Kolom > Uinsa Kampus Milenial Atau Kampus Minimal?

UINSA Kampus Milenial atau kampus minimal?

Membaca berita dari detik.com tanggal 31 Oktober 2017 yang berjudul “Patuhi Jokowi, Menristek: Silakan Kampus Buka Prodi 'Kekinian'”  Tergelitik untuk membuat catatan kecil buat UINSA. UINSA sebagai kampus yang berbasis pada urban dan peril urban, sepertinya perlu memperhatikan oportunity untuk mengembangkan program studi yang berbasis kekinian

misalnya: Prodi social entrepreneur, Prodi teknologi pengelolahan pangan, Prodi pengobatan alternative (pengembangan jamu, rukyah, pijat, tusuk jarum), Prodi Urban Agriculture (Manajemen pertanian lahan sempit misal dengan hidroponik, dll)

Kalau hanya mau membuka fakultas kedokteran sih......... oke oke saja, namun perlu juga membuat satu pembeda.

Pada tahun 2011-2013an ada semangat pembeda pada UINSA dengan perguruan tinggi lainnya adalah dengan memberi kontent kewirausahaan. Beberapa usaha sudah dilakukan diantaranya dilakukannya kompetisi kewirausahaan antar mahasiswa yang dilakukan tahunan, meskipun pada awalnya kegiatan ini adalah kegiatan sukarelawan beberapa dosen yang konsern kepada masalah ini. Namun demikian keberlanjutan kompetisi ini sepertinya "yazidu wa yankus" atau kayaknya saat ini lebih tepat "Tsuma la yamutu fiha wa la yahya" yang dikarenakan masalah leading sektor yang tiada kejelasan.

Kedua selain kompetisi, juga di selenggarakan beberapa workshop penyisipan konten materi kewirausahaan dengan mengundang dan mendatangkan para ahli dari The University of Sydney pada tahun 2013.

Ketiga, beberapa sukarelawan di UINSA juga sudah mengusahakan membangun matakuliah kewirausahaan secara online, yang bisa diakses di web UINSA oleh setiap mahasiswa yang ingin mendapatkan keahlian tambahan ini secara non SKS, namun usaha membangun matakuliah kewirausahaan secara online inipun seperti "bertepuk sebelah tangan".

Selain ketiga kegiatan diatas, UINSA juga sudah meluncurkan pusat bisnis yang mengelola segala usaha dan aset dari UINSA. Pusat bisnis ini mengelola hotel kampus, travel haji umroh, mini market dan beberapa usaha lainnya. Sejauh ini hanya kegiatan pusat bisnis ini yang berjalan karena diback up dengan anggaran dan kebijakan.

 

Semangat untuk mewarnai UINSA dengan nilai nilai entrepreneurship ini dilandasi pemikiran bila entrepreneurship diyakini banyak orang sebagai salah satu metode yang bisa mengubah cara orang hidup. Sebuah metode yang dapat mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat. Oleh karena entrepreneurship menjadi topik pikiran dalam setiap percakapan yang terkait dengan pendidikan atau isu-isu ekonomi. Terlebih lebih bila dikaitkan dengan issue kemakmuran sebuah negara.

Terdapat satu pendapat yang menyatakan bila kemakmuran suatu negara salah satunya ditentukan oleh jumlah wirausaha pada negara tersebut, semakin banyak jumlah wirausaha yang ada, semakin makmur negara tersebut. Indonesia sendiri saat ini jumlah entrepreneurnya baru mencapai 0,24% dari jumlah penduduk. Ini tentu saja masih jauh dari minimal jumlah entrepreneur yang seharusnya, yaitu 2% dari jumlah total penduduk.

 

Namun demikian, sepertinya usaha pewarnaan "pembeda" ini kurang membumi dan aplikatif dont know why?

