Kolom > Kembali Ke Uinsa Membawa Kesan Dan Pesan Amerika Catatan Hari Ke 45-50 (surabaya, Sabtu-kamis, 15-20 April 2017) Perjalanan Tour Dakwah Amerika Canada

KEMBALI KE UINSA MEMBAWA KESAN DAN PESAN AMERIKA Catatan hari ke 45-50 (Surabaya, Sabtu-Kamis, 15-20 April 2017) Perjalanan Tour Dakwah Amerika Canada

           Selasa malam (18/4) inilah terbang terakhir dan paling menyenangkan selama tour dakwah ini. Apalagi pramugara Turkish Airlines yang bercambang tipis dan berhidung mancung meminta saya berpindah ke kelas eksekutif, “Mr. Aziz, this is your new seat.” Benar-benar menambah kenyamanan dan kegembiraan. Sama sekali di luar perkiraan saya, keluarga dan panitia pengundang bahwa saya bisa melalui perjalanan dengan lancar dan kesehatan yang tetap prima dalam tour panjang ini, dari Surabaya, Jakarta, transit Istanbul (12 jam) lalu ke Amerika, mulai dari Houston-Texas, Melwaukee dan downtown-Chicago, Indiana, Ottawa, Toronto-Canada - Los Angeles, San Bernardino- California, Las Vegas, Seatle-Washington State, Phoenix-Arizona, Denver-Colorado, San Fransisco, Los Angeles, California (untuk kedua kalinya), dan insya-Allah beberapa jam lagi tiba kembali di kampus UINSA Surabaya. “Pak ustad is the real conquerror of North America,” (wah, bapak benar-benar penakluk Amerika Utara), kata bapak Dwirana Satyavat, presiden IMF (Indonesia Muslim Foundation), salah satu lembaga yang bekerjasama dengan ICMI North America yang mengundang saya. Sudah banyak ustad Indonesia diundang ke Amerika utara ini, tapi biasanya minimal dua orang untuk mengisi dakwah di beberapa lokaliti dakwah tersebut. “Bukan seorang seperti pak ustad,” tambahnya.

                       “Salam yo, kanggo dulur-dulur Ampel,” (salam ya untuk saudara-saudara Ampel), kata Bapak Ardi Hermawan, konjen KJRI San Farnsisco, asli Surabaya sambil melambaikan tangan ketika saya memasuki mobil. Maksudnya, “Salam untuk keluarga besar UIN Sunan Ampel.” Saya mengetahui maksud salam itu, karena sebelumnya sudah berbicara banyak tentang Surabaya dan kampus UINSA yang selalu disebutnya IAIN, meskipun sudah saya jelaskan bahwa sekarang berubah menjadi universitas. “Pak Billy, untuk khatib Idul fitri di San Fransisco nanti, orang Ampel ini saja,” pintanya pada bapak Billy Muchtar, ketua ICMI North America yang duduk di depannya

(Picture1: Depan masjid yang dibangun muslim Indonesia bersama muslim Afrika dan Timur Tengah di Arizona).

            Beberapa kali, sebutan Sunan Ampel menimbulkan salah paham oleh komunitas muslim Indonesia di beberapa negara, termasuk di Amerika ini, antara sebagai nama perguruan tinggi dan nama masjid Sunan Ampel yang sama-sama berlokasi di Surabaya. Yang paling menggelikan adalah ketika saya mengisi halal bihalal setelah khutbah idul fitri di Macau-China kira-kira tujuh tahun yang lalu. Sebelum mempersilakan saya naik panggung, pembawa acara meminta semua hadirin yang mayoritas TKW (Tenaga Kerja Wanita), “Hadirin, mohon didengarkan dengan baik-baik pengajian yang akan disampaikan oleh Bapak Moh. Ali Aziz, keturunan dari waliyullah mbah Sunan Ampel Surabaya. Kita sangat beruntung kedatangan beliau. Sekali lagi, mohon perhatian, khususnya yang berada di barisan belakang, jangan berbicara sendiri,” dengan nada serius, tanpa dibuat-buat. “Apa, keturunan mbah Ampel?,” heran saya dalam hati, lalu terpingkal-pingkal, sampai sisa minum dalam mulut sedikit muncrat ke meja. Ada lagi kasus yang mirip, “Pak kiai, terakhir saya ziarah ke mbah Ampel dua tahun silam. Nanti jika saya sudah sembuh total saya akan ziarah lagi. Semoga kita bertemu di sana pak ya!” Wah, ini lebih gawat lagi, sudah memanggil saya pak kiai, plus diajak melekan atau berzikir semalam suntuk di makam juga. Siapa kuat ? ha ha.

