Kolom > Membangun Simbol Peradaban

MEMBANGUN SIMBOL PERADABAN

Civitas akademika UIN Sunan Ampel Surabaya, khususnya mahasiswa belum banyak yang tahu kalau di kampusnya sedang dibangun gedung perpustakaan yang monumental. Sebab, tidak ditemukan satupun tulisan atau petunjuk di sekitar proyek, yang menjelaskan gedung apa yang sedang dibangun. Yang ada hanyalah onggokan material yang berserakan dan seringkali menjadi penyebab kemacetan.

Saya katakan monumental, karena perpustakaan ini akan memiliki 9 (sembilan) lantai, dengan bentuk yang unik dan akan menjadi perpustakaan terbesar di lingkungan UIN/IAIN/STAIN di Indonesia. Hadirnya perpustakaan ini, dengan harapan agar kampus kita tercinta dapat menjadi pusat rujukan kajian-kajian Islam di dunia. Sebuah mimpi yang telah lama dicita-citakan oleh para pendiri kampus ini. Tentu kita patut mengapresiasi pada jajaran pimpinan/rektorat yang memiliki ide visioner ini. 

Letaknya yang sangat strategis, yakni di antara gedung twin towers dan masjid Ulul Albab, bangunan tersebut akan menjadi ikon baru kampus dan menjadi simbol peradaban. Suatu peradaban yang telah lama hilang, yang dulu pernah direngkuh umat Islam ketika Islam mengalami zaman keemasaan (golden age).

Kejayaan umat Islam pada abad pertengahan juga tidak bisa dilepaskan dari peran perpustakaan. Saat itu menjamur perpustakaan yang dibangun oleh para khalifah, seperti perpustakaan Bait al-Hikmah di Persia, perpustakaan Khalifah al-Hakim di Cordova dan banyak lagi perpustakaan-perpustakaan serupa yang ditemukan di Kairo, Alepo dan kota-kota besar Iran, Asia Tengah dan Mesopotamia.

Dalam kitab Ahsan al-taqasim fi ma’rifat al-aqalim digambarkan bagaimana para khalifah sangat menaruh perhatian pada perpustakaan. Dijelaskan bahwa perpustakaan waktu itu dibangun dengan sangat indah, dikelilingi taman, danau-danau dan jalur air. Gedungnya beratapkan kubah, dengan rata-rata memiliki 360 ruangan. Dalam setiap ruangan, katalog ditempatkan dalam rak-rak yang ditata rapi dan dihiasi dengan karpet. Ilustrasi ini menandakan bahwa para khalifah/pemimpin Islam kala itu menaruh perhatian yang sangat luar biasa pada perpustakaan.

Kemajuan peradaban Eropa dan Amerika sejak renaisance juga banyak belajar dari apa yang dilakukan oleh kaum muslimin pada abad pertengahan. Mereka akhirnya menempatkan perpustakaan sebagai pilar utama penyokong kemajuan dan berlomba-lomba membangun perpustakaan. Investasi digelontorkan untuk melengkapi perpustakaan di perguruan tinggi agar civitas akademikanya menjadi nyaman dan betah berlama-lama berada di perpustakaan. Di setiap perguruan tinggi, bangunan terbesar dan termegah selalu perpustakaan. Bukan kantor pusat. Hal itu kontradiksi dengan kondisi perguruan tinggi di Indonesia dan negara-negara Islam di Asia saat ini. Bagi yang pernah belajar di Eropa atau Amerika tentu sangat merasakan perbedaan itu.

 

Perpustakaan di Amerika

Ketika mendapat kesempatan belajar di Ohio State University (kampus terbesar ke-4 di USA) 2-3 tahun lalu dan mengunjungi beberapa kampus di sana, ada beberapa catatan yang perlu saya share di sini. Kesan awal ketika mengunjungi perpustakaan di sana, umumnya bersih dan rapi, layanan cepat serta alat yang serba canggih. Kesan lain yang berhasil saya catat di antaranya:

Pertama, setiap perpustakaan memiliki ruang belajar yang luas.Perpustakaan dirancang bukan hanya sebagai tempat belajar dan membaca. Melainkan juga tempat nongkrong mahasiswa. Menjelang UTS dan UAS, perpustakaan berubah menjadi rumah kedua bagi mahasiswa. Mereka biasanya pindah tidur ke perpustakaan agar mendapatkan akses ke sumber informasi yang dibutuhkan dalam  mengerjakan makalah atau sekedar mendapatkan bahan bacaan sebagai persiapan menghadapi ujian. Itu sebabnya perpustakaan dibuka 24 jam selama musim ujian. Perpustakaan juga dilengkapi dengan food court dan gerai kopi yang selalu dipadati oleh antrian mahasiswa. Tempat ini ramai tidak hanya saat mahasiswa begadang menyambut ujian tapi juga setiap mengikuti perkuliahan.

