Kolom > Berkurban Tanpa Mencemari Lingkungan

Berkurban Tanpa Mencemari Lingkungan

Seminggu terakhir ini, seringkali kita menjumpai binatang ternak “hewan kurban” menghiasi ruang publik kita. Puluhan bahkan ratusan sapi berjejer “manis” di sepanjang jalan. Misalnya, di Jl. A. Yani. Sapi-sapi itu bukan untuk dipamerkan, tapi sengaja untuk dijual. Harganya pun bervariasi sesuai besar kecilnya sapi.

Ironisnya, kandang sapi “darurat” yang dipasang di pinggir jalan atau rel kereta itu, seringkali kurang memerhatikan kebersihan. Tak heran, jika bau kotoran sapi menimbulkan aroma yang tak sedap di sepanjang jalan menjelang idul qurban. Inilah yang seharusnya diantisipasi oleh para penyedia jasa binatang ternak di pinggir jalan itu.

Simbolisasi Kurban

Keberadaan sapi-sapi itu, rupanya dalam rangka menyambut Idul Adha yang juga dikenal idul qurban yang segera tiba. Berkurban memang dianjurkan dalam Islam. Qurban sendiri dalam bahasa arab berakar kata dari qaruba. Akar kata ini membentuk kata: qurb (dekat), taqarrub (mendekatkan diri) aqriba' (kerabat) dan sebagainya. Menurut pakar bahasa Arab, qurban bermakna suatu sarana untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah swt. (Lisanul Arab 19:211, Mu’jam Al-Wasith 1:537).

Kurban dalam perspektif fikih adalah menyembelih binatang ternak, baik berupa onta, sapi ataupun kambing dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt. Menurut para ahli hukum Islam, hukum ibadah qurban adalah sunnah muakkadah. Dalam mazhab Syafi’iyah, bila seseorang masih punya sejumlah uang di luar kebutuhan dan biaya hidupnya pada hari raya dan tiga hari berikutnya (ayyam at-tasyriq), maka baginya berlaku anjuran berkurban.

Tradisi berkurban sejatinya tidak hanya dalam ajaran Islam. Penyembelihan hewan juga ditemukan dalam tradisi masyarakat Yunani kuno yang dikenal dengan istilah ‘Hierieia’ (ouranic god) dan ‘Shagia’ (othonic god). Praktik menyembelih hewan juga terjadi di kalangan umat Hindu dalam ritual sakralnya dikenal dengan kurban dan diawasi langsung oleh kaum Brahmana.

Dalam Islam, makna simbolisasi kurban sejatinya anjuran menyembelih sifat-sifat kebinatangan manusia. Misalnya, sifat egois, serakah, rakus, menindas, usaha memperkaya diri sendiri, memonopoli seluruh sektor perekonomian, korupsi, tidak taat aturan, bertindak amoral, arogan, bersikap apatis dan sebagainya. Sifat-sifat negatif inilah yang harus dikorbankan alias dimusnahkan dari diri manusia.

Berkurban Ramah Lingkungan

Dalam Islam, merusak dan mengotori lingkungan adalah perbuatan terlarang. Manusia sebagai wakil Tuhan di bumi ini bertugas untuk menjaga dan melestarikan lingkungan. Banyak ayat yang menunjukkan bahwa perbuatan merusak (mufsidin) dalam al-Qur’an dikaitkan dengan ketauhidan. Itu artinya, bahwa perusak lingkungan dapat dikategorikan kufur lingkungan.

Terkait dengan penyelenggaraan penyembelian hewan kurban sudah seharusnya dilakukan dengan pertimbangan aspek lingkungan. Kebersihan dan perlakuan “etis” terhadap hewan kurban yang hendak disembelih juga harus diperhatikan. Jangan sampai, hewan-hewan itu stres dan menjadi sakit sehingga dagingnya menjadi kurang higenis dan maksimal.

Salah satu etika Islam dalam menyembelih hewan adalah dilakukan dengan pisau yang tajam dan tidak menyiksa. Oleh karena itu, menyembelih hewan kurban harus dilakukan dengan benar, baik dan beretika. Karena bila dilakukan dengan asal-asalan bisa berdampak pada status kehalalan daging kurban.

Penyembelih kurban hendaknya berhati-hati menangani hewan kurban karena darah ternak yang disembelih bisa berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Bahaya darah segar dari hewan kurban ini karena mengandung banyak protein sehingga dihinggapi lalat dan mudah menempel bakteri dan mencemari lingkungan.

Salah satu prosedur dalam penyembelihan hewan kurban yang baik adalah dengan membuat lubang untuk menampung darah yang mengalir supaya tidak berceceran ke tempat lain. Setelah darah terkumpul dan semua hewan yang disembelih rampung, lubang tersebut bisa ditimbun tanah supaya aman dan juga tidak dimakan oleh hewan lainnya. Jangan sampai darah-darah itu mengotori lingkungan dan aromanya menganggu masyarakat sekitar.

Dengan demikian, kesalehan ibadah kurban secara sosial, harus diikuti dengan kesalehan lingkungan. Inilah wujud ketaatan habluminallah, habluminannas dan hablumminal alam (relasi manusia, Tuhan dan alam semesta). Waallahu a’lam.[]


Baca Juga

CONNECT WITH US