            “Kamu jangan hanya tertawa. Itu semua berarti kamu diberkahi oleh Sunan Ampel,” tegur saya dalam hati kepada diri sendiri untuk menghentikan tawa. Jadi, siapapun yang pernah belajar di kampus UIN Sunan Ampel, apalagi sebagai dosen dan karyawan, ia berarti menggendong nama besar Sunan Ampel. “Jangan-jangan kamu dipercaya orang juga karena kebesaran nama Sunan Ampel, bukan karena gelar kesarjanaanmu, “ tambah saya dalam hati.

            “Apa kesan-kesan bapak dari tour dakwah ini?” tanya Dwirana Satyavat atau sering dipanggil pak Avat, ketua IMF pada pengajian terakhir sekaligus malam perpisahan di masjid Al Ikhlas KJRI Los Angeles, California. “Baiklah pak, ini kesan saja ya, bukan kesimpulan, karena saya tidak melakukan penelitian mendalam,” jawab saya sambil sama-sama menikmati masakan Padang dan teh panas di kantor masjid yang persis bersebelahan dengan tempat bedug, sebagaimana saya tulis pada catatan saya sebelumnya, “Bedug kentong Penggetar Hollywood.” Belum sempat meneruskan pembicaraan, seorang warga keturunan Yaman, Al Katiri menyela, “Pak, terima kasih, punggung saya yang sakit bertahun-tahun, sekarang banyak berkurang, setelah saya paksakan melakukan rukuk seperti yang bapak ajarkan.” “Oh ya pak, terima kasih,” respon saya singkat kepada pria berkaos hitam berambut kribo tersebut, sebab ketua IMF sedang menunggu jawaban dari pertanyaannya tentang kesan dakwah di Amerika.

            “Maaf, tidak sistematis pak, karena mendadak, “ kata saya memulai penjelasan. Pertama, masyarakat muslim Indonesia, dan muslim pada umumnya di Amerika dan Canada, yang selanjutnya saya sebut Amerika Utara, sangat diuntungkan berada di tengah masyarakat yang sangat toleran, bahkan penuh dukungan untuk pengamalan Islam dan pengembangan dakwah. Tidak dinafikan bahwa ada beberapa orang Amerika yang tidak suka, bahkan melakukan vandalisme terhadap komunitas muslim, tapi mereka sebagian kecil saja dan tidak mewakili sikap orang Amerika dan Canada pada umumnya. Persoalan utama dakwah muslim Amerika Utara hanyalah pada masalah dana. Misalnya, mereka tidak memiliki dana untuk membeli ratusan gereja yang ditawarkan kepada mereka. Padahal pengurus gereja lebih suka dibeli oleh muslim untuk ibadah daraipada untuk tempat hiburan atau bisnis. Tantangan dakwah yang sebenarnya adalah ukhuwah Islamiyah internal muslim Indonesia atau antar etnis muslim dari berbagai negara itu sendiri, bahkan perseteruan antar berbagai faham di Indonesia dan masing-masing negara terbawa sampai ke Amerika utara ini.

            Kedua, secara umum, semangat keagamaan dan regenerasi dakwah untuk anak-anak komunitas Indonesia sangat tinggi. Tapi, mereka yang di Canada lebih kuat dan prospektif daripada di Amerika Serikat. Ketiga, dalam pengamalan keagamaan, baik yang terkait dengan ibadah murni, seperti shalat, puasa, taraweh ataupun pergaulan sehari-hari, komunitas Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh pola keagamaan timur tengah daripada pola Indonesia. Keempat, kualitas keagamaan komunitas Indonesia yang telah memiliki tempat khusus untuk basis kegiatan, khususnya yang berbentuk masjid, baik atas nama khusus komunitas Indonesia atau bersama komunitas lain, lebih baik daripada lokaliti yang belum memilikinya.

            “Oh begitu pak ya!,” heran pak Avat. Kelima, Amerika utara ini bisa disebut “pesantren besar,” sebab kebanyakan orang Indonesia yang semula minus pengetahuan agama dan pengamalannya, bahkan nol sama sekali, berubah menjadi plus pengetahuan Islam dan pengamalannya. Tidak sedikit mereka yang berprilaku negatif selama di Indonesia, berubah menjadi orang sholeh. “Sekali lagi bukan semuanya lho pak, sebab sebagian dari mereka yang masih jauh dari agama atau berubah menjadi atheis juga ada,” kata saya menekankan. “Bahkan setelah merasa pintar, semua orang disalahkan, dipandang bid’ah, atau musyrik,” kelakar pak Billy ketika mengantar saya ke bandara dengan BMW Z4-nya yang mungil dan istimewa.

