Kolom > Green Campus, Mission( Im) Possible?*

GREEN CAMPUS, MISSION( IM) POSSIBLE?*

Pada era kelangkaan bahan bakar berbahan dasar fosil alias minyak bumi seperti saat ini. Ditandai dengan terus meningkatnya harga bahan bakar minyak dengan segala produk turunannya dan sektor yang tergantung kepada pasokannya. Menjadikan kewaspadaan terhadap keberlanjutan sumber energy perlu untuk di tingkatkan.

Kewaspadaan ini perlu ditingkatkan menyadari bila manusia itu hidup memerlukan O2 (oksigen) dan menghasilkan CO2 (karbon dioksida). Entah itu kebutuhan sekedar bernafas ataupun kegiatan kegiatan produktif lainnya. Terlebih lebih bila kegiatan yang dilakukan manusia itu meninggalkan jejak karbon (carbon foot print) yang sulit diurai dengan mudah oleh alam dan mengakibatkan pencemaran.

Jejak karbon disini bisa dipahami sebagai  Jumlah total gas rumah kaca (greenhouse glasses) yang dihasilkan dari kegiatan dan aktivitas manusia baik langsung atau tidak langsung. Biasanya dinyatakan setara ton karbon dioksida (CO2) yang dikalkulasikan dalam kurun waktu tertentu. Dengan kata lain, ketika kita mengendarai mobil, motor, maka mesin kendaraan yang menyala itu akan membakar bahan bakar serta menghasilkan CO2 dalam jumlah tertentu ( tergantung pada efisiensi mesin, jenis bahan bakar dan tentu saja jarak tempuhnya). Tidak saja masalah berkendara, bila Kita mengunakan penyejuk ruangan ( Air Conditioner ), maka Kita otomatis juga telah mengeluarkan CO2 dalam jumlah tertentu dari pembangkit listriknya. Termasuk jug, bila kita membeli makanan dan barang, produksi makanan dan barang juga memancarkan sejumlah CO2.

Karbon dioksida (CO2) dikenal sebagai greenhouse gas yang menyebabkan global warming. Selain CO2 sering kali kegiatan manusia juga menghasilan Gas Metana dan Ozon, yang juga berkontribusi terhadap pemanasan global.

Kampus, yang tentu saja sebagai wadah berkumpulnya para akademisi yang berkomitmen menyalurkan pengetahuan ke khalayak tidak lepas dari aktifitas memproduksi jejak karbon. Dari konsumsi listrik untuk proses belajar mengajar, sampah yang dihasilkan, polusi kendaraan yang diakibatkan dan beberapa aktifitas lainnya, seperti perjalanan dinas baik itu dengan pesawat ataupun moda angkutan lainnya, akumulasi sampah organik di kantin dan areal lainnya. Untuk itu, tiada salah kiranya bila civitas akademika mulai membangun kewaspadaan akan dampak negative jejak karbon yang ditinggalkan dengan mengkampanyekan Green Campus atau kampus dengan berwawasan Lingkungan.

Apakah Green Campus itu? Secara sederhana Green Campus dipahami sebagai komitmen jangka panjang dari civitas akademika kampus untuk perbaikan Lingkungan yang berkelanjutan. Status Green Campus bisa dicapai dengan membuat “pembeda” dan usaha baik secara mandiri maupun bekerja sama dengan beberapa stake holder lainnya dalam pengembangan salah satu dana atau semua dari lima isu yang diusung.

Kelima isu itu antara lain (i) efisiensi dan pengembangan energi, (ii) manajemen pengelolahan Air, (iii) Inovasi angkutan dan transportasi, (iv) Keperpihakan terhadap pengembangan biodiversity, dan (v) manajemen pengelolahan limbah. Intinya Green Campus adalah satu sistem manajemen pengembangan kampus yang menitik beratkan kepada pengembangan yang ramah lingkungan, dalam rangka membangun keberlanjutan sumberdaya hayati.

Apakah UINSA ingin jadi Green Campus? Kalau iya, bisa dimulai dengan memberikan fasilitas pedestrian yang layak didalam kampus. Pertama, pejalan kaki diberi akses yang memudahkan untuk memasuki kampus tanpa harus “bertarung bebas”  dengan kendaran bermotor. Civitas akademikanya pun dihimbau mengurangi pengunaan kendaraan bermotor pribadi. Bagaimana cara mengurangi penggunaan kendaraan pribadi? cara yang bisa dilakukan bisa dengan menyediakan layanan antar jemput mahasiswa dari daerah-daerah tertentu misalkan wilayah Wonocolo dengan bus kampus atau angkot kampus. Angkot kampus mungkin juga mengajukan ijin trayek unesa-uinsa (intinya trayek atau jalurnya menyisir kantong kantong kos-kosan mahasiswa). Mengenai rute, juga disarankan melewati pemberhentian stasiun kereta komuter, guna mengangkut civitas akademika yang menggunakan kereta komuter.

