PSEUDO-SCIENCE, NOETIC-SCIENCE DAN PSIKOLOGI TRANSPERSONAL

Rangga Prasetya Aji Widodo - 07 Nov 2018

PSEUDO-SCIENCE,

NOETIC-SCIENCE DAN PSIKOLOGI TRANSPERSONAL

Oleh: Rangga Prasetya Aji Widodo*

 

 ANGGAPAN  MASYARAKAT  TENTANG DISIPLIN PSIKOLOGI

“Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia yang dikaji secara ilmiah,” begitu pengertian pada buku Psikologi Umum dalam Lintasan Sejarah karya Drs. Alex Sobur, M.Si serta penjelasan dosen pengampu mata kuliah Psikologi Umum, Rizma Fithri, S.Psi, M.Si, ketika semester satu lalu[1]. Namun masyarakat seringkali mengartikan berbeda mengenai psikologi, entah ketika naik angkutan umum, duduk di halte bus, makan di kantin kampus, atau bercengkrama dengan teman jurusan lain, pertanyaan sama yang mereka ajukan adalah, “Kalau jurusan psikologi, berarti kamu bisa membaca karakterku, coba kamu baca, aku ini orangnya bagaimana?” sambil memasang wajah tidak sabar dan penasaran.

          Psikologi tidak demikian, perlu kajian ilmiah seperti pengertian yang sudah dijelaskan di awal, karena ada beberapa instrumen, asesmen, dan tes psikologi yang diperlukan untuk menggali data sebelum memberikan diagnosis atau kesimpulan mengenai kejiwaan dan kepribadian seseorang. Tidak bisa ujug-ujug membeberkan kejiwaan dan kepribadian seseorang tanpa melalui instrumen, asesmen dan tes psikologi, kecuali orang tersebut mempunyai teknik penggalian data sendiri, kendati  teknik  itu tidak termasuk metode ilmiah: pseudo-science[2].

          Dalam mata kuliah Asesmen Kepribadian dan Asesmen Kognitif, ada materi yang membahas tentang instrumen untuk menggali data mengenai kepribadian dan tingkat kecerdasan subjek/klien. Intelligenz Struktur Test (IST), Culture Fair Intelligence Test (CFIT), Skala Binet, dan Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS) merupakan alat tes pengukur kecerdasan yang sering digunakan. Sedangkan, BAUM, Draw A Person (DAP), House Tree Person (HTP), Dominance Influence Steadiness Complience (DISC), WARTEGG, dan sebagainya, merupakan alat ukur dalam asesmen kepribadian seseorang. Masih banyak lagi alat tes psikologi untuk menggali data kejiwaan, kepribadian dan kecerdasan seseorang[3]. Wawancara dan observasi juga menjadi teknik penggalian data utama selain menggunakan alat tes.

          Ketika mengerjakan tes psikologi, kondisi ruangan yang kondusif, kesehatan tubuh subjek, kalimat instruksi yang digunakan tester, juga perlu diperhatikan karena akan mempengaruhi hasil tes tersebut. Sehingga, dari sini kita bisa menarik kesimpulan sederhana, bahwa untuk mengetahui tingkat kecerdasan, kepribadian, atau diagnosis gangguan kejiwaan seseorang, perlu melibatkan teknik penggalian data yang ilmiah, bukan dengan sekali bincang di dalam angkutan umum, di halte bus, di ruang kelas, di kantin kampus, atau ketika ngobrol di warkop bersama teman jurusan lain yang memasang wajah tidak sabar dan penasaran.

