si anak protes, marah dan tak mau lagi membantu ayahnya menggoreng krupuk dan mengantarnya ke warung-warung sebagaimana biasa, karena permintaannya tidak dipenuhi. Setahun kemudian, sapi itu beranak kembar, dan tahun berikutnya, dua sapi itu layak jual dengan harga yang mahal. Maka ketika sang anak membutuhkan banyak biaya untuk praktikum, kuliah lapangan, penyusunan skripsi, wisuda, dan biaya-biaya lainnya yang biasanya menumpuk pada akhir studi, sang ayah menjual dua sapi itu sekaligus induknya untuk menutup semua biaya kuliah. Ternyata, masih ada sisa uang, dan itulah yang akan dipakai untuk mengkhitankan adiknya yang duduk di kelas dua SD. Pada upacara wisuda, sang anak yang sedang memakai toga tiba-tiba histeris mencari orang tuanya dan bersujud di kaki mereka. Sambil memegang map ijazah di tangan kanannya, ia menangis “Wahai ibu, wahai ayah, terima kasih engkau berdua telah mengantarkan aku menjadi sarjana. Maafkan aku, karena pernah jengkel kepadamu. Ternyata engkau mempunyai perencanaan yang mulia demi masa depanku.” Kedua orang tua yang bahagia itu ikut hanyut menangis, sedang adiknya duduk jongkok dengan mengelus punggung kakaknya sambil berkata, “Bangkitlah kak, nanti kita selamatan kesarjanaan kakak, dan aku dikhitan.”

            Nah, itulah ilustrasi sederhana, bagaimana Allah memberi pengganti atas permintaan kita, karena Allah paling tahu apa yang terbaik untuk masa depan kita. Allah mempunyai perencanaan yang jauh lebih sempurna daripada Anda, hanya saja Anda tidak mengerti rahasia di balik semuanya. Ketahuilah, bisa saja kelak di akhirat, Allah berkata kepada penghuni surga yang sedang menikmati hidangan yang disuguhkan bidadari cantik, “Nikmatilah surga yang indah ini selamanya sebagai pengganti doa kalian yang tidak Aku kabulkan di dunia.”

            Dengan berbekal KTP (Kabul, Tunda, Pengganti), tersenyumlah dan bersenanglah, sebab Allah sedang menyiapkan pengganti yang terindah untuk doa Anda. Sekarang, saya yakin, muka Anda tetap berseri walau Anda tidak diberi, dan itulah cara ber-Tuhan yang terpuji.  

       

Referensi: (1) Abdul hadi, Senyum Indah Kanjeng Nabi, DIVA Press, Yogyakarta, 2016, p. 63, (2) Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, 2015, cet. XII. P. 155, (3) Moh. Ali Aziz, Doa-Doa Keluarga Bahagia, Penerbit Kun Yaquta Foundation dan PT Duta Aksara Mulia, Surabaya, 2014, cet. III. P. 109, (4) Haddad, Imam Habib Abdullah, Al Nashaihud Diniyyah Wal Washaya Al Imaniyah, CV. Toha Putra, Semarang, 1993, p. 249. (5) Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz 24,Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p.161-164

Surabaya, 26/5/2018

Building Character Qualities: For the Smart, Pious, Honorable Nation

Ketentuan Pengguna

Semua isi yang ada di situs resmi UIN Sunan Ampel Surabaya boleh dilihat, disalin, dicetak, dan didistribusikan untuk tujuan non-komersial.

Statistik Website

shopify visitor statistics

Lihat Daftar Pengunjung Website

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

JL. A. Yani 117, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, 60237

+62 31 8410298

+62 31 8413300

humas@uinsby.ac.id

uinsa_surabaya

© Copyright 2018 - Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data