 

Pada era milenial seperti saat ini, Jargon kampus adalah tempat pengodokan agen perubahan sepertinya sudah usang. Hal ini dikarenakan banyak fakta menunjukkan, perguruan tinggi hanya menjadi tempat antara agar penganguran tersamar tidak terlihat. Pengangguran tersamar disini dimaksudkan adalah mereka yang memasuki usia kerja namun kurang confident memasuki dunia kerja, sehingga mengalihkan "kegiatannya" dengan berkuliah. Bagi mereka yang menemukan pathway di perguruan tinggi, tentu saja masa "tunggu" ini menjadi masa produktif. Namun bagi mereka yang hanya sekedar "hahahihi" datang ke kampus, sekedar absent kelas, tanpa di bekali semangat belajar, membaca, observasi dan kekritisan, maka tentu saja slogan garbage in garbage out menjadi terlihat nyata.

 

Terus apa yang bisa dilakukan kampus? frugal innovation tentu saja menjadi jalan keluarnya. "Mahada" frugal Innovation? sekilas frugal innovation bisa dipahami sebagai bentuk usaha inovasi dengan fasilitas seminim mungkin, namun menghasilan out put yang optimum. Sehingga garbage in compos out adalah konsep minimum yang dilakukan.

 

Pembukaan prodi prodi kekinian seperti yang digagas oleh Presiden Joko Widodo mungkin bisa masuk dalam kriteria frugal innovation yang harus dilakukan oleh perguruan tinggi. Memang pembukaan program study baru harus dipertimbangkan aspek pasar dan daya serap kelulusannya. Namun diluar pembukaan prodi prodi kekinian, perguruan tinggi juga dituntut lebih sebagi institusi kawah candradimuka para penerus bangsa.

 

UIN Sunan Ampel sebagai salah satu perguruan tinggi agama Islam yang “senior” di Jawa Timur dan bagian timur Indonesia juga harus berubah dan mengikuti pasar. Kendala pembiayaan misalnya yang selama ini bergantung kepada APBN dalam penyusunan program dan kegiatannya. UINSA yang sudah memiliki alumni yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia, bisa mengembangkan lembaga endowment kampus atau lembaga penyantun kampus.

 

Lembaga penyantun kampus ini beroperasi dengan mengandalkan pengumpulan dana awalnya dari kemurahan hati para dermawan dan alumninya. Lembaga penyantun kampus ini adalah sebagai mesin penggali dana guna baik melalui usaha usaha yang halal dan diperbolehkan hukum serta diolah secara proefisonal oleh pengelola prefesional serta menyalurkan dana yang dihimpun dan dikelola untuk menunjang kegiatan kampus termasuk diantaranya pendanaan proyek penelitian, pemberian hadiah untuk kompetisi kompetisi akademis tertentu dan tentu saja sebagai penyedia beasiswa.

 

Setelah masalah financial terselesaikan, masuk ke issue berikutnya yaitu membangun kulture pengajaran yang dinamis dan kompetitif. Reward and empowerment management bisa menjadi panglima dalam pengembangan kulture pengajaran ini, selain leadership yang kuat dan membumi.

 

Guna menutup catatan kecil ini, UINSA sebagai lembaga pendidikan tinggi yang ingin mengantarkan generasi bangsa ini ke arah yang lebih baik diibaratkan sebagai kendaraan besar yang memiliki banyak komponen penggerak di dalamnya. Sehingga agar kendaraan ini bisa berjalan dengan baik, tidak bisa misalnya roda kanan besar sendiri dari pada roda lainnya, bila si roda ini ingin besar sendiri, maka yang terjadi adalah "ngooleng" atau tergelimpanglah kendaraan ini. Keserasian jalan antar instrument penggerak penting, demikian juga perlu pelumas yang mencukupi agar mesin tidak overhouling. Jaman milenial diperlukan pendekatan milenial untuk mencapai harapan mileneial. Semoga UINSA kedepan bisa beradaptasi dengan jaman milenial ini. 


Baca Juga

CONNECT WITH US