Ciri sederhana kampus kelas dunia

Aun Falestien Faletehan - 13 Nov 2018

Keinginan untuk menjadi universitas kelas dunia menjadi obsesi semua pengelola perguruan tinggi. Indikator yang dipakai untuk memberikan label bahwa kampus tersebut layak disebut sebagai world class university juga seringkali dibicarakan. Kita sering mendengar adanya penilaian dari aspek reputasi akademik, kualitas sumber daya manusia, rasio mahasiswa dan dosen, keragaman individu, faktor sitasi dan dampak penelitian, kemandirian pendanaan, dan sebagainya.

Bahasa yang lazim dipakai dalam menceritakan syarat-prasyarat kampus kelas dunia acapkali terlihat mewah, rumit dan terbilang sulit dicapai oleh kebanyakan kampus yang masih berusia muda. Karenanya, perlu diceritakan kondisi natural yang sederhana dan ringan agar formula penjelmaan kampus kelas dunia nantinya bisa difahami banyak kalangan.

Berbekal pengalaman sederhana dan cerita dari sana sini, saya ingin menguak kebiasaan dan hal-hal kecil yang melekat pada DNA perguruan tinggi yang berada dalam kelas elit global. Pengamatan ini bisa jadi bermuara dari budaya organisasi yang berkembang dan menjadi keseharian seorang dosen atau mahasiswa yang masih aktif dalam kampus kelas dunia. Setidaknya, saya mendapatkan minimal 14 indikasi “kecil” yang menunjukkan kalau seseorang tersebut sedang berada dalam world class university. Indikasi sebenarnya pasti berjumlah lebih dari sekedar 14 ini.

Pertama, semua orang yang bekerja di dalam kampus kelas dunia tidak pernah memiliki pikiran untuk mencari uang tambahan di luar pekerjaannya dalam kampus. Contohnya, dosen tidak perlu lagi mencari jam mengajar tambahan di kampus-kampus lain, hanya untuk mencari uang tambahan biaya hidup. Tidak juga memaksa sibuk dalam proyek luar sebagai konsultan, trainer atau sejenisnya, hanya untuk mempertebal dompet tipisnya. Jelas, gaji dosen kampus kelas dunia harusnya sudah bisa mencukupi kebutuhan hidup semuanya: sandang, pangan, papan, pendidikan anak, kesehatan, rekreasi, dan sebagainya. Pemasukan dari kampus sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder dan tertier yang dimiliki dosen kelas dunia. Karena kebutuhan finansial sudah didukung sepenuhnya oleh kampus, pekerjaan dosen bisa fokus untuk pengembangan kampus semata. 

Kedua, jam kerja formal biasanya hanya mulai dari hari Senin sampai Jum'at. Kecuali karena beberapa hal yang mendesak, kampus kelas dunia tidak menyelenggarakan acara akademik pada hari Sabtu dan Minggu. Mereka benar-benar faham jika staf administrasi dan dosen kelas dunia harus pandai membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Ini permasalahan work and life balance. Kalau semisal ada dosen yang kelihatan masih bekerja di hari Sabtu atau Minggu semisal untuk menulis laporan riset atau mengecek hasil laboratorium, itu semata karena persoalan personal saja. Tapi kebijakan organisasi tetap dibuat. Kampus harus bijak dalam manajemen waktu. Sabtu dan Minggu sepenuhnya untuk keluarga. Bekerja terus menerus selama 7 hari dalam seminggu bukan berarti menunjukkan kalau kita sangat komitmen, loyal dan profesional; tapi justru menunjukkan ketidakmampuan kita dalam membagi waktu. Dosen yang berkualitas pada umumnya berbahagia dalam keluarga kecilnya di rumah dan juga berbahagia dalam “keluarga besarnya” di kampus. Kalau semisal penyelenggaraan acara di hari Sabtu-Minggu dilakukan dengan dalih agar bisa sekedar mencairkan poin anggaran dan bisa menambah pundi pemasukan; maka kembalikan ke “pasal pertama”di atas: dosen kelas dunia sudah cukup gajinya, dan tidak perlu mencari tambahan.

