MENATA HATI, MEMBUKA RIZKI

Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag. - 13 Nov 2018

وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (al anshar dan al muhajirin) dan berdoa, "Wahai Tuhan kami, berilah  ampunan untuk kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan membawa keimanan, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang"(QS. Al Hasyr [59]: 10).

 

Ayat di atas merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya tentang kemuliaan penduduk pribumi Madinah  (al anshar) dalam menyambut para pendatang dari Mekah (al muhajirin). Penduduk Madinah melayani pendatang dengan senang hati dan murah harta untuk member pelayanan dan tempat tinggal yang terbaik, bahkan mengurbankan kepentingan diri dan keluarga demi kenyamanan mereka. Maka pada ayat di atas, Allah SWTmemberi pujian kepada generasi sesudah mereka yang memintakan ampunan untuk mereka, dan memohon kekuatan untuk mengikuti jejak kemuliaan mereka.

Paling sedikit, ada empat pesan penting pada ayat di atas. Pertama, introspeksi.  Pernyataan doa, “Wahai Tuhan kami, ampunilah kami” secara tidak langsung menyuruh kita untuk tiada henti koreksi diri. Antara lain,  apakah kita sudah menjadi suami, ayah, istri, dan ibu yang patut dijadkan tauladan? Apakah kita guru, karyawan dan pemimpin yang terbaik? Apakah semua yang kita makan selama ini benar-benar murni halal? Apakah shalat kita telah membentuk diri kita sebagai pribadi yang menumbuhkan senyum dan optimisme orang-orang di sekitar kita? Introspeksilah.  Sediakan waktu secara rutin setiap malam untuk menunduk hening, usaplah air mata yang membasahi pipi, lalu beristighfarlah. Orang terbaik bukanlah orang yang tanpa dosa, tapi yang jujur mengakui dosa dan bertekad untuk berubah. Nilai Anda di mata Allah ditentukan seberapa besar ruang yang Anda siapkan untuk-Nya di hati Anda.

Kedua, kepedulian. Pernyataan, “..dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan keimanan”  mengajarkan kita untuk peduli terhadap orang lain. Abu Abdillah Sufyan bin Sa’id Ats Tsaury, ulama besar Iraq mengatakan, salah satu tanda sadisme adalah minimnya doa untuk orang lain, khususnya orang yang telah wafat. Ahli hadis dan fikih yang hidup pada  abad 8 M itu menambahkan, jika Anda melewati kuburan dan Anda diam tanpa doa, Andalah manusia sadis, raja-tega yang mengabaikan jeritan penghuni kubur yang merintih menunggu doa pengampunan dari kita yang masih hidup. Jika Anda bekerja pada suatu kantor atau di manapun, lalu Anda tidak berdoa untuk kemajuan tempat kerja, maka Anda juga sadis, sebab Anda hanya menghisap madu, lalu mengabaikan lebah dan sarangnya.

Ketiga, kesetaraan. Pernyataan, “..dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan keimanan” juga mengajarkan kita tentang semangat kesetaraan. Semua ayat Al Qur’an tentang hubungan nabi dan umatnya menggunakan istilah “saudaramu” atau akhuuhum.  Nabi memperlakukan umatnya sebagai saudara, bukan hirarkhis, sebagai anak buah. Umat Nabi juga tidak memperlakukannya sebagai bapak buah. Prinsip inilah yang dikembangkan dalam majamen moderen. Dalam dunia pendidikan, tidak ada lagi istilah guru dan murid, tapi pendidik dan peserta didik. Dalam ilmu dakwah,  tidak ada lagi subyek dan obyek dakwah, melainkan pendakwah dan mitra dakwah. Pendakwah bukan lagi memposisikan diri sebagai manusia termulia dan tersuci yang berhak menggurui obyeknya, melainkan sama-sama bermitra untuk mencari cara terbaik menapaki jalan yang lurus. Dalam posisi itu, pendakwah bertaushiyah, “Inilah perintah Allah, mari kita bersama-sama mencari cara bagaimana kita bisa menjalankannya, dan inilah yang terlarang, lalu bagaimana cara termudah untuk bersama-sama meninggalkannya.”

Sebutan “saudaraku” oleh Nabi SAW untuk umatnya, antara lain ditunjukkan pada saat ia keluar menuju kuburan. Ia memberi salam, “Salam untuk kalian wahai penghuni kubur. Sungguh, suatu saat, kami akan menyusul kalian atas kehendak Allah.” Ia melanjutkan, “Wadidtu an ra-aytu ikhwaananaa (saya ingin sekali melihat saudara-saudaraku).” Para sahabat bertanya, “Alasnaa bi-ikhwaanika  (tidakkah kami ini juga saudara tuan?” Nabi menjawab, “Bal antum ash-haabii wa anaa farathuhum ‘alal haudli  (ya, kalian juga sahabatku. Saya akan menemui mereka di telaga al-kautsar ) (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Keempat, kehangatan persaudaraan. Pernyataan doa, “Wahai Tuhan kami, janganlah ada di hati kami kedengkian terhadap orang-orang beriman” menunjukkan perintah pembersihan hati untuk menciptakan persaudaraan yang hangat. Hati yang bersih dari dengki, benci dan iri hati. Inilah yang sering kita abaikan, karena perhatian kita habis tersita untuk pembersihan muka dan pewangian penampilan. Memang ini berat, sebab kata Ibnu Taimiyah, semua orang berpotensi dengki, hanya saja ada orang yang berhasil memerangi, dan sebagian yang lain justeru mengeksekusi.

Mengapa sifat negatif itu harus dihapus? Sebab benci, jengkel dan dengki bisa merusak nama baik yang amat Anda butuhkan dlam menapaki masa depan. Citra diri harus dibangun sejak dini, lebih-lebih dalam perjumpaan awal dengan orang. Perhatikan bagaimana Allah memperkenalkan dirinya pertama kali kepada manusia dengan dua namanya, Maha Pengasih dan Maha Penyayang dari 99 namanya. Dengan kesan pertama yang indah dalam memori otak itu, diharapkan manusia memiliki optimisme menatap masa depan, merasa didampingi oleh Tuhan yang selalu mengasihi dan menyayangi. Brain Tracy berkata, “A first impression says everything. One makes a judgment about you in aprroximately four seconds, and his judgment is finalized largely 30 seconds of the initial contact (Kesan pertama menceritakan segalanya. Seseorang memulai membuat penilaian tentang diri Anda dalam empat detik pertama, dan memutuskan peniliaian itu 30 detik berikutnya). Perasaan negaif itu juga merusak ketampanan dan kecantikan dan merusak kesehatan Anda. Allah SWT berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad), “Matilah kamu dengan membawa kegenkianmu itu).  Dan, jangan lupa, kebencian, kejengkelan dan iri hati akan menutup rapat semua pintu rizki Anda, lebih-lebih pada era sekarang ini, dimana courtesy atau kesopanan, kesantunan dan kehangatan pelayanan di butuhkan dalam semua lini bisnis. Semoga, pintu rizki yang selama ini tertutup, sebantar lagi akan terbuka lebar untuk Anda.  

Building Character Qualities: For the Smart, Pious, Honorable Nation

Ketentuan Pengguna

Semua isi yang ada di situs resmi UIN Sunan Ampel Surabaya boleh dilihat, disalin, dicetak, dan didistribusikan untuk tujuan non-komersial.

Statistik Website

shopify visitor statistics

Lihat Daftar Pengunjung Website

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

JL. A. Yani 117, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, 60237

+62 31 8410298

+62 31 8413300

humas@uinsby.ac.id

uinsa_surabaya

© Copyright 2018 - Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data