 

KRISIS RUANG  LINGKUP  ANTARA  PSIKOLOGI DAN PSEUDO-SCIENCE

Phrenology atau frenologi adalah  ilmu semu yang berupaya mempelajari hubungan antara karakter seseorang dengan tengkorak manusia. Seringkali kita membaca di website atau menonton video yang membahas hubungan bentuk tengkorak/wajah manusia dengan kepribadiannya, misalkan bentuk persegi, persegi panjang, oval, berlian, atau segitiga, diikuti penjelasan kepribadian pada masing-masing bentuk tengkorak/wajah tersebut[4]. Selain bentuk tengkorak/wajah, ada juga cara untuk menelisik kepribadian berdasarkan tanggal lahir, golongan darah, cara berpakaian, tanda tangan, zodiak, bentuk jari tangan dan kaki, postur tubuh, warna cairan empedu, cara duduk, cara tidur, kegiatan yang disukai atau hobi, dan berbagai hal sejenis lainnya, seringkali digunakan sebagai referensi/sumber untuk mengetahui kepribadian seseorang dengana teknik penggalian datanya sendiri. Mengenal kepribadian dengan menggunakan tengkorak/wajah, tanggal lahir, golongan darah, dan sebagainya, merupakan contoh pseudo-science, ilmu semu, merupakan pengetahuan, metodologi, keyakinan, atau praktik yang diklaim sebagai ilmiah tetapi tidak mengikuti metode ilmiah. Ilmu semu mungkin terlihat ilmiah, tetapi tidak memenuhi persyaratan metode ilmiah yang dapat diuji dan seringkali berbenturan dengan kesepakatan/konsensus ilmiah yang umum[5].

          Dalam psikologi, pembahasan untuk membuat kesimpulan mengenai kepribadian dan kecerdasan manusia, begitu sukar untuk diketahui batasannya, apakah teknik penggalian data yang digunakan termasuk metode ilmiah, atau sekadar terlihat ilmiah, namun masuk dalam pseduo-science. Sedangkan pengertian metode ilmiah adalah proses keilmuan dalam mendapatkan pengetahuan secara sistematis melalui bukti fisis (berupa jasmani, ragawi, empiris, kenyataan, materi yang dapat diakses oleh panca indra manusia)[6]. Psikologi masih belum tegas, atau masih buram dan kebingungan, dalam memberi batasan antara metode ilmiah untuk menghasilkan ilmu dalam psikologi dan pseudo-science. Namun bukan berarti, pseudo-science salah dan tidak boleh digunakan. Pseudo-science bisa digunakan sebagai alternatif, ketika metode ilmiah yang digunakan psikologi, belum melakukan penelitian, instrumen dalam penggalian data untuk menghasilkan pengetahuan dari objek tersebut.

          Akhirnya, ketika kita angkat kembali contoh di awal peragraf tadi, mengenai pertanyaan masyarakat ketika bertemu, duduk dan berbincang di angkutan umum, terminal, halte bus, ruang kelas, kantin kampus, pasar tradisional, atau dalam berbagai momen lain, kita bisa menjawab dengan mudah dan membenarkan pertanyaan, “kalau jurusan psikologi, berarti kamu bisa membaca karakterku, coba kamu baca, aku ini orangnya bagaimana?” menjadi hal yang tidak sulit dan tidak membutuhkan waktu lama untuk menelisik kecerdasan dan kepribadian penanya ketika kita menggunakan teknik-teknik dalam pseudo-science. “Iya, saya akan membeberkan semua bagaimana kepribadian Anda dalam waktu yang singkat,” tutur mahasiswa psikologi yang menggunakan pseudo-science ketika ditawar membaca kepribadian salah satu penumpang angkutan umum.

          Berikutnya mahasiswa psikologi itu akan mengamati bagaimana bentuk wajah penumpang itu, guratan di dekat matanya, garis tangannya, cara berbicaranya, penampilannya, tulisan dan tanda tangannya, dan lain-lain, lantas setelah mengamati itu semua, dibuatlah kesimpulan bahwa, kepribadian si penumpang adalah A, B, C dan D. Lantas si penumpang tidak percaya, ada yang cocok, ada pula yang tidak cocok, yang dilanjut dengan revisi pembacaan kepribadian dari si penumpang, bahwa diri saya sebetulnya bukan begitu tetapi begini. Akhirnya, tidak ada informasi pasti yang diperoleh dari teknik penggalian data dan analisis yang seadanya, tidak sesuai metode ilmiah.