Ketiga, latar belakang dan aktivitas dosen mungkin sangat beragam. Di luar kampus, mereka bisa jadi berprofil seorang kiai, ketua yayasan, pengusaha, penceramah, distributor online, makelar produk, dan sejenisnya. Namun meskipun beragam, profesi utama dosen tetaplah seorang peneliti. Jangan melupakan hal tersebut. Itulah atribut mendasar seorang dosen. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan, yang kedua profil tersebut berawal dari proses penelitian. Kampus kelas dunia selalu menyatukan semua dosen dalam bingkai profil peneliti. Ketika bertemu di kampus, semua label profesi tambahan yang melekat pada dosen biasanya akan menghilang sementara, dan yang tersisa hanyalah profesi peneliti dan pengajar profesional.  

Keempat, ketika sedang bercengkerama dan berkumpul dengan kolega, yang dibicarakan kebanyakan adalah topik-topik penelitian dan perkembangan akademik. Meskipun diselingi dengan canda tawa, namun fokus pembicaraan tetap berkutat pada tema penelitian. Mereka saling berdiskusi, berbagi dan memberikan masukan satu sama lain. Kalau semisal ingin membicarakan sesuatu yang bersifat gosip personal, mungkin bisa dilakukan di area luar kampus. Kampus benar-benar steril dari sesuatu yang non-akademis. Kampus yang belum bertaraf internasional biasanya seringkali membawa masuk masalah personal dari luar ke dalam kampus, dan kemudian menjadi isu besar yang justru menutupi permasalahan akademik yang lebih penting. Membangun budaya akademik memang susah. Di sinilah contoh kecilnya. Manakala sekelompok mahasiswa atau dosen sedang berkumpul, mereka harusnya membicarakan hal-hal akademis. Bahkan, obrolan ringan dan candaannya pun terkesan intelektual.

Kelima, kebiasaan kolaborasi lintas unit yang sangat intens. Kampus kelas dunia meminimalisir egosektoral. Semuanya membawa nama kampus yang sama, meskipun beda prodi, jurusan, ataupun fakultas. Karenanya, mayoritas artikel jurnal yang terpublikasi memiliki lebih dari satu nama penulis. Selain memperkuat spirit kelembagaan, tradisi ini juga memperkaya isi dari artikel karena ditulis oleh beberapa dosen yang memiliki keahlian berbeda-beda. Ketika level ini sudah tuntas, maka kolaborasi akan naik level dengan adanya kerjasama antara perguruan tinggi.

Keenam, dosen tidak ribut dengan jabatan struktural kampus. Pekerjaan meneliti dan mengajar sudah menguras habis energi mereka. Mereka sudah terlanjur sudah asyik dengan hal itu. Alasan mendapatkan uang tambahan juga tidak lagi berpengaruh karena gaji reguler mereka sudah lebih dari cukup (kembali ke ciri pertama di atas). Alasan ingin mendapatkan ketenaran juga tidak perlu melalui jalur jabatan. Hanya dengan memperbanyak jumlah publikasi artikel dalam jurnal, sudah bisa membawa kemasyhuran, bahkan di tingkat internasional.

Ketujuh, kampus kelas dunia selalu berlangganan jurnal internasional. Mahasiswa baru yang mendaftar masuk ke kampus pasti akan mendapatkan profil akun yang bisa mengakses semua jurnal internasional. Akses ini sangat penting karena menjadi kacamata untuk mengetahui perkembangan keilmuan di level internasional. Bagaimana kita bisa disebut kampus kelas dunia bila tidak mengetahui perkembangan teori di belahan dunia lain! Salah satu caranya adalah memiliki akses ke jurnal internasional tersebut. Membekali mahasiswa baru dengan informasi jurnal internasional gratis dan situs peretas semacam sci-hub ataupun libgen tidaklah cukup, dan juga tidaklah etis. Kita tidak akan pernah bisa menggambarkan seokor gajah secara utuh bilamana hanya memegang belalainya saja. Kita perlu helicopter view untuk bisa menangkap state of the art dan seluruh proses perkembangan teori dari masa ke masa. Itulah fungsi akun akses ke jurnal internasional.

