MEDIA PROMOSI HARUS ‘CALL TO ACTION’

- 12 Apr 2018

 

UINSA Newsroom, Kamis (12/04/2018); “Kalau melihat semangat anda semua, saya optimis Humas PTKIN akan semakin maju,” ujar Dr. Mastuki, M.Ag. Kehadiran orang nomor satu di jajaran Biro Humas, Data, dan Informasi (HDI) Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI dalam kesempatan Workshop Branding Syariah PTKIN hari ketiga, Kamis, 12 April 2018, menjadi oase tersendiri bagi peserta. Tak hanya mengisi materi, pada kesempatan tersebut Dr. Mastuki juga menjelaskan  banyak hal tentang gambaran PTKIN di Indonesia serta urgensi peran humas dalam upaya menciptakan branding.

Dibuka dengan presentasi dari masing-masing perwakilan PTKIN mengenai hasil studi lapangan pada hari kedua. Berdasarkan hasil ibservasi tersebut ditemukan kenyataan bahwa sebagian besar masyarakat kurang familiar dengan keberadaan PTKIN. Kalaupun tahu, hanya sebatas pada PTKIN yang ada di daerahnya. Mirisnya, ketika ditanya seperti apa PTKIN yang dimaksud, sebagian besar hanya menjawab tidak tahu. “Itulah kenyataan dari keadaan PTKIN kita. Tugas Humas untuk bisa mengubah hal ini,” ungkap salah seorang perwakilan dalam kesempatan presentasi.

Usai presentasi, Andika Dwijatmiko-Dj- yang kembali bertugas mengisi workshop, membuka sesi materi dengan permainan sederhana membuat gelas dari kertas. Pembuatan origami ini dilakukan dengan tiga sesi instruksi. Pertama, intruksi cepat tanpa kesempatan bertanya. Kedua, Intruksi langsung dengan berhadapan. Dan Ketiga, Intruksi detail dan perlahan. “Apa yang bisa kita pelajari? bahwa perintah dari atasan itu, jika dilakukan dengan benar akan memperkecil tingkat kesalahan,” ujar Dj.

Pada kesempatan kali ini, Dj menjelaskan tentang pola promosi yang biasa dilakukan dalam kinerja kehumasan. Mulai dari konsep ATL (Above The Line), BTL (Below The Line), hingga TTL (Through The Line). “Apapun media yang kita gunakan intinya cuma satu, media yang kita sebarkan harus Call to Action. Mengajak orang untuk melakukan aksi,” tegas Dj.

Pemateri lainnya, Drs. H. Bono Setyo, M.Si., dan Mokhammad Mahfud, S.Sos.I., M.Si., mengisi materi lanjutan mengenai Digital Era, Effective Communication/Media Monitoring. Drs. Bono, dalam paparannya menjelaskan, bahwa komunikasi harus bisa menciptakan kesamaan persepsi. Jika tidak, maka sejatinya belum terjadi komunikasi. Sebab, komunikasi yang efektif, menurut Drs. Bono, sedikitnya haru memuat dua hal. Yakni, adanya efek/dampak dan persamaan pengertian.

 “Media sosial cenderung digunakan untuk branding. Sedangkan media mainstream bisa digunakan untuk mengetahui tingkat kekurangan kita melalui respon masyarakat,” ujar Drs. Bono. Sehingga, dengan melakukan monitoring terhadap keduanya akan memastikan setiap isu ditangani secara cepat dan tepat. Salah satunya melalui cara identifikasi berita dari kliping media massa.

Usai diselingi dengan sesi ishoma (Istirahat, Sholat, dan makan), paparan materi dilanjutkan dengan narasumber berbeda. Kali ini, diisi Staf Khusus Menteri Agama RI, Hadi Rahman dan dilanjutkan Kabiro HDI, Dr. Mastuki, M.Ag. Mengawali paparannya, Hadi Rahman menegaskan pentingnya informasi disampaikan dengan efektif dan tepat sasaran. “Jangan harap orang akan care terhadap instansi kita, jika mereka tidak terinformasikan,” tegas Hadi Rahman.

Selain itu, Hadi Rahman juga menegaskan bahwa pentingnya mengetahui nilai-nilai serta persepsi yang ada di masyarakat mengenai kampus. Hal ini guna mengetahui dengan tepat langkah yang harus dilakukan dalam upaya meningkatkan branding. Branding  itu mendekatkan jarak antara persepsi kita (instansi) dengan persepsi publik,” ujar Hadi Rahman.

Sementara itu, dalam kesempatan pamungkas, Dr. Mastuki menyampaikan mengenai kebijkan bidang kehumasan Kemenag RI. Dr. Mastuki memaparkan tentang bagaimana haji dan umroh telah menjadi tugas dan fungsi utama Kemenag RI sejak pertama berdiri. Namun, institusi dibawah Kemenag RI hingga saat ini belum ada satupun yang memiliki prodi khusus tentang haji.

Sedangkan kaitannya dengan branding, Dr. Mastuki menjelaskan, bahwa branding itu dimulai dari dalam. Hal itu, menurut Dr. Mastuki, harus menjadi kesadaran bersama, dimana Humas memiliki peran vital untuk bisa melakukan branding  instansi dari hal-hal kecil. “A brand is not logo. It’s a thousand  experience,” ujar Dr. Mastuki. (Nur/Humas)

Building Character Qualities: For the Smart, Pious, Honorable Nation

Ketentuan Pengguna

Semua isi yang ada di situs resmi UIN Sunan Ampel Surabaya boleh dilihat, disalin, dicetak, dan didistribusikan untuk tujuan non-komersial.

Statistik Website

shopify visitor statistics

Lihat Daftar Pengunjung Website

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

JL. A. Yani 117, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, 60237

+62 31 8410298

+62 31 8413300

humas@uinsby.ac.id

© Copyright 2018 - Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data