Kolom > Dhuha Jum'at Bersama Gus Mus

Dhuha Jum'at Bersama Gus Mus

KH Ahmad Mustofa Bisri, akrab disapa Gus Mus, pada awal tahun 2018 lalu mendapat penghargaan Yap Thiam Hien sebagai pejuang pejuang Hak Asasi Manusia (HAM). Beliau adalah kyai pertama penerima penghargaan Yap Thiam Hien (Kompas, 2018, para.12). Penghargaan tersebut memang tidak memantik kontroversi sedikit pun. Namun demikian, bagi Gus Mus sendiri, penghargaan sebagai pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) untuk dirinya itu cukup mengejutkan.

Setidaknya, hal itu terungkap saat penulis mengikuti acara pengajian rutin hari Jumat di pondok pesantren Raudlatut Tholibin, Rembang. Gus Mus menyampaikan bahwa beliau juga tidak mengerti mengapa mendapat penghargaan sebagai pejuang hak hak azasi manusia "padahal aku ora tau demo (padahal saya tidak pernah ikut demonstrasi)" sambil tertawa kecil beliau berkelakar "mungkin jurinya lebay", disambut dengan riuh tawa para jamaah.

 

Teologi HAM ala Gus Mus

 

Jumat pagi (2/2/2018), ribuan jama'ah laki-laki dan perempuan dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan sekitarnya memadati pondok pesantren Raudlatut Tholibin, Rembang. Mereka datang dari beragam latar belakang profesi, mulai dari petani, nelayan, guru, dosen, anggota dewan, hingga para politisi.Tentunya mereka juga dating dengan variasi maksud dan tujuan yng berbeda.

Ada yang unik dari fenomena pengajian Tafsir al-Qur’an, yang menurut Gus Mus sudah berlangsung sejak Ayahandanya KH. Bisri Mustofa. Uniknya, meski jumlah jamaahnya ribuan dan berdesak-desakan di Aula Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin dan di rumah-rumah sekitarnya, para jamaah tidak menutup jalan raya. Saat pengajian berlangsung pun, lalu lalang kendaraan tetap tampak seperti biasa. Para panitia, santri, dan jamaah sangat menghormati hak pengguna jalan.  Ini mungkin salah satu indikator keseharian pejuang hak azasi manusia (HAM) yang diterapkan Gus Mus. Mungkin tampak sederhana, namun cukup substansial.

Darinya kita bisa belajar tentang cara menghormati hak orang lain. Disamping hak kita, ada hak orang lain yang juga harus dihargani. Jika ada benturan antar hak, maka kita diajak oleh sosok Kyai yang sekaligus budayawan ini untuk mendahulukan hak orang lain. Tentu saja butuh waktu berlatih untuk dapat bersikap dan berperilaku lebih mendahulukan hak orang lain.

Gus Mus mengawali pengajiannya dengan sedikit bercerita tentang penganugerahan yang menyebabkannya tidak bisa hadir dua Jum'at sebelumnya secara berturut-turut. Dengan rendah hati, beliau menyampaikan ‘teka-teki’ dalam dirinya mengapa mendapat penghargaan sebagai pejuang hak hak azasi manusia "padahal aku ora tau demo" sambil tertawa kecil beliau berkelakar.

Selanjutnya Gus Mus membaca  ayat demi ayat sebanyak 5 ayat pada surat pertama yang diturunkan Allah kepada Rasulllah Saw., Surat al-'Alaq yang juga dikenal dengan surat 'Iqra bi ismi rabbik. Dengan bahasa yang sangat lugas dan dengan dialek Jawa Tengah yang khas, beliau menguraikan ayat pertama, yakni "iqra"; bacalah. Perintah Iqra untuk membaca, yang tanpa memberikan penjelasan apa yang harus dibaca tersebut, mengisyaratkan kepada kita  untuk membaca apa pun; fenomena apa pun dan dari sumber mana pun, baik kitab, buku, alam, kondisi, situasi, bahkan raut wajah pun harus dibaca untuk memberikan banyak referensi pengetahuan dalam hidup dan kehidupan termasuk di dalamnya membaca situasi dalam kancah politik.

Namun demikian, meski pembatasan apa yang harus dibaca memang tidak dijelaskan, tetapi bagaimana cara membaca semua yang ada di dunia ini telah ditegaskan dengan jelas, yakni "bi ismi rabbik", dengan nama Allah. Artinya, pembacaan terhadap ayat baik qauliyah maupun kauniyah  didasari oleh  hasil dialog kita dengan Allah. Mulai dari membaca kitab suci al-Quran hingga membaca situasi politik terlebih dahulu mendialogkannya dengan Allah, sehingga hasil pembacaan kita mampu mengantarkan menuju Allah.

Darisini tampak betapa Gus Mus telah mengajari kita untuk mengikutkan pada setiap perkerjaan atau ritual kita yang bernilai ibadah dalam relasi ilahiyah, seperti shalat, puasa, atau pengajian, dengan nilai-nilai kemanusiaan. Hal demikian juga dikenal dengan paradigma antroposentris.  Sehingga kita tidak semena-mena dan  mengabaikan hak orang lain, serta mudah melakukan truth-claim. Sedangkan untuk mengerjakan hal-hal yang tampaknya seperti bersifat duniawiyah, kitadiperintahkan untuk membarenginya dengan nilai-nilai teologis/ilahiyah: 'Iqra bi ismi rabbik.

Ringkasnya, beragama dengan dua pola tindakan tersebut akan membuat kehidupan kita dalam bermasyarakat di komunitas apapun, baik kampus, politik ataupun komunitas lainnya, akan lebih mengedepankan hak-hak asasi manusia, mengeliminir sikap truth-claim, radikalisme agama, dan setiap perbuatan kita selalu diorientasikan sebagai ibadah untuk Allah Swt.

Wallahu a’lam bi al-shawab. 


Baca Juga

CONNECT WITH US