Kolom > Dimanakah Posisi Ptkin Indonesia (menyoal Publikasi Ilmiah Terindeks Scopus)

Dimanakah Posisi PTKIN Indonesia (Menyoal Publikasi Ilmiah Terindeks Scopus)

Kementrian Ristek Dikti selalu mendengung-dengungkan tentang salah satu indikator kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari suatu negara adalah banyaknya hasil penelitian yang dipublikasikan dan dimanfaatkan. Saat ini publikasi Indonesia di internasional sangat minim, dan dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia dan Thailand masih jauh tertinggal. Dampak terbesar yang ditimbulkan dari rendahnya publikasi ilmiah peneliti Indonesia di internasional adalah rendahnya daya saing bangsa di dunia internasional, sehingga akan berpengaruh secara tidak langsung terhadap laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bahkan pada tahun ini Ristek Dikti mengeluarkan Permen no 20 tahun 2017 mewajibkan profesor untuk menulis di jurnal international, dengan asumsi ada sekitar 5800 professor di Indonesia akan dapat meningkatkan jumlah jurnal internasional dari Indonesia.

Lantas, bagaimana posisi kita (Baca: PTKIN di Indonesia)?. Akhir tahun 2016 Ristek Dikti mengeluarkan rilis tentang buku profil peringkat 50 besar institusi Indonesia terindeks Scopus. Ada yang menarik jika dilihat dari buku tersebut yang masuk 50 besar dari sekian banyak PTKIN di Indonesia hanya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan peringkat 32. Dari data dapat dilihat sejak 2002 sampai Juni 2016 total ada 210 dokumen (326 dokumen per tanggal 27 September 2017) yang berarti separuh lebih kontribusi UIN Syarif Hidayatullah terhadap banyaknya jurnal internasional di kalangan PTKIN dengan sebagian besar (47% berbentuk article) serta 42% berbentuk conference paper, serta sisanya berbentuk book chapter, review, dan book. Untuk detailnya, hasil dari penelusuran menggunakan afiliasi institusi di PTKIN dengan Kata kunci yang digunakan ialah : kalijaga, syarif hidayatullah, maulana malik Ibrahim, gunung djati, sunan ampel, walisongo, sultan syarif kasim, alauddin, ar-raniry, raden fatah, iain mataram, raden intan, syekh nurjati, palopo ditemukan 540 dokumen yang terekam di indeks Scopus dari tahun 2002 sampai 27 September 2017. Bandingkan dengan satu kampus saja, semisal Universitas Indonesia, hanya di tahun 2017 sampai dengan tanggal 27 September 2017 sudah terekam 1.393 dokumen, dengan jumlah total dokumen keseluruhan 7.853 dokumen.

Lantas, apa yang salah? Padahal rilis resmi Kementrian Agama lewat Diktis pada tanggal 11 September 2017, Kementrian Agama juga sedang menyiapkan dana 240 Miliar untuk penelitian di tahun  2018. Seharusnya dana sebesar itu dapat membuat penelitian mendatang yang berkualitas di lingkungan PTKIN. Kenapa pula dari sekian banyak PTKIN hanya UIN Syarif  yang bisa masuk 50 besar?. Padahal jika ditelisik jumlah prodi S2 atau S3 serta jumlah doktor dan profesor yang sangat banyak. Hemat penulis ada beberapa sebab yang menyebabkan ini antara lain: (1) Minimnya akses referensi untuk penulisan publikasi. Meskipun ini tidak sepenuhnya benar, karena sekarang sudah banyak situs cheating yang beredar luas seperti situs yang dibuat Alexandra Elbakyan (sci-hub) sebagai aksi tidak setujunya kawan-kawan terhadap kapitalisme ilmu pengetahuan; (2) Kolaborasi penelitian. Inipun jarang dilaksanakan sebab ego sektoral serta penelitian kawan-kawan humaniora atau social science yang biasanya tidak membutuhkan tim yang banyak: (3) Minimnya jurnal Indonesia bereputasi internasional, bisa dilihat dari 25 jurnal yang sudah terindeks Scopus hanya 3 yang baru dimiliki oleh PTKIN yaitu Al Jami’ah UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, Studia Islamica UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan JIIS UIN Sunan Ampel Surabaya; (4) Biaya dan insentif publikasi di jurnal internasional yang sangat minim, ini juga merupakan salah satu sebab kurangnya motivasi menulis di kalangan akademisi di PTKIN; (5) Pertentangan tentang perlunya indexing Scopus atau ISI Thomson, banyak kawan-kawan yang tidak setuju dengan kapitalisasi Scopus dan Reuters Thomson, bahkan saat ada berita yang viral bahwa Jerman memboikot Scopus (Elsevier) kita dengan gegap gempita menyebarkan dengan cepat ke semua grup media sosial, padahal yang disoal hanya kapitalisasinya bukan artikel Scopusnya.

Tetapi apapun itu mari menularkan ‘teori’ kita dengan MENULIS… Tabiik…


Baca Juga

CONNECT WITH US