Kolom > Perlu Disegerakannya Pusat Kajian Kebencanaan Di Uin Sunan Ampel Surabaya

PERLU DISEGERAKANNYA PUSAT KAJIAN KEBENCANAAN DI UIN SUNAN AMPEL SURABAYA

Pada beberapa hari ini masyarakat Indonesia tiap hari membaca dari media, baik media nasional atau media sosial tentang bencana nasional. Bencana gunung berani menjadi tontonan tiap hari bagi masyarakat Indonesia, mulai dari bencana Gunung Sinabung di Sumatera Utara yang pada hari ini (28 November 2017) statusnya meningkat menjadi awas, level paling tinggi di bencana gunung berapi, padahal Gunung Sinabung termasuk gunung yang terus-menerus erupsi dalam beberapa bulan ini. Termasuk juga Gunung Agung yang kemarin (27 November 2017) juga meningkat statusnya yang awalnya siaga menjadi awas. Masalah mulai timbul karena kedua gunung ini memiliki karakteristik yang unik yaitu erupsi nya yang lama, tahun 1963 erupsi Gunung Agung mencapai hampir satu tahun. Begitupun juga tahun ini beberapa bulan ini Gunung Agung sudah menunjukkan beberapa kali erupsi yang membuat warga juga beberapa kali harus mengungsi. Ini berbeda dengan Gunung Kelud dulu yang kejadiannya sangat cepat sehabis itu selesai. Masalah inilah yang harus diwaspadai. Lamanya waktu erupsi bisa saja menjadikan warga trauma secara psikis maupun merugikan warga secara ekonomi. Kajian tentang gunung sudah bebertapa kali dilakukan di Universitas ini, seperti yang dilakukan Lubab, dkk tahun 2016 lewat “Volcanic Ash Flow Modelling As An Early Warning System To National Disaster (Kelud Eruption 2014)” dan penelitian lanjutan di Gunung Sinabung serta Gunung Agung baru-baru ini.

Lantas kenapa Surabaya perlu (disegerakannya) pusat kajian kebencanaan? Padahal rerata terjadinya bencana itu di luar Surabaya (kecuali banjir) yang selalu hampir setiap musim penghujan meskipun sudah diminimalisir dampak bagi warga dengan banyaknya pembangunan sanitasi air yang semakin baik. Beberapa pekan lalu tepatnya minggu kedua bulan November, Surabaya menjadi was-was. Berita media Nasional memberitakan tentang beberapa pakar ahli gempa yang menyatakan bahwa ada patahan lewati Surabaya. Ini menjadi masalah besar, kenapa? Karena banyak bangunan di Surabaya yang tidak ramah akan gempa, karena dianggap Surabaya aman dari bencana. Padahal kalau kita cek di linimasa berita ini pernah ada di tahun 2016 saat ahli Geologi ITS, Amien Widodo, beliau mengatakan Sumber Gempa tersebut berasal dari Sesar Kendeng, patahan yang melintang sejauh 300 kilometer dari selatan Semarang, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur. Hasil kolaborasi peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB), Badan Informasi Geospasial (BIG), dan Australia National University (ANU) untuk pertama kalinya mengonfirmasi bahwa Sesar Kendeng masih aktif dengan pergerakan 5 mm per tahun. Hasil riset terbaru menunjukkan, pergerakan di sebelah utara lebih aktif. Potensi gempa dari utara Bali hingga Pulau Wetar di atas magnitudo (M) 8.

Hemat penulis, IAIN Sunan Ampel yang sudah bermetamorfosis menjadi UIN Sunan Ampel bisa banyak berperan, karena di Universitas ini bisa banyak berkolaborasi antar prodi dan antar bidang ilmu. Saintek baik Sipil, Arsitek, Teknik Lingkungan, Sistem Informasi, Matematika, Biologi dan Ilmu Kelautan menjadi gawang bagi kajian sains serta teknologinya. Fakultas Dakwah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan Fakultas Psikologi Kesehatan sebagai yang terdepan membangun kajian bencana dari sisi kemanusiannya. Tidak menutup kemungkinan berkolaborasi dengan fakultas-fakultas lain. Kampus ini sangat lengkap, karena bisa mengkaji dari segi sains dan teknologi serta segi manusianya. Tabiik.


Baca Juga

CONNECT WITH US