MUSLIM MILLENNIAL INDONESIA

Dr. Achmad Murtafi Haris, Lc, M.Fil.I - 26 Dec 2018

 

Suasana Jazz Traffic Festival di Surabaya begitu ramai. Tiket sold out dan para pengunjung nampak menikmati penampilan para artis ibukota dengan tembang-tembang hitsnya. Band Padi, Raisya, Reza Artamevia, Tulus dan tidak ketinggalan Via Vallen ikut menambah riuhnya acara. Penonton ikut bernyanyi dan bernostalgia dengan lagu-lagu yang semasa dulu sering menghiasi hari-hari.

Memasuki waktu maghrib, musholla Mall Grand City penuh sesak sehingga harus antri berlama-lama. Tidak biasanya musholla tersebut sedemikian padat tapi tidak dengan hari itu. Para pengunjung Festival Jazz membuatnya seperti itu.

Kegemaran terhadap musik Jazz dan penunaian shalat wajib adalah realitas keberagamaan saat ini. Dahulu, musik dan ketaatan agama cenderung berlawanan. Kalau suka musik ya tidak shalat atau sebaliknya kalau taat shalat ya tidak suka musik atau meninggalkannya. Jadi, pilihannya saklek pilih salah satu dan tinggalkan yang lain. Tidak bisa shalat 'dimadu' dengan musik atau sebaliknya. Tapi untuk saat ini, di era millennial, hal itu menjadi bisa berjalan beriringan. Mereka tidak mempermasalahkan dan tidak mengkonfrontasikan shalat dengan musik dan memilih ketataan beragama dan hiburan dua-duanya.

Jika kita tanyakan kepada ulama, barangkali tidak ada dari mereka yang menganjurkan hal itu. Mereka lebih condong pada pilihan dikotomis ambil satu tinggalkan yang lain dan jangan mencampur aduk. Tapi umat punya pilihannya sendiri yang bersifat mandiri. Mereka punya kearifan sendiri, mana dari anjuran tersebut yang benar-benar harus diikuti dan mana yang dimungkinkan untuk tidak sepenuhnya bisa ditaati. Mereka yang menikmati festival Jazz bisa mengira-ngira sendiri sejauh mana apa yang mereka lakukan masih dalam koridor sesuatu yang dimungkinkan menurut agama. Mereka tidak melampaui itu dengan menabrak sesuatu yang jelas-jelas dilarang seperti menikmati lagu sambil ditemani minuman keras atau narkoba agar lebih hanyut dalam alunan nada dan lagu.

Jika dikaji secara hermeneutics perspektif  Amin Abdullah,  apa yang terjadi itu adalah sebuah produk penafsiran versi pembaca teks.  Teks suci, apakah itu al-Qur'an ataupun hadits adalah sumber ajaran agama yang berusaha untuk digali maksudnya sebaik mungkin. Dalam hal ini ada tiga komponen yang menentukan pemahaman terhadap teks. Pertama, teks itu sendiri bagaimana secara bahasa atau filologi mampu memunculkan arti dan padanan kata dalam bahasa lain yang tidak sama dengan bahasa teks. Kedua, aspek penulis atau pembuat teks di maksud dari sang penulis bisa diketahui lewat kajian sosio-historis sang penulis sendiri yang melingkupi munculnya teks. Dalam hal ini dalam ilmu tafsir terdapat kajian tentang asbab al-nuzul dan dalam hadits terdapat asbab al-wurud. Dan faktor pembaca atau reader di mana umat yang menjadi subjek hukum agama memiliki kondisi yang beragam yang tidak bisa dinafikan begitu saja dalam menjelaskan pesan yang sebenarnya terkandung dalam teks. Sekedar berpegang pada teks dan kondisi sosio-historis teks diturunkan tidaklah cukup untuk memahami maksud teks yang sebenarnya. Ia, jika demikian, hanyalah cocok untuk mereka yang a-historis yang beranggapan bahwa manusialah yang harus mengikuti agama dan bukan sebaliknya dan agama yang mengikuti keinginan manusia. Padahal, mengikuti agama dan tidak mengikuti agama adalah sesuatu yang bersifat normatif yang tidak sama antara satu otoritas agama dengan yang lain. Artinya di sana selalu ada ruang perbedaan pemahaman terhadap teks bahkan sekelas sahabat rasulullah sekalipun.

Justru dalam rangka ketaatan itulah aspek sosio-historis umat perlu diperhatikan termasuk bagaimana mereka mencari solusi jalan tengah antara mentaati agama dan mengikuti tren zaman yang tidak sepenuhnya berlawanan dengan ajaran agama.

Umat memiliki kearifan sendiri dalam hal ini untuk tidak sepenuhnya 'menuruti' otoritas agama dan tidak sepenuhnya melawan mereka. Mereka memiliki caranya sendiri dalam merespon fatwa ulama dan mengkompromikannya dengan realitas yang ada. Lagu atau musik yang tidak jelas-jelas haram, tentu tidak akan mereka tinggalkan biar pun sebagian ulama mengharamkannya. Apalagi sebatas hiburan yang secara emosional terkendali, mereka bisa memperlakukannya secara proporsional. Sehingga tatkala datang waktu shalat, mereka tidak serta merta meninggalkan shalat demi lagu, tapi tetap menunaikannya. Dengan demikian alasan ('illat) dari diharamkannya lagu karena membuat orang lalai dari kewajiban agama menjadi tidak terjadi.

Dibandingkan dengan ulama lain, ulama Indonesia tergolong lunak dalam masalah lagu. Hal ini bisa jadi lantaran pertimbangan aspek sosio-historis masyarakat Indonesia sangat kuat. Alih-alih mengharamkan lagu, para penyebar Islam awal justru menjadikannya sebagai media dakwah. Para Wali Songo seperti Sunan Bonang terkenal dengan kemampuannya dalam membuat musik gamelan yang menjadi daya tarik masyarakat kala itu, abad kelima belas, untuk berkumpul dan berkenalan dengan Islam.

Kini, di era millennium tiga, musik sebagai media dakwah dan hiburan tidak lagi bisa ditolak. Meski sebagian pagelaran musik yang mengandung pornoaksi harus tetap ditolak dan dikritisi, pagelaran musik yang elegan dan bermartabat patut diapresiasi. Masyarakat mampu menimbang-nimbang sendiri  hal itu dan muslim millennial mampu menghadirkan keberagamaan yang kompromis dengan tren zaman.

Building Character Qualities: For the Smart, Pious, Honorable Nation

Ketentuan Pengguna

Semua isi yang ada di situs resmi UIN Sunan Ampel Surabaya boleh dilihat, disalin, dicetak, dan didistribusikan untuk tujuan non-komersial.

Statistik Website

shopify visitor statistics

Lihat Daftar Pengunjung Website

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

JL. A. Yani 117, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, 60237

+62 31 8410298

+62 31 8413300

humas@uinsby.ac.id

uinsa_surabaya

© Copyright 2018 - Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data