          Dari hasil pengamatan saya, kebanyakan ilmu semu, atau pseudo-science, seringkali ditemukan pada konsep konvensional sehingga berbaur dengan mitologi, metafisis, budaya, seperti membaca primbon, menghitung weton, pemberian nama, ritual-ritual tertentu yang termasuk pamali, dan sebagainya. Juga pada konsep yang terlalu populer, mudah, instan di era modern ini, seperti tes-tes online dalam mengukur tingkat kecerdasan dan mendeskripsikan kepribadian yang banyak tersebar di internet, aplikasi android, atau buku-buku psikologi populer[6], seperti cara mendeteksi kebohongan, tanda-tanda orang yang cinta dengan kita, bagaimana orang bila sedang cemburu, dan lain-lain. Justru masyarakat kita, lebih suka mengonsumsi buku populer seperti itu, bisa karena faktor penasaran, efektivitas, atau termakan judul buku yang sengaja untuk meningkatkan nilai jual. Karena dinilai praktis, bisa diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari, mudah dikerjakan juga, lantas masyarakat tidak seberapa mempertimbangkan, apakah teknik yang digunakan buku itu untuk mengetahui kecerdasan dan kepribadian seseorang, dapat dipertanggung jawabkan?

          Maka dari itu, agaknya psikologi perlu mempertimbangkan lagi mengenai batasan dengan pseudo-science, diberi batas yang tebal atau justru dibiarkan tipis karena bisa menyesuaikan kasus yang dihadapi,karena banyaknya pembahasan psikologi yang tersebar di internet dan aplikasi android identik dengan pseudo-science, tanpa menggunakan metode ilmiah yang jelas, hanya mengandalkan observasi murni dengan mengamati organ-organ tubuh subjek, jawaban dari triple-choice (gambar-gambar) pada aplikasi kepribadian[7].

 

NOETIC-SCIENCE DAN PERANNYA SEBAGAI JEMBATAN

Noetic-science (no-et-ic sci-ences): A multidisciplinary field that brings objective scientific tools and techniques together with subjective inner knowing to study the full range of human experiences (Bidang multidisiplin yang membawa/membahas alat dan teknik ilmiah objektif dengan pengetahuan batin yang subjektif untuk mempelajari berbagai pengalaman manusia)[8]. Sederhananya, noetic-science merupakan cabang ilmu yang menjadi jembatan antara metafisika dan fisika, antara immaterial dan material, tampak dan tidak tampak, kasat mata dan tidak kasat mata, pembahsan mengenai energi dan materi, serta jembatan/perantara bagi dualitas-polaritas lain.

          Bisa disebut bahwa, noetic-science  merupakan penyelemat, jembatan, perantara untuk mempelajari hal-hal metafisis agar tidak masuk dalam kategori pseudo-science. Sekaligus menjadi kabar bagus juga untuk ilmu-ilmu yang dianggap pseudo-science, karena bisa diteliti noetic-science agar pseudo-science menjadi ilmu pengetahuan yang memuat metode ilmiah, sehingga sah dan valid digunakan dalam berbagai praktik psikologi khususnya dalam menentukan tingkat kecerdasan dan kepribadian seseorang, seperti metode deduksi yang digunakan Sherlock Holmes dalam novel karya Sir Arthur Conan Doyle[9].

          Pembahasan dalam noetic-science lebih mengarah ke fisika kuantum, psikologi, spiritual, supranatural, matematika, geometri, agama, astrologi, esoteris, metafisika, universe, filsafat, antropologi, biologi, dan sejenisnya[10]. Ontologi yang dibahas bersifat subtle energy, halus dan quark, seperti tabel Power and Force Vibration milik David R. Hawkins, M.D., Ph.D., yang melakukan penelitian tersebut sampai 20 tahun lamanya[11]. Selain itu, ada juga the Law of Attraction buku yang ditulis Rhonda Byrne juga masuk dalam ontologi noetic-science[12]. Bilangan fibonacci, golden rasio, sacred geometry yang terdiri dari seed of life, flower of life, tree of life, octagram-octagonal, hexagram-hexagonal, pentagram-pentagonal, yang seringkali digunakan sebagai simbol-simbol keagamaan di berbagai tempat peribadahan seperti masjid, kuil, gereja, candi, katedral, atau musium dan bangunan-bangunan kuno lainnya[13]. Harapan baru dan gerbang ilmu pengetahuan yang penuh tirai misteri berhasil dibuka kembali oleh noetic-science, melalui keberanian dan usahanya untuk menjelaskan hal metafisik menuju ilmu pengetahuan yang berlandaskan metode ilmiah, yang mana objeknya juga harus ilmiah, bisa diukur dengan instrumen yang tersedia. Pembahasan yang berkaitan dengan clairyvoyant, kinesis, levitation, telephaty, chakra, kundalini, pranic energy, indigo, aura, akhasic record, morphogenetic field, astral projection dan lucid dream, sekarang bisa dipelajari secara mendalam, tidak khawatir masuk ke dalam pseudo-science yang metodenya dianggap tidak jelas dan belum bisa diterima ilmuwan.