Kedelapan, kebiasaan membaca jurnal internasional. Inilah cara yang paling praktis untuk mengetahui perkembangan teori karena jurnal ditulis dalam bahasa yang padat dan telah melalui uji kontrol dari sejumlah pakar serumpun. Dalam beberapa kasus, tulisan jurnal adalah perasan dari ribuan lembar laporan riset dan bertahun-tahun penelitian lapangan. Karenanya, daripada membaca laporan penelitian yang sangat tebal, lebih mudah bila kita membaca ringkasannya, apalagi sudah didesain dalam bahasa teori. Kebiasaan membaca ini tidak hanya menjangkit dosen semata, namun juga pada kalangan mahasiswanya. Proses pengajaran di kampus kelas dunia mengharuskan mahasiswa untuk membaca jurnal terlebih dahulu, di setiap minggunya, sebelum berani melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas.

Kesembilan, rutin mengadakan kegiatan akademik yang berskala kecil dan spesifik seperti seminar, diskusi, atau diseminasi grup riset yang selalu melibatkan pembicara dari kampus luar. Kegiatan berskala besar seperti kuliah umum pastilah ada. Namun yang unik dari kampus kelas dunia adalah mereka menggalakkan kegiatan akademik berskala kecil secara berkala dan tidak harus mengundang semua dosen. Dosen tidak dituntut menguasai banyak disiplin ilmu. Setiap acara memiliki spesifik keilmuan. Kegiatan-kegiatan kecil ini lebih difokuskan pada penajaman spesifikasi keilmuan yang telah dimiliki sejumlah dosen. Lebih baik membuat acara kecil namun menghasilkan dampak yang besar, daripada menyenggarakan acara besar namun menghasilkan dampak yang kecil. Di akhir sesi akhir kegiatan ini, biasanya terjadi kesepakatan kerjasama penelitian antara pembicara luar dengan sebagian dosen tetap yang menjadi tuan rumah acara kegiatan. 

Kesepuluh, cenderung untuk mengundang orang luar negeri ke dalam kampus daripada melakukan perjalanan “workshop” ke luar negeri. Kampus kelas dunia sudah di level ingin menyebarkan pengetahuannya kepada kampus lain. Karenanya, mereka lebih sering diundang untuk menjadi pembicara di kampus lain. Kalaupun jika mereka ingin mempelajari sesuatu yang baru, cara yang paling praktis adalah mengundang orang luar untuk datang ke kampus mereka sebagai pembicara luar, bukan melakukan perjalanan rombongan workshop untuk belajar ke sana. Cara ini lebih efektif dan efisien karena kampus hanya cukup membiayai pembicara luar saja. Selain itu, workshop ke luar negeri juga dianggap tidak efektif-efisien karena terkadang waktu pelaksanaan yang tidak maksimal. Total perjalanan selama 10 hari, mungkin hanya 3 atau 4 hari yang berkaitan dengan pelaksanaan workshop. Terpotong waktu perjalanan, istirahat, dan lain-lain. Biaya insidentil yang tidak terduga pasti juga timbul. Beda lagi kalau memang alasan diadakan workshop ke luar negeri adalah untuk menambah riwayat hidup dan pengalaman perjalanan luar negeri sekaligus memberikan uang saku tambahan bagi dosen. Tapi hal ini tidak akan terjadi di kampus kelas dunia. Kembalikan ke “pasal pertama” di atas: dosen kelas dunia sudah cukup gajinya, dan tidak perlu mencari tambahan.

Kesebelas, pembedaan pekerjaan yang tegas antara dosen dan staf administrasi. Kedua profil tersebut memang berbeda namun sama-sama memiliki peran yang krusial dalam pengembangan kampus. Pekerjaan keduanya tidak boleh dicampuradukkan. Kampus akan sulit maju bilamana masih ada dosen yang bermental staf, dan staf yang bermental dosen. Artinya, dosen akan bisa kehilangan gairah meneliti dan mengajarnya bilamana selalu diintai dengan jam kerja kantoran yang kaku, pekerjaan administrasi yang menumpuk, dan sejumlah aktivitas yang di luar koridor tri dharma perguruan tinggi. Sebaliknya, staf juga akan kehilangan kepercayaan dari mahasiswa dan users bilamana perilaku melayaninya seperti senior terhadap yunior, jarang duduk di kursi, tidak memiliki passion dalam administrasi, serta ingin mutasi menjadi dosen saja. Pekerjaan dosen dan staf administrasi harus semakin dipisahkan, namun keduanya saling menyapa dengan bersinergi. Kurangi pekerjaan keadministrasian yang melekat pada dosen, tapi tambahi beban tanggung jawabnya melalui penelitian dan publikasi tulisan.

