Kolom > Menjadi Pemuda Antiradikalisme

Menjadi Pemuda Antiradikalisme

Oleh: Ahmad Maskur*)

Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Pengurus Ikauinsa Surabaya

 

Sumpah Pemuda yang akan dirayakan pada tanggal 28 Oktober nanti memiliki landasan sejarah penting dalam kehadiran Indonesia merdeka. Sumpah Pemuda merupakan cermin dasar kesatuan Indonesia. Keteguhan komitmen kebangsaan yang satu pada poin kedua Sumpah Pemuda menarasikan jalan panjang kebangsaan kita, jauh melampaui pencapaian kemerdekaan yang diproklamasikan 72 tahun lalu.

Pencapaian kemerdekaan merupakan hasil jerih payah yang luar biasa. Namun yang perlu diingat, bahwa mengisi kemerdekaan adalah suatu usaha yang tidak kalah beratnya dengan pencapaian kemerdekaan. Bahkan bisa dikatakan tugas kebangsaan kita jauh lebih berat dan sulit dari usaha mencapai kemerdekaan itu sendiri.

Seperti Bahasa Bung Karno, Perjuangan melawan penjajahan itu jelas musuhnya bangsa asing. Tetapi perjuangan mengisi kemerdekaan musuhnya adalah saudara sebangsa, yang pada bagian tertentu sulit untuk dicermati. Karenanya, perjuangan mengisi kemerdekaan merupakan tugas berat sejarah kebangsaan kita, yang diwariskan melalui perjuangan tenaga, harta, keringat, juga tetes darah para pahlawan.

Salah satu persoalan mendasar yang bisa mengoyak kesatuan kita sebagai Bangsa Indonesia adalah radikalisme. Radikalisme dalam beragam bentuknya, apalagi radikalisme yang kerapkali dikaitkan dengan isu agama, menjadi ancaman serius bagi tenun Ke-Indonesiaan yang sudah kita rajut 72 tahun lebih. Radikalisme agama yang belakangan ini sering kali dimainkan kelompok kecil dari Umat Islam dapat menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan dan dimana saja.

Agama sebagai jalan keselamatan abad,  bisa menghilangkan nalar rasional yang ada pada diri seseorang. Sehingga memukul, mengebom, dan membunuh orang dinilai sebagai jihad fi sabilillah. Saya kira tidak ada dalil pembenar bagi tindakan yang demikian itu, kecuali tekstualitas tafsir terhadap nash dan juga justifikasi berlebihan terhadap kelompok-kelompok di luar pahamnya.

Karenanya, pemuda, secara khusus Mahasiswa Islam yang belajar di pendidikan tinggi, sebagai pewaris sumpah sakral yang diteguhkan para pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 lalu, harus memgambil peran signifikan dalam penyemaian nilai-nilai kedamaian demi teguhnya Kesatuan Indonesia.

Islam dan Ke-Indonesian adalah senyawa yang harus dirawat harmonisasinya. Karena Indonesia merupakan tanah air tempat berwudlu dan bersujud kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta Semesta Kehidupan.  

Keragaman, kemajemukan, dan pluralitas merupakan kenyataan pasti yang tak bisa diingkari. Allah SWT telah menegaskan kepastian itu dalam firman-Nya. “Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya (QS. Yunus: 99).”

Ayat tersebut menjadi penegas bahwa keragaman agama merupakan kehendak Tuhan yang tak bisa dielakkan. Karenanya, komitmen kesatuan sebagai Bangsa Indonesia yang disumpahkan para pemuda di masa lalu, merupakan implementasi dari kesadaran religius pemuda Islam, Mohammad Yamin, sebagai perumus Sumpah Pemuda. Mohammad Yamin sadar, bahwa kemajemukan adalah kehendak Tuhan yang harus dimaknai sebagai rahmat.

Faktanya, rahmat tersebut hadir melalui semangat kesatuan sebagai bangsa Indonesia, yang secara berkesinambungan mampu melawan kolonialisme dan melahirkan Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945.

Rahmat kemerdekaan tersebut ditulis dalam alinea ketiga Pembukaan UUD 1945, "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya."

            Allah adalah Tuhan penghadir rahmat bagi kemercdekaan Indonesia. Maka sudah semestinya, Pemuda Islam mampu menghadirkan rahmat berupa nilai-nilai kedamaian, seperti cinta, kasih, rasa sayang, dan rasa kesatuan sebagai Bangsa Indonesia. Meski diantara anak Bangsa Indonesia lahir dan hadir dalam beragam suku, bahasa, pulau, dan bahkan agama.

Kecintaan kepada Indonesia adalah wujud dari jihad untuk terus menjadi Muslim yang merdeka menjalankan ajarannya sesuai dengan Syariat Islam. Begitupun, kecintaan kita kepada semua Bangsa Indonesia dengan berbagai latar belakang yang beragam adalah wujud dari jihad menjalankan Syariat Islam berupa cinta dan kasih sayang kepada sesama.

Islam mengajarkan, Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (QS. al-Maidah: 32)”.

Penghilangan satu nyawa seseorang dalam Islam diandaikan setara dengan nyawa keseluruhan manusia. Begitupun, rasa cinta memelihara satu nyawa manusia diibaratkan dengan menanamkan nilai-nilai cinta dan kehidupan bagi keseluruhan manusia. Penghargaan Islam terhadap nyawa dan kehidupan manusia itu sangat tinggi. Sebab itu, tidak ada pembenar bagi tindakan radikalisme yang belakangan ini banyak terjadi di negara kita. Radikalisme dalam beragam bentuknya adalah ancamana bagi nyawa dan kehidupan seluruh manusia.

Bukan tidak mungkin, kalau pelaku bencana kemanusiaan ini tidak ditindak dengan tegas, atau paham radikalisme dibiarkan tumbuh, bakal merambah menjadi ancaman serius bagi kemanusian dan Ke-Indonesian kita. Mulanya hanya satu orang, tapi nanti bisa ratusan, ribuan, jutaan, hingga sampai seluruh manusia menjadi ancamanya. Oleh karenanya, pemuda, terutama mahasiswa sebagai agent of change harus berada di garda terdepan memainkan perannya secara signifikan.       


Baca Juga

CONNECT WITH US