          Pada akhirnya kita akan sampai pada kesimpulan, bahwa noetic-science ini dapat menjadi gate, jembatan, perantara, atau kalau di UIN Sunan Ampel Surabaya seringkali kita sebut sebagai “Integrasi Keilmuan” antara sains dan agama, sehingga proses-proses, keunikan, atau pengalaman mesra (ecstasy, ekstase, intim) individu ketika menjalankan ritual ibadah atau aktivitas berkomunikasi dengan Tuhan dapat diteliti dan dipelajari lebih mendalam lagi dengan dukungan dari noetic-science. Sehingga kontemporer, abad ke-21, muncul disiplin baru dalam psikologi yang bernama psikologi transpersonal. Merupakan mata kuliah yang ada di dalam peminatan Psikologi Agama dan Psikologi Sosial, namun sayang di kampus UIN Sunan Ampel Surabaya, disiplin Psikologi Transpersonal memang ada dalam bagian psikologi spiritual, akan tetapi belum banyak dibahas dan dimasukkan menjadi mata kuliah sendiri dalam Silabus Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK), UIN Sunan Ampel Surabaya.

          Justru Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF), agaknya memberikan ruang dan perhatian sendiri untuk membedah dan mendalami disiplin baru itu, karena saya menemukan jurnal-jurnal FUF yang membahas tentang Psikologi Transpersonal yang kemudian dibedah dan dihubungan dengan Psikologi Spiritual dan Tasawuf[14]. Demikian merupakan hal menarik, terlebih ketika diangkat menjadi variabel dalam penelitian, jurnal, skripsi, tesis, disertasi, atau sekadar dibawa menuju forum diskusi rutin untuk dibahas bersama.

 

PSIKOLOGI TRANSPERSONAL  DAN  KEBUTUHAN  MANUSIA MENGENAL TUHANNYA

Trans memiliki arti di luar diri, di luar kendali, di luar kemampuan, di luar indra, di luar kontrol. Sedangkan personal, adalah arti umum dari individu, perseorangan, atau bisa disebut manusia. Jadi psikologi transpersonal adalah, ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia beserta kasus, fenomena, pengalaman (dalam hal ini spiritual) yang berada di luar kendali, kontrol, kemampuan manusia. Sederhananya, dapat kita sebut sebagai ilmu yang mempelajari komunikasi manusia dengan Tuhan, habluminallah, hubungan vertikal makhluk dengan Sang Pencipta dikaji secara ilmiah melalui kasus, fenomena, pengalaman, atau keunikan ketika beribadah (seperti ecstasy, intim, khusyuk, dan lain-lain)[15].

           Karena selama ini, psikologi modern banyak membahas tentang hal-hal empiris, kasat mata, materi, sedangkan hal-hal spiritual, supranatural, metafisik, kejiwaan yang lebih subtle lagi, sudah tidak mampu diangkat menjadi topik pembahasan, karena kesulitan dalam menemukan instrumen penelitian ketika mempelajari lebih dalam pengalaman-pengalaman spiritual-supranatural yang unik tersebut. Sehingga, spiritual-supranatural agaknya menjadi pembatas sementara, karena imuwan belum menemukan metode yang cocok untuk menelitinya[16]. Supaya tidak termasuk, atau bisa jadi dianggap ilmuwan lainnya, sebagai pseudo-science seperti yang sudah dibahas sebelumnya, berikutnya hadirlah noetic-science yang menjadi cahaya di tengah buramnya pandangan ilmuwan dalam melihat ontologis keilmuan yang metafisik, ghaib, subtle, tidak bisa dipandang kasat mata. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa, bukan berarti yang dianggap tidak empiris itu, dengan mudah kita sebut sebagai sesuatu yang mutlak tidak ada.