Keduabelas, tidak gampang kaget dan terpesona dengan kedatangan bule atau orang luar negeri. Kampus kelas dunia harusnya menjadi titik temu beberapa individu dari latar belakang negara yang berbeda-beda. Nuansa lingkungannya semakin multikultural dan multinasional mulai dari eksistensi mahasiswa asing, pembicara luar negeri, visiting professors, fellowship, dan sejenisnya. Mahasiswa kampus kelas dunia juga tidak akan bersikap ndeso dan genit meminta foto kalau ada bule masuk kampus.

Ketigabelas, mengadakan agenda refreshing dan rekreasi sesama dosen dan staf administrasi. Kampus kelas dunia jelas-jelas menggunakan istilah rekreasi sebagai program rutin untuk keakraban sesama individu dan juga melepas penat setelah capek bekerja. Hal ini wajar karena setiap insan pasti memiliki kebutuhan ini. Juga menjadi penting karena bagian dari program penguatan kerjasama kelompok. Jadi, kalau mau rekreasi, bilang saja seadanya, dan tidak perlu menggunakan istilah workshop atau seminar di luar kota. Kalau berdalih, nanti kalau tidak menggunakan istilah workshop atau seminar, tidak akan ada dana yang turun. Kampus kelas dunia biasanya melakukan rekreasi dengan uang pribadi masing-masing. Kembalikan ke “pasal pertama” di atas: dosen kelas dunia sudah cukup gajinya, bahkan termasuk untuk jatah rekreasi keluarga.

Keempatbelas, fasilitas pendukung kerja yang bersih. Bagi orang luar, agak sulit untuk melabeli kelas dunia kalau tempat parkirnya semrawut, toilet kampusnya masih kotor, lantai kelasnya berdebu, dan sampah bertebaran di sepanjang jalan menuju fakultas. Ini semua kembali ke mental, mindset sumber daya manusianya. Kalau mentalnya elit, maka apa saja yang disentuh akan menjadi produk yang mewah, nyaman, dan disukai semua orang: sepertihalnya sentuhan midas. Tapi jangan berharap kalau mentalnya masih belum baik. Desain awalnya adalah food court, tapi realitanya akan menjadi warung kumuh. Rencana semula adalah corner room for discussion, namun kenyataannya menjadi tempat nongkrong, gosip dan untuk merokok semata. Proposalnya adalah perpustakaan mini yang bebas baca bagi semua mahasiswa, ternyataselang beberapa lama buku-bukunya sudah banyak yang hilang dan lemari raknya sudah kotor. Mungkin, lebih baik membangun pola pikir sumber daya manusia lebih dulu, sebelum membangun bangunan fisik yang megah. Merawat gedung jauh lebih sulit daripada mendirikannya.

Setelah dipikir-pikir, menjadi kampus kelas dunia memang enak. Siapa yang tidak suka bila 14 ciri sederhana di atas dimiliki oleh sebuah kampus di Indonesia. Bahkan, masih banyak indikasi kampus kelas dunia yang belum tercakup dalam tulisan ringan ini. Tapi untuk menjadi profil seperti itu, kelihatannya tidak sesederhana judul tulisan ini. Cirinya mungkin kelihatan sederhana, namun proses menuju ke sana ternyata tidak bisa sederhana. Tulisan ini pun tidak menunjukkan solusi untuk menuju ke arah sana. Ayo kita cari peta jalannya secara bersama-sama.

Building Character Qualities: For the Smart, Pious, Honorable Nation

Ketentuan Pengguna

Semua isi yang ada di situs resmi UIN Sunan Ampel Surabaya boleh dilihat, disalin, dicetak, dan didistribusikan untuk tujuan non-komersial.

Statistik Website

shopify visitor statistics

Lihat Daftar Pengunjung Website

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

JL. A. Yani 117, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, 60237

+62 31 8410298

+62 31 8413300

humas@uinsby.ac.id

uinsa_surabaya

© Copyright 2018 - Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data