Kolom > Brifing Pagi, From Values To Leadership’s Culture

Brifing Pagi, From Values to Leadership’s Culture

Dalam kesempatan brifing pagi di FEBI/FISIP minggu ini ada satu statemen yang menarik dan memaksa saya untuk menulis. Statemen tersebut disampaikan dalam brifing pagi Senin, 27 November 2017 bahwa Dekan akan membakukan apa yang telah dilakukan di FEBI/FISIP dengan smart magement-nya, one stop services. Sebuah bentuk layanan yang dilakukan oleh staf di jajaran FEBI/FISIP kepada mahasiswa dan harus diselesaikan pada hari itu juga. Kalimat yang menarik lainnya adalah fakultas tidak dapat bergantung hanya pada personal akan tetapi harus bergantung pada sistem.

Saya jadi teringat dan membongkar kembali catatan-catatan lama saya ketika membaca majalah Usahawan no 03 (2007), “Leadership’s Culture sebagai jawaban atas tantangan kepemimpinan di era kompetisi global: suatu galang-gagas” yang ditulis oleh  Djokosantoso Moeljono.

Ketika saya menulis artikel ini saya dan mahasiswa manajemen semester 3 juga habis membahas 2 artikel yang diterbitkan oleh Harvard Business Review sebagai bahan pembelajaran di kelas. Artikel pertama tentang Putting Leadership Back into Strategy yang ditulis  Cynthia A. Montgomery (2008). Artikel kedua tentang The Real Leadership Lessons of Steve Jobs oleh Walter Isaacson (2012).

Satu hal yang membuat saya menempatkan dua artikel tersebut sebagai bahan pelajaran pamungkas dalam satu semester  sebelum mendiskusikan tugas-tugas yang harus dikerjakan mahasiswa, saya menyampaikan pada mahasiswa saya bahwa sebagus apapun strategi sebagai cara untuk mencapai misi yang telah dicanangkan tidak akan ada gunanya tanpa kekuatan leadership seorang leader. Itu juga menjadi alasan saya menempatkan artikel bahasan tersebut dibagian akhir setelah membahas artikel-artikel lainnya dalam kuliah manajemen strategi.

Lantas apa hubungannya dengan judul artikel di atas? Artikel ini ditulis hanya ingin mengingatkan bahwa pentingnya membudayakan nilai-nilai positive yang digagas personal menjadi sebuah budaya baru dalam sebuah organisasi (sistem). Organisasi-oraganisasi yang kuat dan mendunia tidak akan tumbuh dari budaya organisasi yang lemah. Sebagai contoh, bila kita berbicara Microsoft maka kita akan berbicara tentang Bill Gates, bila kita berbicara perusahaan Apple tentu kita akan berbicara tentang Steve Jobs, bila kita berbicara tentang pondok Gontor tentu kita akan berbicara tentang Trimurti pendirinya dan lain-lain. Artinya ketika kita membicarakan ketiga contoh organisasi yang disebut di atas kita berbicara mengenai nilai-nilai yang ditanamkan mereka (personal) dalam organisasinya.

Sebagai penutup artikel ringkas (brief) ini saya ingin menyampaikan pesan bahwa  membangun sistem melalui nilai-nilai positive personal menjadi sebuah budaya positive dalam kepemimpinan akan menjadi sulit bila ‘personal’ penggagas tidak menduduki posisi sebagai pemimpin dalam organisasi.

Seperti bisikan Steve Jobs pada mitra kerjanya ketika menggawangi Apple, “Don’t be afraid, you can do it”.

 Allahu ‘alam


Baca Juga

CONNECT WITH US