Kita sudah mempelajari grand theory psikologi yang terdiri dari psikoanalisa, behavior, humanistik, kognitif, fisiologis, yang kemudia psikologi transpersonal ini dianggap sebagai aliran, madzhab, baru dalam psikologi selain kelima aliran sebelumnya. Sehingga, psikologi transpersonal, merupakan aliran yang membuka ruang-ruang diskusi pada topik spiritual, supranatural, yang disebut sebagai non-empiris, immaterial, tidak kasat mata[17].

          Apabila manusia sudah selesai mempelajari dan  membedah sedemikian rupa struktur dan konsep kejiwaan dalam tubuhnya, ada semacam keinginan terdalam pada hati manusia, untuk menelisik, memahami, mengenal, mengetahui lebih dalam siapakah yang menciptakan dirinya, kebutuhan mengenal clausa prima, Dia Yang Muncul Pertama Kali Sebelum Semua Ada, yaitu keinginan manusia untuk dekat dan intim dengan Tuhan. Dalam psikologi kepribadian madzhab humanistik yang dipelopori Abraham Maslow dengan teorinya yang paling populer hingga dikonsumsi banyak orang selain basic akademispsikologi, yaitu hierarcy of need, hirarki kebutuhan meliputi 5 (lima) tingkat: kebutuhan fisiologis, rasa aman, kasih sayang, penghargaan, dan aktualisasi diri[18]. Setelah manusia selesai dengan kelima kebutuhan itu, akan masuk menuju kebutuhan, keinginan, atau kerinduan untuk mengenal lebih dekat Tuhan Yang Maha Kuasa, dalam tasawuf dikenal dengan istilah takhalli (mengosongkan diri terhadap keduniawian yang tercela), tahalli (menghias diri dengan sikap baik), tajalli (lenyapnya sifat kemanusiaan, digantikan sifat positif ketuhanan)[19]. Hingga muncul transpersonal psychology untuk memfasilitasi lebih dalam mengenai dimensi spiritual, supranatural, dan keunikan dalam setiap pengalaman beribadah.

 

BENANG MERAH YANG BERHASIL DIRAJUT KETIGANYA

Pseudo-science, ilmu semu, bisa disebut sebagai grey field, wilayah abu-abu, yang masih bingung dan kesulitan untuk memperoleh/memproduksi metode ilmiah seperti apa yang bisa membantu mereka mendapatkan ilmu pengetahuan dari objek yang ingin mereka telaah. Sehingga, pseudo-science, dengan sedikit enggan akhirnya menggunakan metode alternatif, mungkin metode yang digunakan masih memiliki validitas dan reliabilitas, namun masih tetap belum sesuai dengan kaidah ilmiah yang diharapkan cendikiawan/ilmuwan umumnya. Sehingga mereka masih belum dianggap ilmiah, kendati sudah terlihat seperti ilmiah.

          Berikutnya, noetic-science, merupakan jembatan, bisa juga disebut dengan lilin yang menerangi kegelapan. Kegelapan yang dimaksud adalah ketakutan sains modern untuk memasuki wilayah-wilayah spiritual, supranatural, metafisik, dan sejenisnya untuk diangkat menjadi objek kajian ilmiah. Noetic-science akhirnya turut membantu pseudo-science untuk bergeser menjadi ilmu pengetahuan yang benar-benar diakui ilmiah oleh cendikiawan/ilmuwan kontemporer. Sehingga karena begitu banyak nilai aksiologis dari noetic-science, selain menjadi jembatan dan lilin, bisa kita ibaratkan seperti pintu gerbang untuk mengakses ilmu pengetahuan di wilayah yang benar-benar baru, wilayah yang belum terjangkau sains modern, yaitu metafisik, immaterial, spiritual, supranatural, non-empiris, atau bisa juga masuk ke dalam pengalaman-pengalaman religius, kenikmatan beribadah, ecstasy ketika berkomunikasi dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, yang akan dibahas lebih luas dan mendalam pada psikologi transpersonal.