Ruang belajar ini umumnya terbagi dalam tiga jenis ruangan: Learning Commons, Quiet Spaces dan Group Study Rooms. Learning Commons merupakan ruangan luas yang biasanya berada di lobi perpustakaan. Ruangan ini didesain untuk memberikan tempat yang nyaman bagi mahasiswa. Bukan hanya sekedar untuk membaca namun juga berkumpul atau belajar kelompok. Dengan disediakannya tempat belajar yang nyaman ini, mahasiswa diharapkan akan rajin berkunjung dan betah berlama-lama di perpustakaan.

Quiet Spaces merupakan area tertentu yang disediakan bagi pengunjung perpustakaan yang membutuhkan suasana tenang agar dapat berkonsentrasi dengan tugas yang sedang mereka kerjakan. Sebagian ruangan Quiet Spaces dikelilingi dinding kaca yang kedap suara sehingga suara-suara yang berasal dari luar tidak mengaganggu pengguna lain di ruangan itu. Pengunjung yang memilih untuk belajar di bagian ini harus memahami aturan agar tidak mengeluarkan suara-suara yang dapat mengganggu pengunjung perpustakaan lainnya.

Sementara itu, Group Study Rooms merupakan ruangan-ruangan kecil yang dapat digunakan sebagai tempat belajar kelompok. Biasanya setiap ruangan didesain berdinding kaca kedap suara pula, dilengkapi dengan layar datar yang dapat digunakan untuk presentasi. Civitas akademika dapat menggunakan ruangan ini dengan cara memesan ruangan terlebih dahulu,  dengan durasi waktu pemakaian tertentu untuk setiap kali pemakaian.

Kedua, tersedia layanan Interloan Library. Jika di UIN Sunan Ampel mahasiswa hanya bisa meminjam buku yang ada dalam lingkup perpustakaan saja, namun di Amerika mahasiswa juga bisa meminjam buku antarkampus. Baik di dalam satu kota atau kampus yang berada di negara bagian lainnya di Amerika. Layanan ini sangat sering digunakan mahasiswa, terutama untuk mendapatkan pinjaman buku-buku wajib yang digunakan dalam suatu perkuliahan. Hal ini disebabkan mahalnya harga buku di sana, sedangkan memfotokopi buku merupakan tindakan yang sangat dilarang bahkan dianggap illegal.

Caranya, mahasiswa  tinggal memesan secara online, tanpa harus datang ke perpustakaan. Mahasiswa cukup membuat permintaan buku yang ingin dipinjam melalui alamat web resmi perpustakaan kampus. Petugas perpustakaan yang akan meminjam buku tersebut dari perpustakaan lain yang ada di AS. Apabila buku sudah sampai, mahasiswa bersangkutan akan dihubungi untuk mengambil buku yang dimaksud. Jadi, pinjam koleksi buku berasa unlimited lintas kampus bahkan lintar negara bagian.

 

Harapan

          Membandingkan perpustakaan di negara maju dengan perpustakaan di kampus kita tentu bagaikan membandingkan langit dengan bumi. Namun, munculnya kesadaran dan adanya political will untuk mengejar ketertinggalan dengan akan hadirnya perpustakaan 9 lantai patut diapresiasi. Ada beberapa harapan yang perlu disampaikan di sini.

          Pertama, desain dan fasilitas yang nantinya dibangun di dalam perpustakaan harus memperhatikan selera generasi milenial. Sehingga para pengunjung menjadi betah berlama-lama di perpustakaan untuk membaca, berdiskusi dan mengerjakan tugas kuliah. Juga perlu dipertimbangkan keberadaan ruang belajar seperti Learning Commons, Quiet Spaces dan Group Study Rooms, kalau memang belum terpikirkan keberadaanya. Senyampang sekarang masih dalam proses pembangunan.

          Kedua, layanan berbasis online perlu juga dipertimbangkan. Sebab, layanan ini sungguh sangat mempermudah pengunjung ketika mencari buku yang dibutuhkan. Tidak perlu datang mencari buku melalui katalog dan mencarinya sendiri sehingga membutuhkan waktu yang sangat lama. Kondisi ini yang menjadi penyebab dosen enggan berkunjung dan pinjam buku di perpustakaan kita saat ini. Untuk tujuan tersebut, tidak ada salahnya jika pimpinan memfasilitasi para pengelola perpustakaan menimba ilmu di perpustakaan perguruan tinggi Amerika atau Eropa.

          Guna mewujudkan keinginan di atas, Kementerian Agama harus turut mengambil peran. Anggaran yang sangat terbatas di kampus ini harusnya dihandle oleh kementerian. Dengan cara menjadikan perpustakaan UIN Sunan Ampel sebagai pilot project, saya kira tidak ada salahnya. Itu kalau memang Kementerian Agama punya kepedulian untuk membangkitkan peradaban Islam yang telah lama hilang. Semoga didengar para pengambil kebijakan di kementerian....

 

Wallahu a'lam bishawab...


Baca Juga

CONNECT WITH US