Kolom > Puasa Ramadan Dan Cermin Bersama

Puasa Ramadan dan Cermin Bersama

Ramadan merupakan bulan kebersamaan. Euforia Ramadan menjadi penanda realisasi kesejatian iman dalam diri. Pada bulan yang suci ini gema kebersamaan menggema di berbagai tempat. Dari aktivitas buka bersama, tarawih, tadarus, kegiatan sosial, bazar, dan segenap model kebersamaan yang menyemarakkan keagungan Ramadan sebagai bulan yang disucikan di dalam Islam. Semua ini menjadi penanda bahwa Ramadan adalah bulan untuk meneguhkan kesadaran kolosal umat Islam.

Ramadan mendatangkan rahmat bukan hanya sebatas pada konsepsi metafisik dan spiritual, namun mengarah pada realitas empirik relasi sosial dan kesetaraan ekonomi melalui berbagai aktivtas bersama. Buka yang digelar bersama misalnya, memberikan kesempatan pada kaum papa merasakan nikmatnya makanan yang lezat, tarawih dan tadarus bersama untuk mengukuh solidaritas Ilahiyah. Segenap kegiatan tersebut, sekali lagi menarasikan pengukuhan teologis-kultural manusia sebagai hamba Allah yang terus menghamba mencapai derajat kesempurnaan iman.

            Puasa sebagai ibadah utama dalam Ramadan, memegang kunci pengendailan diri yang selama ini kerap menjadi pemicu lahirnya tindakan destruktif. Rusaknya nalar dan solidaritas kebersamaan, lahir akibat hilangnya kesadaran pengendalian diri. Berbagai kegaduhan yang belakangan ini terjadi dalam nalar kebangsaan kita, dari penistaan agama, politik ecek-ecek, kasus eceran pornografi, dan segala hal yang selama ini mengguncang ikatan kesatuan kita sebagai warga bangsa yang satu, merupakan efek berantai dari hilangnya kemampuan untuk mengendailkan diri.

            Momen Ramadan dalam ini konteks memiliki relevansi yang sangat kuat untuk meneguhkan pengendailan diri umat Islam sebagai mayoritas di Indonesia. Posisi mayoritas menjadi kunci penting pada arah kebangsaan kita. Kalau tak bisa dikendailan dengan baik bisa melahirkan tirani mayoritas, yang efeknya sangat besar bagi keutuhan kita sebagai saudara sebangsa-setenah air. Karena itu, umat Islam Indonesia harus hadir sebagai pribadi yang bisa merealisasikan secara konkret makna utuh dari puasa sebagai pengendalian diri. Lebih dari itu, spirit yang dibanguan seluruh ajaran Islam adalah bangunan hidup yang menyatu antara Islam sebagai ajaran teologis dan implementasinya sebagai nilai antropologis.

            Umat Islam telah diproyeksikan Tuhan sebagai umat terbaik (khaira ummah), yang menjadi pionir tegaknya nilai-nilai kebaikan (ta’muruna bil ma’ruf) dan pencegah lahirnya kerusakan jalan hidup (tanha ‘anil fahsya’i wal mun’kar). Proyeksi besar Tuhan tentang umat Islam ini, harus dihadirkan sebagai kerangka pijakan kehidupan berbangsa-benegara. Apalagi dalam kondisi gaduh seperti ini, butuh kesejukan hati dan pikiran. Puasa sebagai salah satu ibadah pokok dalam Islam sekaligus perangkat teologis untuk merealiasikan proyeksi khaira ummah, harus bisa dihadirkan secara nyata dalam bentuk pengendalian diri untuk meneguhkan kembali kesadaran diri sebagai bangsa yang satu, yang harus mengedepankan harmoni dan semangat persatuan.

            Kedamaian dan kesejukan yang hadir dalam Ramadan harus menjadi cermin bersamadalam melihat diri sekaligus melihat realitas kebangsaan kita. Nilai kebersamaan yang terus digelar umat Islam harus menjadikan pijakan nilai yang mestinya dilanjutkan bukan hanya pada saat Ramadan dan bagi umat Islam, namun untuk semua bulan dan untuk semua umat manusia. Supaya Islam sebagai agama rahmatal lil’alamin benar-benar bisa dihadirkan secara konkret. Menjadi agama yang sejuk menyejukkan, yang tentram menentramkan, dan yang damai mendamaikan. Semoga.  


Baca Juga

CONNECT WITH US