            “Baik pak ustad, apa lagi?,” pinta pak Avat sambil membuka mesin milik masjid untuk memfotokopi catatan-catatan penting untuk pribadi yang saya rancang kelak untuk materi pelatihan terapi shalat tingkat intermediate sebagai kelanjutan tingkat elementary yang sekarang. Setelah minum teh dan mengingat-ingat agak lama, saya meneruskan kesan yang diminta. Keenam, terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, ditanggapi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia di Amerika Utara sebagai ujian besar yang harus dihadapi. Tapi, bagi sebagian yang lain justru dipandang sebagai rahmat, sebab semua masjid yang telah dirusak oleh kelompok anti-Islam, sekarang dalam proses rehab dengan pembangunan yang lebih megah. Kebersamaan antara semua pemeluk agama dengan komunitas muslim juga menjadi lebih kuat, serta rasa penasaran orang Amerika terhadap Islam sejak kebijakan kontroversial Trump tersebut juga semakin tinggi dengan indikator meningkatnya non-muslim yang belajar Islam di berbagai masjid di Amerika

(Picture2: Kampanye cinta Tuhan dan cinta Manusia di Los Angeles).

            “Kesan yang menyangkut kehidupan keluarga pak?” tanya pak Avat. “Wah soal yang berikut ini, saya nilai 100 pak,” jawab saya. “Kesan ketujuh, selama saya berceramah di Amerika Utara ini, belum ada satupun pertanyaan atau konsultasi komunitas muslim Indonesia tentang perselingkuhan, baik oleh istri atau suami,” kata saya membandingkan dengan tingginya frekwensi pertanyaan atau keluhan serupa di Indonesia. “Ini mungkin kesimpulan yang tergesa-gesa pak, tapi semoga benar pak,” harap saya. Berdasar pengakuan semua orang yang saya tanya tentang hal itu, mereka sepakat bahwa kondisi positif itu disebabkan setiap suami istri memiliki kesibukan kerja masing-masing yang sangat padat. Tidak ada satupun keluarga muslim Indonesia yang memiliki pembantu rumah tangga. Semua harus dikerjakan sendiri, misalnya pekerjaan untuk nafkah keluarga, mengantar dan menjemput anak sekolah yang rata-rata puluhan kilometer jaraknya dari rumah, mengatur rumah tangga, dan sebagainya. “Poligami di sini termasuk kriminal pak. Tidak bisa macam-macam seperti di Indonesia,” kata ibu-ibu peserta pengajian. Selain hal itu, faktor lain yang juga dominan, bahwa komunitas Indonesia sangat kecil, sehingga semua orang akrab seperti saudara kandung, sebagaimana terlihat pada setiap perkumpulan pengajian.

            Kedelapan, peran komunitas muslim Indonesia dalam kancah dakwah secara lebih luas di Amerika masih jauh di bawah peran komunitas muslim yang lain dari Pakistan, India dan timur tengah. Kesembilan, semua warga Indonesia di Amerika memiliki rasa nasionalisme yang kuat, sekalipun sebagian mereka telah memiliki kartu hijau (green card) ataupun berganti kewarganeraan sebagai warga negara Amerika.

            Kesepuluh, masih terkait dengan kesan kesembilan, bahwa setelah mengenal lebih dekat keahlian bangsa Amerika utara dalam bidang tekonologi, ilmu-ilmu sosial, ilmu keagamaan dan sain-sains lainnya, komunitas Indonesia di Amerika utara percaya diri dan bangga memiliki kecerdasan dan keahlian yang tidak kalah dengan mereka dalam berbagai saintek tersebut. Hanya saja, potensi WNI tersebut terkendala oleh tiga hal, yaitu akses, dana dan bahasa internasional.

            “Luar biasa, kesan-kesan itu pak,” kata pak Avat, ketua IMF yang selalu on time pada setiap acara itu. “Terima kasih pak Avat. Tapi, masak saya terus yang bicara pak,?” jawab saya sekaligus meminta beliau memberi kesan atas semua kegiatan saya. “Baik pak, materi terapi shalat bahagia benar-benar baru bagi saya dan masyarakat Indonesia di Amerika ini. Saya juga sudah mempraktekkan secara bertahap dan merasakan kenikmatan yang dahsyat selama shalat. Jauh hari sebelum bapak kemari, saya sudah mendapat telepon dari kawan-kawan setelah bapak tampil pertama kali di Houston Texas. Great and thanks pak,” katanya menutup pembicaraan sambil berdiri untuk berjabat tangan pamit kepada semua jamaah di Los Angeles dan harus menyiapkan kopor untuk kembali ke Surabaya pada hari berikutnya.