Lantas, angkot kampus didapat dari mana? Kan anggaran kampus terbatas? Untuk pengadaan angkot kampus sangat dimungkinkan dengan memanfaatkan dana CSR perusahaan-perusahaan yang konsern ke UINSA.

Bagaimana dengan ijin trayeknya? Tinggal komunikasi dengan Dishub Kota Surabaya dan pihak terkait lainnya.

Bagaimana dengan perawatan ? Perawatan dikenakan ke mahasiswa pengguna dengan cash atau pakai smart card ATM dan KTM yang kerja sama dengan bank yang mau bekerja sama dengan UIN (Dengan mahasiswa yang mencapai 14 ribu adalah magnet tersendiri bagi industri perbankan).

Dengan kata lain, KTM mahasiswa berupa E-Money yang bisa digunakan untuk pembayaran. Terus manajemennya bagaimana? Bisa dikelola oleh pusat bisnis atau badan endowment (asuransi dwiguna) kampus (kalau ada).

Kedua, sediakan taman-taman yang sejuk dan layak sebagai penghijauan dan tempat untuk berkumpul berdiskusi dan melepas lelah di sela kegiatan akademik. Keberadaan taman ini sekaligus sebagai tempat untuk pengembangan biodiversity dan konservasi tanaman tanaman langka.

Ketiga, kampus mampu memisahkan antara sampah organik dan unorganik (dulu ada bank sampah, kayaknya perlu di hidupkan dan dikembangkan-boleh oleh pusat bisnis atau badan endowment campus). Sampak Organik bisa jadi sumber energi biomass dan kompos. Sedangkan unorganiknya seperti kertas, kardus, plastik dan lainnya bisa di daur ulang dan bisa menjadi sumber penghasilan bagi kampus. Pemisahan sampah organik dengan unorganik dilakukan dengan menyediakan dua tempat sampah yang berbeda pada setiap titik penempatan tempat sampah (sepertinya ukuran tempat sampah yang disediakan di setiap gedung/ di depan kelas perlu di perbesar), yang kemudian juga dilanjutkan dengan pengumpulan dan pengelolahan.

Keempat, kampus memiliki alternatif sumber energi selain dari perusahaan listrik negara. Dari mana sumbernya? Ada dua sumber energi yang bisa dimaksimalkan. Pertama, bersumber dari Surya panel yang dipasang diatap gedung (twin tower dan sport center, misalnya). Kedua, dengan penggunakan sampah sebagai pembangkit listrik. Kedua sumber energi alternatif diatas bisa dibangun tentu saja dengan kapasitas yang disesuaikan dengan kemampuan, plus kampanye untuk tidak melakukan pemborosan listrik.

Sejauh ini ada dua penggunaan listrik yang perlu di waspadai. Pertama, uncontrolled pengunaan Air Conditioner (AC) yang tidak mengenal siang dan malam tentu akan menyedot energi yang tidak sedikit. Kedua, penggunaan lampu yang berlebihan khususnya ketika ruangan tidak digunakan.

Usaha-usaha menjadikan kampus sebagai kampus yang bisa disebut sebagai Green Campus tidaklah cukup sekedar dengan slogan. Perubahan perilaku dari civitas akademika seperti tidak membuang sampah sembarangan, memisahkan sampah organik dan unorganik, mematikan lampu/AC setiap meninggalkan ruangan adalah hal-hal kecil untuk memulai kampanye Green Campus ini.

UINSA sebagai kampus berbasis nilai-nilai Islam, semoga bisa memulai kampanye Green Campus sebagai sarana dakwah Islam Rahmatan Lil Alamin. Selain tentu saja guna pertimbangan penghematan anggaran dan keerlanjutan pembangunan. Wallahu a’lam bishowab.

 

*Achmad Room Fitrianto

Adalah pemerhati masalah sosial kemasyarakatan, reformasi pemerintahan, tata kota dan pengembangan usaha kecil menengah. Pengajar Mata kuliah Ekonomi Perkotaan UIN Sunan Ampel Surabaya.


Baca Juga

CONNECT WITH US