RADIKALISME DALAM KAJIAN PSIKOLOGI KELUARGA

Mohammad Ali, S.HI., M.H. - 30 Jan 2019

Kekhawatiran dari berbagai klaster sosial pendidikan atas bahaya bernama “radikalisme” hingga saat ini tidak apat disembunyikan. Bahkan karena sering disebut-sebut, radikalisme telah melahirkan banyak diskusi, seminar dan penelitian yang dilakukan para cendekiawan. Salah satunya sebagaimana diungkapkan dalam buku berjudul “Islam “Radikal” dan Pluralisme Agama” (Ummi Sumbulah: 2010). Terdapat beberapa hasil penelitian tentang radikalisme yang disebutkan dalam buku tersebut diantaranya; penelitian yang dilakukan Machasin memberian kesimpulan, bahwa akar teologis kekerasan agama dapat dilihat dari konsep jihad, memerangi orang kafir, dan totalitas Islam, yang banyak dirumuskan era peperangan, namun tidak dibaca secara komprehensif. Kemudian ada penelitian Ilyas, menggunakan perspektif normatif menyimpulkan, bahwa sikap gerakan Islam Radikal terhadap agama-agama lain, berbasis pada teologi eksklusif yang dikembangkannya. Selain hasil penelitian tersebut, tentu masih banyak hasil penelitian tentang radikalisme lainnya di luar sana.

Radikalisme sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti; (1) Paham atau aliran yang radikal dalam politik; (2) Paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dengan cara kekerasan atau drastis; dan (3) Sikap ekstrem dalam aliran politik. Sehingga radikalisme dapat dipahami sebagai sikap radikal yang sudah menjadi sebuah paham atau ideologi dan madzhab dalam pemikiran berikut tindakannya.

Berkaitan dengan radikalisme, masih terdapat beberapa istilah yang erat hubungannya atau seakar dengan kata radikalisme. Diantara istilah tersebut adalah radikal yang merupakan akar kata dari radikalisme sendiri, yang artinya seseorang yang berfikir berfikir secara mendalam, sampai ke akar-akarnya. Dan hal ini penulis sependapat, bahwa orang memang sudah seharusnya mempunyai cara atau konsep berfikir mendalam terutama mengenai permasalahan-permasalahan bangsa yang tak pernah usai, terutama dalam hal sosial-politik, ekonomi, dan penegakan keadilan. Lebih jauh dari hal tersebut, penulis tetap pada posisi semula, bahwa radikal diperlukan terutama dalam sebuah proses pendidikan agar tidak mudah terjerumus dalam penyakit radikalisme itu sendiri.

Lalu istilah yang berikutnya ada ‘radikalisasi’ yakni individu yang tumbuh menjadi pribadi yang reaktif terhadap keadaan yang jauh dari keadilan baik di lingkungan dimana ia hdup maupun lingkungan dalam arti luas. Terakhir, ada ‘deradikalisasi’ yang biasa dipahami sebagai upaya meminimalisir paham-paham yang dianggap radikal, membahayakan (yang multi-tafsir) dengan pendekatan yang mengesampingkan kekerasan.

Terlepas dari berbagai definisi dan kenyataan radikalisme di atas, nampaknya kita harus kembali menyadari lingkungan terpenting bagi individu, yakni keluarga. Dalam kajian Psikologi Keluarga, keluarga merupakan instansi terpenting dalam pembentukan kepribadian individu. Psikologi Keluarga sendiri merupakan disiplin ilmu yang harus dipahami tidak hanya sebatas teori, akan tetapi penting untuk dipraktikkan. Karena Psikologi Keluarga sebagai salah satu cabang dari Ilmu Psikologi yang secara khusus membahas perilaku individu dalam lingkungan keluarga dimana indvidu pertama kali dibentuk dasar kepribadannya (Ulfiah, Psikologi Keluarga: 2017/01).

Keluarga menjadi yang paling bisa membentuk sebuah kepribadian, bukan karena adanya individu-individu yang baik dalam lingkungan tersebut. Akan tetapi karena terdapat sebuah nilai dan kearifan suatu keluarga dalam menilai dan berpendapat mengenai prilaku, pandangan hidup dan prinsip yang kemudian mempengaruhi sikap dan mental individu.

Beberapa dari fungsi diantaranya pendidikan, sosial, agama, ekonomi, perlindungan, kasih sayang, dan fungsi biologis (Sri lestari: Psikologi Keluarga: 2013). Tentu dalam hubungannya dengan penyakit bernama radikalisme ini, keluarga menjadi yang paling diandalkan guna menetralisir bahkan menghapus adanya ‘penyakit’ tersebut.

Pada kesempatan ini, penulis menekankan khususnya pada fungsi Pendidikan. Dimana keluarga menjadi yang pertama dalam memperkenalkan dan mendorong individu mendapatkan pendidikan dan pengetahuan dasar lainnya dalam mengenali lingkungan. Terutama mengenai sopan santun.

Pada fungsiSosial, keluarga menjadi penentu bagaimana individu dapat berinteraksi dengan baik dengan lingkungan yang lebih luas. Sikap saling menghargai dengan sesama, terutama dapat menjadi contoh dalam bersosial.

Selanjutnya fungsi Agama, keluarga juga menjadi yang pertama memperkenalkan agama, terutama dalam lingkup perintah dan larangan dalam agama, dan segala aspek yang berhubungan dengan agama. Dalam hal ini juga tentang konsep dasar memahami agama sehingga dapat beragama dengan baik.

Kemulian yang tak kalah pentingnya dalam keluarga ialah fungsi Kasih Sayang, dimana keluarga menjadi tempat pertama dan utama mengenal cinta dan kasih sayang, sehingga dapat menyalurkan emosi dan berbagi kebahagiaan dengan tepat. Hal ini nantinya yang akan membuat individu bisa saling bertukar rasa antar sesama di lingkungan yang lebih luas.

Dengan fungsi keluarga dalam pandangan Psikologi Keluarga, khususnya empat fungsi tersebut diharapkan, nilai-nilai yang terdapat pada fungsi itulah yang akan membuat individu kebal. Sehingga tidak mudah tercemar penyakit khususnya radikalisme, apalagi terjangkit dan kecanduan. Oleh sebab itu, keluarga tidak bisa dihapuskan dari berbagai aspek sosial kehidupan. Karena keluarga merupakan unit terpenting dalam bangunan Masyarakat. Terakhir, bila ada yang terjangkit penyakit tersebut, maka segera pulang, ambil obatnya, terutama nilai-nilai yang terdapat pada empat fungsi keluarga tersebut.

Building Character Qualities: For the Smart, Pious, Honorable Nation

Ketentuan Pengguna

Semua isi yang ada di situs resmi UIN Sunan Ampel Surabaya boleh dilihat, disalin, dicetak, dan didistribusikan untuk tujuan non-komersial.

Statistik Website

shopify visitor statistics

Lihat Daftar Pengunjung Website

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

JL. A. Yani 117, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, 60237

+62 31 8410298

+62 31 8413300

humas@uinsby.ac.id

uinsa_surabaya

© Copyright 2018 - Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data