Kolom > Raih Masa Depan Gemilang Tanpa Hiv-aids

Raih Masa Depan Gemilang Tanpa HIV-AIDS

Tanggal 1 Desember 2017 kita kembali lagi memperingati Hari AIDS Sedunia (HAS) atau lebih dikenal dengan Hari AIDS Internasional. Peringatan tersebut bertujuan untuk selalu mengingat yang sudah meninggal akibat AIDS serta untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.

Tema nasional Hari AIDS Sedunia tahun 2017 adalah “Saya Berani, Saya Sehat!” yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian seluruh masyarakat terhadap HIV-AIDS dengan cara melakukan tes HIV dan melanjutkan dengan pengobatan ARV (Anti Retroviral)  jika terdiagnosa HIV sedini mungkin. Dengan mengetahui status kesehatan sejak dini maka kita telah melakukan perlindungan terhadap keluarga dan orang yang kita sayangi. Hal ini yang mendasari kalimat “Lindungi yang tersayang dari HIV” menjadi subtema HAS tahun 2017.

Penyakit AIDS, yang disebabkan oleh infeksi virus HIV (Human Immunodeficiency Virus), sebenarnya telah dikenal publik sejak tahun 1981 dan berasal dari Afrika. Ketika itu, Amerika Serikat yang pertama kali menyadarkan publik kalau ada penyakit baru yang menyerang sistem kekebalan tubuh penderitanya dan penyebarannya sangat cepat.

Berdasarkan laporan dari Ditjen P2P Kemenkes RI tahun 2017, menunjukkan bahwa jumlah kasus baru AIDS di Indonesia pada tahun 2104 sebesar 7.875 kasus, tahun 2015 sebesar 6.081 kasus, dan pada tahun 2016 sebesar 7.491 kasus. Hal tersebut berarti dalam setiap tahun ada sekitar 7.000-an kasus baru HIV-AIDS. Sedangkan secara kumulatif mulai dari 1987 – 2016 jumlah kasus AIDS di Indonesia sebesar 86.780 kasus, dan merupakan angka yang fantastis sangat besar. Semakin meningkatnya jumlah kasus HIV dan AIDS di Indonesia layaknya fenomena gunung es. Namun fenomena tersebut perlahan tapi pasti mulai terangkat. Hal tersebut juga tidak lepas dari pergeseran target program deteksi dini dan skrining. Makin banyak yang terdeteksi, makin terangkat gunung esnya. Semakin banyak juga masyarakat yang mau melakukan tes dan mengetahui statusnya.

Cairan tubuh penderita AIDS yang berperan dalam penularan adalah darah, sperma, cairan vagina, dan cairan tubuh lainnya yang tercemar HIV, misalnya air ludah. Cara penularan AIDS terutama melalui:

  • Hubungan seksual, baik dengan sejenis maupun berbeda jenis kelamin yang mengidap virus HIV.
  • Tukar menukar jarum suntik, akupunktur, tato, dan alat cukur       yang tercemar virus HIV.
  • Transfusi darah yang tercemar virus HIV.
  • Dari ibu hamil yang kemasukan virus HIV kepada bayi yang dikandungnya.
  • Pertolongan persalinan yang tercemar virus HIV

Dari berbagai upaya pencegahan AIDS, tampaknya yang paling sulit dikendalikan adalah perilaku seks bebas. Secara teknis penularan HIV/AIDS melalui transfusi darah maupun jarum suntik mudah dicegah, yaitu sebelum transfusi darah diberikan, maka dilakukan pemeriksaan terlebih dulu dan bila tercemar akan dibuang. Sedangkan jarum suntik ketentuannya adalah setiap orang (pasien) memakai satu jarum suntik yang baru dan steril dan setelah dipakai langsung dibuang tidak boleh dipakai orang lain (disposible use). Tetapi persoalannya adalah bagaimana mencegah penularan AIDS melalui seks bebas? Sedangkan berdasarkan penelitian di Indonesia menyebutkan bahwa penularan HIV-AIDS ini 97,5 % melalui seks bebas.

Dalam perspektif Islam, langkah efektif mencegah meluasnya penyakit AIDS adalah melalui pendekatan agama, disamping pendekatan lain, seperti pendekatan aspek medis dan pendidikan. Pencegahan terhadap penularan penyakit AIDS yang benar menurut Islam adalah dengan merubah perilaku seksual ke arah yang sehat, aman dan bertanggung jawab. Adapun pencegahannya, sebagai berikut:

1.Tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah

Untuk menyelamatkan jutaan umat manusia tertular virus AIDS, Islam memberikan solusi efektif pencegahan yaitu tidak                       melakukan hubungan seks sebelum nikah dan hanya berhubungan seks dengan pasangannya melalui jalur pernikahan.

2. Menolak Kondomisasi

Salah satu upaya yang digalakkan oleh sejumlah pihak untuk menghentikan penyebaran virus AIDS adalah penggunaan kondom dalam berhubungan seks. Bahkan sekarang ini untuk mendapatkannya tidaklah terlalu sulit. Terlepas apakah langkah ini berhasil atau tidak, yang jelas Islam menolak langkah ini. Karena memberikan ruang yang bebas bagi penggunaan kondom dan tidak ada bedanya dengan melegalkan perzinaan dan menyuburkan prostitusi, padahal itu hukumnya haram dalam agama

3. Kampanye Pendidikan Seks

Langkah efektif yang tak kalah pentingnya untuk mengantisipasi penularan HIV/AIDS adalah kampanye pendidikan seks. Perlu disosialisasikan kepada orang tua pentingnya menyampaikan informasi tentang seks kepada anak-anaknya. Demikian juga pelajar dan mahasiswa perlu dikenalkan pendidikan seks. Melalui Al-Quran, Sunnah, dan kitab-kitab fiqh, Islam begitu responsif menyentuh persoalan seks. Yang menjadi masalah bagi pendidik khususnya adalah apa, kapan, siapa, dimana, bagaimana, dan mengapa. Topik-topik apa tentang seks yang harus diajarkan, kapan waktunya yang tepat, siapa yang mengajarkannya, di mana tempatnya, bagaimana menyampaikannya, dan apa dasar atau alasan aqli maupun naqli yang relevan dengan hal tersebut.

Harapan diperingatinya Hari AIDS Sedunia adalah supaya kita sendiri memiliki kesadaran untuk berusaha menghindar dari penyakit yang mematikan ini, dan berupaya menjaga agar keluarga kita, teman, tetangga, dan seluruh saudara sebangsa kita tidak terjangkiti HIV/AIDS. Serta menunjukkan kepedulian kepada para penderita HIV/AIDS. Semakin banyak masyarakat mengetahui status HIV dan mendapatkan pengobatan ARV dini maka hal ini dapat mendorong percepatan tercapainya penurunan epidemi HIV sehingga Indonesia dapat mencapai “3 Zero” yaitu (1) tidak ada infeksi baru HIV, (2) tidak ada kematian akibat AIDS dan (3) tidak ada stigma dan Diskriminasi untuk mencapai Eliminasi HIV pada Tahun 2030. SAY NO TO HIV/AIDS!

Referensi :

  1. Pusat Data Kemenkes RI. Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia 2016. Jakarta : 2107.
  2. Kemenkes RI.  Pedoman Penghapusan Stigma dan Diskriminasi Bagi Pengelola Program, Petugas Layanan Kesehatan dan Kader. Jakarta : 2012.

Baca Juga

CONNECT WITH US