          Psikologi modern begitu dekat dengan persoalan fisik, psikis, mind, behavior, namun menjaga diri untuk larut terlalu dalam pada pembahasan spiritual, metafisik, atau pengalaman kejiwaan lain yang dinilai ekstrim dan tidak banyak dibahas pada psikologi barat. Akan tetapi kita, sebagai orang timur, setidaknya memiliki pengalaman yang lebih kental dalam dimensi metafisik, spiritual, supranatural, ghaib, dan sejenisnya, karena sudah banyak praktik non-rasional yang dinilai negatif, sudah dilakukan sejak nenek moyang dahulu, seperti santet, pelet, guna-guna, jimat, khadam, dan sejenisnya. Atau juga pengalaman non-rasional bernada positif seperti ibadah khusyuk, mati suri, laduni, rogo sukmo, dan lain-lain. Sehingga perlu kita memberikan perhatian juga kepada pengalaman-pengalaman unik tersebut, kemudian muncul kesadaran dari cendikiawan/ilmuwan barat untuk mendirikan transpersonal psychology, setelah pseudo-science dan noetic-science (termasuk di dalamnya peran dari fisika kuantum) bisa berkoordinasi dengan baik dalam memproduksi ilmu pengetahuan[20].

 

“Sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan, di mana seluruh realitas ilmiah sedang menuju kepada pembuktian atas keberadaan-Nya,” tulisan Agus Mustofa dalam salah satu serial buku Diskusi Tasawuf Modern (DTM).

 

*Penulis adalah Mahasiswa Semester 7, Jurusan Psikologi, Program Studi Psikologi Sosial, Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK), UIN Sunan Ampel Surabaya, Jurnalis LPM Alam Tara.

 

Catatan Kaki (Footnote) dan Daftar Pustaka:

[1] Sobur, Alex. 2013. Psikologi Umum dalam Lintasan Sejarah. Bandung. CV Pustaka Setia. Bersama Rizma Fithri, S.Psi, M.Si, yang merupakan Dosen Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK), UIN Sunan Ampel Surabaya. Berbagai sumber buku, jurnal, dosen lain juga mengatakan definisi psikologi yang sama, sebagai ilmu yang mempelajari perilaku manusia yang dikaji secara ilmiah.

[2] Kita memang bisa ujug-ujug memberikan penjelasan lengkap mengenai tingkat kecerdasan dan kepribadian seseorang, dengan memberikan soal-soal ringan, triple choice pada aplikasi android, atau sejenisnya. Dalam waktu dua-tiga menit, selesai mengisi jawaban pada soal, hasil akan muncul sembari membeberkan bagaimana tingkat kecerdasan dan deskripsi dari kepribadian seseorang. Miudah dan instan memang, tetapi itu masih tergolong pseudo­-science, karena tidak mempunyai metode ilmiah yang bisa diterima ilmuwan pada umumnya.

          Sedangkan apabila kita menerapkan metode ilmiah yang sesuai dalam psikologi, kita tidak bisa memberikan diagnosis, hasil dari tingkat kecerdasan dan deskripsi kepribadian hanya dalam waktu singkat, dua-tiga menit, karena setiap alat tes psikologi (asesmen kognitif atau kepribadian) memerlukan ruang kondusif dan waktu yang relatif lama untuk mengerjakan. Untuk menentukan hasil, juga membutuhkan pertimbangan dan pengamatan secara optimal dari hasil pekerjaan subjek yang ingin mengetahui tingkat kecerdasan dan deskripsi kepribadiannya itu.