            Sehari sebelumnya, Bapak Billy Muchtar, ketua ICMI North America juga memberi komentar tour dakwah saya, “Satisfied, satisfied (puas, puas),” sambil mengacungkan jempol. “Saya bersaksi, saya menemukan kebahagiaan melalui terapi shalat bahagia. Jalan hidup dan sumber rizki juga saya rasakan lebih lapang dan menggairahkan,” kata Ibu Nies Hadi, karyawan pemakaman Islam di Islamic Center Los Angeles. “Saya rentan, mudah sakit. Sekarang lumayan berkurang dan merasakan lebih fresh, “ kata Bonita Davitt di Arizona. “This is very interesting teaching of shalat that really makes me happy, “ kata brother Omar, pria berkulit hitam tinggi besar, pengagum Muhammad Ali yang sehari-hari sebagai polisi California. Pernyataan yang sama juga dikatakan oleh brother Yusuf, muslim Amerika yang juga tak kalah besarnya dan berhasil menyunting gadis Palembang. “Bahasa Inggris bapak, yah..lumayan, tapi kami bisa memahami maksudnya,” kata Zulfian E Harahap, mantan direktur Masjid Istiqlal Houston, Texas. Perhatikan kata “lumayan” tadi. Kata itu benar-benar memacu saya untuk belajar bahasa dan mempraktekkannya lebih serius dan kontinyu.

            “Eeh, eeh, jangan GR alias too proud,” tegur saya dalam hati. “Jangan berharap menuai pujian untuk semua yang Anda lakukan. Jangan bermimpi semua orang menyukai Anda. Para nabi, manusia-manusia pilihan Allah sebaik itupun tidak sepi dari para pembencinya,” pesan saya kepada semua peserta pelatihan terapi shalat di negeri tercinta ataupun di manca negara. Nasehat itupun saya tanamkan kepada semua mahasiswa dan anak-anak saya. Sayapun menyuntikkan “nasehat kuda-kuda” itu pada diri saya sendiri agar tidak terkejut ketika menjumpai orang yang tidak berterima kasih, bahkan mencaci dan meludahi saya. Dalam hidup selalu ada orang yang digambarkan Al Qur’an sebagai “laumata laa-im” yaitu orang yang otaknya lebih bermuatan energi negatif daripada positif, lebih mudah mencaci daripada menghargai orang, bahkan nyaris terkena sariawan jika sehari telat mencela orang. Bersiaplah dan keep smile please!.

            Benar, inilah beberapa komentar “laumata laa-im” di antara mereka, walaupun hanya satu sampai tiga orang. “Wah pak, ini shalat macam apa,? Badan saya jadi sakit terutama dahi dan pesendian” “Untuk apa doa dipanjang-panjangkan dan dispesifikiasikan? Tidakkah Allah sudah mengetahui apapun yang tersirat dalam hati kita?” “Shalat seperti ini tidak cocok untuk Amerika yang super sibuk seperti ini!” Demikian kata mereka. Ha ha, atas komentar-komentar tersebut, saya jadi semakin yakin kebenaran Al Qur’an bahwa hanya sedikit orang di sekitarmu yang memberi apresiasi. “Bebaskan dirimu dari ekspektasi apresiasi orang. Semakin tinggi harapanmu akan apresiasi orang, semakin dekat jarakmu pada pintu kecemasan,” pesan utama dalam setiap gerakan bangkit dari rukuk yang tertulis dalam buku saya.

            Setelah kesan-kesan telah saya ungkapkan, maka inilah saatnya saya menyampaikan pesan Amerika untuk almamater tercinta, UINSA, “Saya bangga sebagai alumni UIN Sunan Ampel. Secara keilmuan, alumni kita sudah memiliki kemampuan untuk berkiprah secara meyakinkan dalam dakwah di Amerika dan Canada. Akses sudah terbuka, termasuk oleh tour dakwah saya. Tinggal dua saja yang kurang, yaitu kemampuan bahasa internasional, khususnya bahasa Arab dan Inggris yang harus maksimal, tidak lagi “lumayan” seperti saya. Kedua, penajaman kaidah-kaidah dan filusufi syariat Islam karena banyak masalah fikih yang aktual dan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang akidah Islam.” (Los Angeles 18-4-2017)

(Picture 3&4: Latihan "pegang" golf di San Bernardino. Masak saya harus ceramah terus tanpa olah raga dan hiburan?).


Baca Juga

CONNECT WITH US