Kolom > Semua Di Awali Dari Keteladanan

Semua di awali dari keteladanan

Tulisan ini dipicu dari sebuah tulisan seorang kolega saya**) yang mana dibagian akhir tulisannya terdapat suatu statement yang menarik "membangun sistem melalui nilai-nilai positive personal menjadi sebuah budaya positive dalam kepemimpinan akan menjadi sulit bila ‘personal’ penggagas tidak menduduki posisi sebagai pemimpin dalam organisasi"

Bagian akhir dari tulisan tersebut mengingatkan kami akan diskusi dengan beberapa kawan pasca short training di The University of Sydney tahun 2012 " jangan takut berkreatif, andai ide dan kreatifitas kita dipakai orang lain (Red: dicuri, dibajak, di copy), orang lain tidak bisa mencuri sumber ide kita, karena sumber ide itu ada di kepala kita masing masing"

Sekilas kedua statement itu terlihat berbeda, namun pangkalnya sama yaitu memberi ruang kepada stakeholder untuk berbuat. Ruang yang dimaksud adalah selain dukungan moril juga perlu apresiasi dalam bentuk point dan coin dengan kata lain diperlukan sistem remunerasi dan apresiasi yang komprehensif guna membangun budaya produktif kolektif.

Di era jaman Now, dimana teknologi informasi yang maju menjadikan saluran kreatifitas bisa tanpa batas. Namun network yang tanpa batas itu akan sia sia bila tidak ditopang oleh modal social (bukan media social lho!). Sedangkan modal sosial terbangun oleh empat variable: bibit, bebet, bobot, dan oportunity.

Secara singkat mari kita kupas empat variable tersebut. Pertama bibit. Bibit bisa dipahami sebagai warisan sosial dari keluarga. Pamor keluarga mempengaruhi modal sosial seseorang. Bila dimasa lalu kakek atau orang tua kita menanamkan budi ke seseorang dan orang yang merasa keberhasilannya itu dipengaruhi oleh kebaikan orang tua/ kakek kita, maka secara tidak langsung kita (sebagai cucu atau anak) akan sedikit disungkani atau kalau kita membutuhkan bantuan maka orang tersebut akan dengan mudah membantu kita.

Kedua Bebet. Bebet bisa dilihat sebagai karakter, gaya dan kepribadian seseorang dalam lingkungannya. Dengan bahasa lain kedewasaan dan kematangan dalam berinteraksi di komunitas menentukan seseorang tersebut akan dihargai atau disegani dalam pergaulan.

Ketiga  bobot. Bobot dimaknai sebagai kapabilitas dan kemampuan seseorang. Di dunia pendidikan, bobot bisa dilihat dari kemampuan akademik misalnya kemampuannya mempublikasi karya ilmiah, kefasihannya dalam bidang ilmu tertentu ataupun jenjang pendidikan S1 alumni mana?, S2 risetnya apa?, dan S3 dimana?. Namun demikian kemampuan leadership sesorang juga masuk dalam kriteria "bobot".

Setelah bibit, bebet, dan bobot variable terakhir adalah oportunity atau kesempatan. Kesempatan itu bisa datang karena system yang mewadahi misalkan dengan “urut kacang” atau kesempatan itu di cari, misalkan dengan melakukan terobosan terobosan yang memancing system untuk memberikan “ medan: untuk berkreatifitas.

Lha kembali ke Values leadership' culture, modal sosial seseorang ini tidaklah sama. Masing masing ada keunggulan dan kelemahan. Membangun etos dan sistem manajement yang baku bisa melepaskan ketergantungan terhadap figur kharismatik. Namun pertanyaannya “piye” membangun etos dan sistem manajemen baku itu? untuk menjawab ini mungkin background dan pengalaman yg variative dari pembaca akan menghasilkan jawaban dan model yang berbeda.

Kalau menurut saya membangun etos dan manajement baku bisa diawali dari ketauladanan, yang kemudian dilanjutkan dengan pembakuan dan penstandartan beban kerja dan kinerja yang berujung kepada reward. Tahapan selanjutanya adalah empowerment, memaksilmalkan potensi yang dimiliki dengan meminimkan potensi konflik yang muncul. Model ini bisa di beri nama reward and empowerment management. Namun demikian sehebat apapun model yang diperkenalkan untuk membangun sistem keorganisasian, akan sia sia bila tidak model tersebut  tidak dibakukan dalam document. Meski model tersebut sudah dibakukan dalam document kebijakan, namun juga akan sia sia bila pengampu kebijakan dan para anggota tidak menjadikan document tersebut menjadi acuan dalam berinteraksi satu sama lain

So, dari sini saya yakin para pembaca budiman bisa melihat dimana harus dimulai

 

Waalahu a'lam bishowab


Baca Juga

CONNECT WITH US