[3] Tim penyusun Diktat Mata Kuliah Tes Grafis (DAP, HTP, DCT), Fakultas Psikologi, Universitas Surabaya (Ubaya). Sebagai buku panduan psikolog untuk menginterpretasi hasil gambar dari asesmen kepribadian subjek/klien/seseorang ketika ingin mendeskripsikan kepribadiannya. Buku ini tidak boleh dibagikan bebas, hanya psikologi yang mempunyai izin praktik saja yang bisa menggunakan buku ini. Untuk mengetahui alat ukur kecerdasan dan kepribadian lainnya, banyak buku psikologi dan artikel  internet dapat diakses untuk memperoleh informasi tersebut.

[4] Sumber Wikipedia, https://id.wikipedia.org/wiki/Frenologi, diakses pada Rabu, 07 Nopember 2018, pukul 06.30 WIB. Berisi mengenai pengertian frenologi. Tidak sedikit website pseudo-science, ilmu semu, bisa kita temukan membahas kepribadian manusia dari bentuk wajahnya (bulat, hati, lonjong, persegi, persegi panjang dan berlian):  https://www.liputan6.com/health/read/2857211/kenali-kepribadian-anda-dari-5-bentuk-wajah-ini/

[5] Sumber Wikipedia, https://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_semu, diakses pada Rabu, 07 Nopember 2018, pukul 06.30 WIB. Berisi pengertian dari pseudo-science.

[6] Sumber Studiobelajar, https://www.studiobelajar.com/metode-ilmiah, diakses pada Rabu, 07 Nopember 2018, pukul 06.30 WIB. Sedangkan pengertian “fisis”, menggunakan referensi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dari Aplikasi Android.

[7] Sumber Galleri Aplikasi, https://galleryaplikasi.com/aplikasi-tes-iq-dan-tes-kepribadian, diakses pada Rabu, 07 Nopember 2018, pukul 06.35 WIB. Masih banyak lagi aplikasi android yang instan untuk mendeskripsikan kepribadian subjek.

[8] Institute of Noetic Science (IONS), Noetic Sciences Roadmap to the Future 2012-2015, Pengertian Noetic-Science pada Halaman 3, dapat diakses pada official website https://noetic.org/about/what-are-noetic-sciences, dapat mengunjungi alamat web terlampir untuk mengunduh dengan format Portable Document Format (PDF) Noetic-Science: https://noetic.org/sites/default/files/uploads/files/IONS-Roadmap2Future.pdf.

[9] Sumber Sherlocked, http://www.sherlocked.org/2012/06/metode-deduksi-holmes.html, diakses pada Rabu, 07 Nopember 2018, pukul 06.45 WIB. Beberapa artikel menyebutkan Metode Deduksi seperti dalam novel science-fiction Sherlock Holmes adalah ilmiah.

[10] Institute of Noetic Science (IONS), Noetic Sciences Roadmap to the Future 2012-2015, Pengertian Noetic-Science pada Halaman 9, dapat diakses pada official website https://noetic.org/about/what-are-noetic-sciences, dapat mengunjungi alamat web terlampir untuk mengunduh dengan format Portable Document Format (PDF) Noetic-Science: https://noetic.org/sites/default/files/uploads/files/IONS-Roadmap2Future.pdf.

[11] Hawkins, R. David. 1994. Power versus Force. Dapat juga diakses pada website Arif Rahutomo, Trainer Quantum Vibrasi, http://ikhlaspasrah.com/pertanyaan-wajib-dalam-hidup-saya-sedang-menggunakan-force-atau-power-bagian-1, diakses pada Rabu, 07 Nopember 2018, pukul 06.50 WIB.

[12] Byrne, Rhonda. 2006. The Secret. Jakarta atau Austria. Astria Publiishing Group, Beyong Words Publishing, atau Gramedia Pustaka Utama.

[13] Sumber Wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Sacred_geometry, diakses pada Rabu, 07 Nopember 2018, pukul 07.00 WIB. Selain itu juga bisa ditemukan pada sumber Sacred Geometry, http://www.sacred-geometry.com, diakses pada Rabu, 07 Nopember 2018, pukul 07.00 WIB.

