Mungkinkah Universitas Bangkrut?

Dr. Muhamad Ahsan - 28 Jan 2019

Mungkinkah Universitas Bangkrut?

*Oleh : Dr. Muhamad Ahsan

Beberapa hari lalu saya menerima email yang rutin dikirim dari salah satu institut tempat menimba pengetahuan dan pengalaman dalam pemberdayaan komunitas. Inti surel tersebut, pemberitahuan tentang restrukturisasi manajemen karena defisit anggaran. Restrukturisasi diperlukan untuk keberlanjutan program-program yang telah ditawarkan selama ini.

Bila kita mengikuti perkembangan dunia pendidikan, tentu hal ini menjadi biasa. Di Indonesia bahkan pemerintah sebagai regulator mengeluarkan regulasi untuk menggabungkan (merger) 200an perguruan tinggi swasta di Tahun 2018. Hal tersebut dilakukan untuk perbaikan pelayanan dan mutu akademik. Bahkan setahun sebelumnya pemerintah menutup 25 perguruan tinggi swasta dengan alasan administrasi yang tidak baik, konflik internal dan juga jual beli ijazah.

Di Amerika sepanjang Tahun 2016 sampai saat ini, universitas yang beroirentasi profit sekalipun lebih dari 60an yang tutup, sisanya melakukan merger dan diakuisisi oleh universitas lain. Ada sekitar 14 college dengan orientasi non-profit yang tutup dan ada sekitar 4 yang melakukan merger. Kampus publik/negeri yang melakukan konsolidasi ada sekitar 22, merger 13 dan 1 melakukan afiliasi dengan universitas lain. Menariknya, ada juga kampus yang dapat memulihkan kondisi finansialnya setelah mendapatkan donasi dari alumni ketika mengumumkan rencana penutupan kampus dan akhirnya masih mampu menawarkan programnya sampai musim semi 2019.

Masih menurut sumber yang sama, setelah melakukan merger dan penutupan. Beberapa universitas menawarkan program tambahan untuk memenuhi perubahan kebutuhan dari dunia industri. Ada yang menambahkan program berbasis artificial intelligent, robotic, automotive technology, e-sports dan gaming, military art and science technology, data science and information. Bahkan ada juga yang membangun pusat riset tunawisma dan teknologi smart city. Sisanya, membuka kampus di negara lain, membeli kampus di negara lain dan bermitra dengan kampus di negara lain, kebanyakan di London. Forbes on line bahkan memprediksi di Amerika gelombang kebangkrutan ini masih akan berlanjut sampai 15 tahun ke depan.

Apakah yang dialami universitas dan college di Amerika juga dialami oleh negara lain di dunia? Di London, menurut Moody’s Investor Service sebagai konsultan keuangan, 7 dari 9 universitas besar rating kreditnya mengalami masalah. Hanya Oxford dan Cambridge University yang ratingnya stabil. Fihak pemerintah telah memberikan bantuan pada universitas yang tidak disebut namanya untuk menyelamatkan mahasiswa sebesar  900.000 pound sterling (sekitar 16,7 miliar rupiah).

Lantas bagaimana dengan model universitas terbuka atau Open University (OU)? Sama, mengalami krisis juga. Jumlah peminatnya mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Penurunan peminat OU ini karena tuition fee yang mahal dan juga telah munculnya pesaing baru yaitu MOOCs (Massive Open Online Courses) yang lebih murah bahkan free alias gratis.

Bagaimana dengan OU di Indonesia? Data yang dilansir oleh UT pada tahun 2018 tercatat sebesar 302.484 mahasiswa (Desember 2018); Tahun 2015 tercatat 406.027 mahasiswa (Juni 2015). Jumlah mahasiswa Tahun 2016 dan 2017 tidak ditemukan di website UT. Dari data yang dilansir tersebut dapat dikatakan terjadi penurunan jumlah mahasiswa.

Institusi yang lahir, tumbuh, berkembang dan mati adalah siklus yang biasa. Bagaimana mencegah agar tidak mati, itu yang harus dilakukan para pengelola. Perguruan tinggi sebagai pintu mencerdaskan anak bangsa dan anak dunia sudah bukan merupakan satu-satunya sumber pengetahuan lagi. Gelombang teknologi, khususnya teknologi informasi telah membuka akses seluas-luasnya pada setiap individu yang ingin tumbuh dan berkembang. Catatannya adalah, pandai-pandai memilih situs yang dapat dipertanggung jawabkan kredibilitasnya.

Munculnya gelombang perusahaan-perusahaan yang merekrut karyawan tanpa melihat latar belakang pendidikan dan lebih berbasis pada skills seperti yang dilansir google telah menjadi kejutan baru bagi pemerhati dunia pendidikan. Akankah gelombang tersebut menjadi gelindingan bola salju? Tidak ada yang tahu karena perubahan teknologi begitu cepat. Seandainya iya, bagaimana antisipasi institusi pendidikan tinggi? Akankah domain institusi pendidikan tinggi diambil alih oleh lembaga sertifikasi yang terpercaya dan kredibel?

Muncul pertanyaan, bila memang itu terjadi apa yang harus dibenahi? Mungkinkah user lulusan perguruan tinggi lebih mempercayai lembaga sertifikasi atau sejenisnya?. Bila itu benar, berarti para pengelola perguruan tinggi di dunia ini harus melakukan audit proses (akademik dan finansial) agar matching dengan kebutuhan pasar. Satu hal yang harus dicermati, bila institusi pendidikan tinggi masih bergantung pada tuition fee mahasiswa sebagai basis finansial maka jumlah mahasiswa harus ditingkatkan. Namun, bila kampus memiliki sumber-sumber pendanaan lain maka sumber tersebut perlu dioptimalkan. Efisiensi disetiap lini harus benar-benar diterapkan. Tantangan lain yang tidak kalah beratnya, apakah kurikulum yang ditawarkan mampu memenuhi keinginan dari generasi Z dan kebutuhan pasar?

Ah... Cuma Allah yang tahu.

 

*Penulis adalah Dosen Manajemen - FEBI UINSA

 

Bahan bacaan:

Building Character Qualities: For the Smart, Pious, Honorable Nation

Ketentuan Pengguna

Semua isi yang ada di situs resmi UIN Sunan Ampel Surabaya boleh dilihat, disalin, dicetak, dan didistribusikan untuk tujuan non-komersial.

Statistik Website

shopify visitor statistics

Lihat Daftar Pengunjung Website

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

JL. A. Yani 117, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, 60237

+62 31 8410298

+62 31 8413300

humas@uinsby.ac.id

uinsa_surabaya

© Copyright 2018 - Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data