GULE CEMPE DAN PRODUK ORGANIK

Dr. Muhamad Ahsan - 03 Dec 2018

Sudah lebih dari delapan  minggu ini saya lihat warung di tepi jalan itu gelap tanpa sinar. Semua mejanya sudah disusun rapi dengan meja bertemu meja, yang satu kakinya mengarah ke bawah dan meja satunya kakinya mengarah ke atas. Mirip sebuah bar yang bertuliskan ‘CLOSED’ di depan pintunya. Memang, warung gule cempe tersebut didesain dengan interior aroma ‘kantri’ walau kursinya tidak mirip dengan bar-bar yang biasa kita lihat di film-film koboi.

Ridho memang memiliki pengalaman mencicipi menu di warung tersebut.  Pada saat memiliki kesempatan  untuk menjemput anaknya pulang sekolah karena kebetulan warung tersebut tidak jauh dari sekolah anaknya. Sudah lama keinginan untuk mencicipi menu yang ditawarkan warung gule tersebut.  Apalagi  Ridho  penggemar masakan gule.

Ternyata apa yang dibayangkan Ridho tidak seperti  yang  dirasakannya. Merek yang terpampang “Warung Gule Cempe”  ternyata gule jeroan, atau mungkin itu isinya jeroan cempe? sempat terjadi dialog ketika memesan menu dengan pelayannya.

“Gulenya daging semua kan mbak?”, itulah pertanyaan yang dilontarkan Ridho.

“Tidak semua sih pak, campur”, jawam pelayannya.

“Campur apa maksudnya?”, Ridho menyahut.

“Campur jeroan  juga”, jawab pelayan itu lagi

“Tapi tidak banyak kan jeroan nya?”

“Tidak pak” pelayannya menimpali

“Ok saya pesan satu”, lanjut Ridho dan memilih tempat duduk.

Walaupun Ridho bersama anaknya dia tidak memesan dua porsi karena dia sudah merasa ragu, mengapa? Sejak dibuka pertama kali sebelum Ramadlan tahun lalu, warung tersebut  tidak begitu ramai. Diawal pembukaan memang  cukup ramai dan lambat laun semakin sepi. Sampai saat ia memesan menu hari itu pun, warung tersebut sepi pembeli. Ridho hanya memesan satu porsi dengan satu gelas teh panas dan satu gelas es teh untuk anaknya.

Apa yang dilihat Ridho ketika menu disajikan. Gule yang tersaji isinya lebih banyak ‘jeroan’nya. Ridho hanya menyantap nasi dengan dicampur kuah gule karena jeroan untuk seusianya tidak baik bagi kesehatan.  Saat membayar  harganya pun cukup mahal. Rasa kecewa ketika keluar dari warung itu menjadi berlipat. Ridho sempat bergumam dalam hati, lebih baik pergi ke Ampel ke langgananya walau harga terbilang mahal tetapi sesuai harapannya.  Ridho pun tidak merekomendasikan kepada istrinya untuk mencoba makan di warung tersebut. Itulah kejadian tiga bulan lalu sebelum warung gule tersebut tanpa  sinar lampu ketika malam hari.

Lantas apa hubungannya dengan produk organik? Tidak ada sama sekalikah?. Produk- produk organik semakin dicari dan harganya pun semakin mahal. Data menunjukkan  peningkatan permintaan akan produk organik. Dalam 10 tahun terakhir, pasar produk organik dunia tumbuh pesat. Di Tahun 2018 permintaan produk organik diprediksi USD 161,5 miliar dengan laju pertumbuhan 15% per tahun. Di Tahun 2017 nilainya rata-rata USD 124,76 miliar. Di Tahun 2016 pasar produk organik sebesar USD 93,1 miliar. Permintaan pasar ini diprediksi terus tumbuh hingga USD 323,09 miliar pada Tahun 2024.  Pembaca bisa survey secara langsung bila berbelanja ke swalayan-swalayan yang menyediakan produk-produk organik. Berapa harga produk organik yang ditawarkan ?.

Meningkatnya permintaan akan produk organik tidak serta merta begitu saja. Menarik untuk diriset lebih jauh. Asumsinya, ada korelasi antara tingginya tingkat pendidikan penduduk suatu negara dengan kesadaran akan pentingnya kesehatan. Dalam konteks negarapun, anggaran pemeliharaan akan kesehatan tentu meningkat bila penduduk negara tersebut sering sakit-sakitan karena salah dalam pola hidup dan makan. Rupanya alam telah menunjukkan kepada kita, bila kita mau mencerna, bahwa sesuatu yang original itu jauh lebih bermanfaat dalam jangka panjang.

Dalam perspektif marketing, Ridho sebagai konsumen merasa harapannya tidak terpenuhi karena bombastisnya iklan dan layanan yang diberikan. Efeknya Ridho tidak merekomendasikan “Warung gule cempe” tersebut kepada orang terdekat. Sejatinya Ridho berusaha menghindari gule jeroan yang kurang bermanfaat bagi kesehatan diri dan keluarganya.

Sementara produk organik dapat dikatakan menyasar pada segmen tertentu yang sadar akan pentingnya kesehatan dalam hidup. Tingginya permintaan dunia akan produk organik membuktikan telah meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan. Mengapa? karena akses pendidikan yang semakin baik membuat informasi semakin terbuka dan impact nya dapat meningkatkan kesadaran peserta didik, tumbuhnya kaum ekonomi menengah ke atas dan tumbuhnya kepedulian akan kesehatan karena mahalnya biaya pengobatan.

Ilustrasi di atas hanya ingin menggambarkan bahwa kepuasan konsumen menjadi penting dengan cara berusaha memenuhi ekspektasi mereka. Meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan akan membuka peluang bisnis baru dibidang kuliner yang menyasar pada segmen tertentu.

Berita terbarunya, tulisan “Warung gule cempe” telah tertutup oleh alat peraga kampanye dari salah seorang caleg dari partai tertentu. Mungkin selain karena tahun ini tahun politik juga karena warung tersebut sudah tidak terurus.

Semoga artikel kali ini tidak mengernyitkan dahi pembaca.

Wallahu a’lam

 

Bahan Bacaan:

 

 

 

 

Building Character Qualities: For the Smart, Pious, Honorable Nation

Ketentuan Pengguna

Semua isi yang ada di situs resmi UIN Sunan Ampel Surabaya boleh dilihat, disalin, dicetak, dan didistribusikan untuk tujuan non-komersial.

Statistik Website

shopify visitor statistics

Lihat Daftar Pengunjung Website

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

JL. A. Yani 117, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, 60237

+62 31 8410298

+62 31 8413300

humas@uinsby.ac.id

uinsa_surabaya

© Copyright 2018 - Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data