[14] Sumber Jurnal Teosofi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF), UIN Sunan Ampel Surabaya, http://teosofi.uinsby.ac.id/index.php/teosofi/article/view/14, diakses pada Rabu, 07 Nopember 2018, pukul 07.00 WIB. Juga bisa ditemukan pada website Digital Library (Digilib) UIN Sunan Ampel Surabaya, http://digilib.uinsby.ac.id/8405/1/Buku%203%20Fix_13.pdf, diakses pada Rabu, 07 Nopember 2018, pukul 07.00 WIB.

[15] Sumber Digital Library (Digilib) UIN Sunan Ampel Surabaya, http://digilib.uinsby.ac.id/8405/1/Buku%203%20Fix_13.pdf, diakses pada Rabu, 07 Nopember 2018, pukul 07.00 WIB. Halaman 1043-1044.

[16] Sumber Digital Library (Digilib) UIN Sunan Ampel Surabaya, http://digilib.uinsby.ac.id/8405/1/Buku%203%20Fix_13.pdf, diakses pada Rabu, 07 Nopember 2018, pukul 07.00 WIB. Halaman 1033-1034.

[17] Sumber Digital Library (Digilib) UIN Sunan Ampel Surabaya, http://digilib.uinsby.ac.id/8405/1/Buku%203%20Fix_13.pdf, diakses pada Rabu, 07 Nopember 2018, pukul 07.00 WIB. Halaman 1048-1049.

[18] Sumber Wikipedia mengenai Hierarki of Need milik Abraham Maslow, https://id.wikipedia.org/wiki/Teori_hierarki_kebutuhan_Maslow, diakses pada Rabu, 07 Nopember 2018, pukul 07.10 WIB.

[19] Sumber mengenai Tasawuf tersebut mengutip pada website Perpustakaan E-JurnalSekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Madiun, Jawa Timur, Indonesia,   http://ejournal.staimadiun.ac.id/index.php/annuha/article/download/15/pdf, diakses pada Rabu, 07 Nopember 2018, pukul 07.15 WIB.

[20] Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, semakin jelas bahwa fisika (konsep-konsep fisika) memerlukan revisi atau penyempurnaan. Hal ini disebabkan semakin banyaknya hasil-hasil eksperimen dan gejala-gejala fisika yang teramati yang tidak bisa dijelaskan dengan konsep-konsep fisika yang telah dikuasai pada saat itu (fisika klasik), sekalipun dengan pendekatan. Masalah-masalah yang dimaksud di atas muncul terutama pada obyek-obyek fisis yang berukuran "kecil" (mikroskopik, atomistik), seperti partikel-partikel elementer dan atom serta interaksinya dengan radiasi atau medan elektromagnetik.

"Perbedaan-perbedaan" dalam eksperimen fisika mula-mula dapat diatasi dengan postulat-postulat dan hipotesis-hipotesis. Namun karena jumlahnya semakin banyak dan persoalannya dipandang mendasar, menuntut dan mendorong fisikawan untuk melakukan penyempurnaan, dan bila perlu perubahan pada formulasi dan konsep-konsep fisika. Hasilnya adalah konsep yang dinamakan "Mekanika Kuantum".

Sumber website perpustakaan digital yang dimiliki Staffnews Universitas Negeri Yogyakarta, http://staffnew.uny.ac.id/upload/132319830/pengabdian/mgmp-fisika-bantul.pdf, diakses pada Rabu, 07 Nopember 2018, pukul 07.30 WIB. Pembahasan fisika kuantum, juga bisa masuk dalam dimensi spiritual, supranatural dan metafisika, begitu kontras dengan fisika klasik/newtonian.

Building Character Qualities: For the Smart, Pious, Honorable Nation

Ketentuan Pengguna

Semua isi yang ada di situs resmi UIN Sunan Ampel Surabaya boleh dilihat, disalin, dicetak, dan didistribusikan untuk tujuan non-komersial.

Statistik Website

shopify visitor statistics

Lihat Daftar Pengunjung Website

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

JL. A. Yani 117, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, 60237

+62 31 8410298

+62 31 8413300

humas@uinsby.ac.id

uinsa_surabaya

© Copyright 2018 - Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data