Kolom > Salam Keragaman Dari Lombok

SALAM KERAGAMAN DARI LOMBOK

*Laporan perjalanan ditulis, Dr. Arif Ainur Rofiq, S.Sos.I., M.Pd., Kons. Dosen Prodi BKI Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSA yang juga menjadi Ketua Ikatan Konselor Iki PD Jawa Timur. Dalam kegiatan Praktikum Konseling Lintas Budaya Mahasiwa Prodi Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSA Surabaya di Lombok Barat NTB dari tanggal 3-7 Februari 2018.

 

Alhamdulillah Praktikum Konseling Lintas Budaya yang dilakukan Mahasiwa Prodi Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSA Surabaya di Lombok Barat NTB dari tanggal 3-7 Februari berjalan lancar. Terima kasih kepada; Bapak Fajar sebagai pemandu pariwisata Pure Lingsar, Bapak Drs. H. Burhan (Kepala Sekolah SMKN 1 Lingsar Lombok Barat) yang memberikan izin tempat praktik layanan Bimbingan Kelompok, Konseling Kelompok, konseling Perorangan, serta fasilitas Hotel Manggis milik SMKN 1 Lingsar tempat kami tinggal selama 5 hari 4 malam.

Terima kasih juga kepada Bapak Kaswadi, S.Pd., Ketua Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling SMK se Kabupaten Lombok Barat yang telah memfasilitasi Workshop "Teknik dan Strategi Bimbingan & Konseling untuk Pengembangan Karakter siswa", baik fasilitas tempat maupun konsumsi (free semua dari MGBK), kepada para Guru BK SMKN 1 Lingsar khususnya Ibu Triesna Chuby, S.Pd., Kons.  yang bersedia menjadi supervisor mahasiswa Praktik,, dan kepada Takmir Masjid Nurul Hidayah dan Tuan Guruh Sareh yang memperkenankan kami dan mahasiswa memberikan pengajian pada jamaah.

Tak lupa, terima kasih kepada Ibu Dekan Fakultas dakwah dan Komunikasi, Ustd Dr. Agus Santoso, S.Ag., M.Pd., Ketua Prodi BKI, yang memberikan izin kepada mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan Praktik KLB di Lombok Barat, dan semua Pihak yang telah terlibat dalam suksesnya kegiatan Praktikum KLB.

Pure Lingsar Sebagai Pura Multikultural Tiga Agama

Pura Lingsar, sebagai pura terbesar di Lombok ini telah ada sejak tahun 1741. Dibangun Raja Darah Daging Keramat Ketut Karangasem. Pura ini merupakan federasi antara nilai ajaran Hindu dan Islam Wete Telu. Sehingga terdapat latar ekor yang membuat akal tarik unggul Pura Lingsar. Karena itupun pada pura ini dibagi menjadi dua wilayah yaitu pura Hindu Gaduh di bagian utara dan pura Weku Telu bernama Kemaliq di bagian selatan.

Pura Lingsar memiliki luas mencapai 26 hektar, yang didalamnya menandakan keharmonisan antara ajaran Islam dan Hindu. Pura ini masih sangat murni dan selalu terawat. Di pura ini tidak pernah ada gencetan walaupun di dalamnya terdapat dua  ajaran agama berbeda. Pura ini masih difungsikan sebagai tempat beribadah dari kedua  ajaran tersebut dan setiap setahun sekali akan ada ritual yang diselenggarakan. Adapun wisatawan yang datang kesini harus mengenakan selendang kuning yang dipakaikan pada pinggang, yaitu sebagai simbol penghormatan karena disini masih ada tanda memproteksi keperawanan pura.

Wilayah pura yang luas ini bisa anda kunjungi untuk menikmati wisata sejarahnya yang telah ada sejak abad ke 18. Tentunya anda akan merasakan suasana yang sangat religius, tenang dan juga teringat pada masa lampau. Di Pura Lingsar ini juga terdapat sebuah empang yang dibangun untuk menghormati salah satu dewa yaitu Dewa Whisnu. Empang atau kolam tersebut memiliki luas 6.230 meter persegi. Kolam ini dinamakan sebagai Kolam Telaga Ageng. Di dalamnya terdapat banyak ikan yang sangat unik, bahwa ikan tersebut jika tidak dipanggil maka ia akan keluar dengan tidak menampakkan diri maka ikan tersebut akan muncul jika anda memanggilnya. Untuk memanggil ikan tersebut anda bisa gunakan telur ayam matang yang dilemparkan kedalam kolam sehingga ikan-ikan akan keluar.

Adapun Telaga Ageng ini memiliki sembilan pancuran yang unik karena airnya tersebut memancar kedalam empang atau kolam. Pada awal kolam atau di kolam tempat pertama anda akan melihat banyakanya jutaan koin yang bertebaran secara berantakan. Koin atau uang tersebut memang dilemparkan oleh manusia dan konon yang melemparnya adalah para tamu yang datang ke pura ini. Mereka melempar koin karena menurut kepercayaan mereka akan mendapatkan kemudahan rezeki dari Tuhan. Dengan demikian anda bisa segera berwisata kesini walaupun tidak untuk beribadah.

Pura ini memang kerap kali dijadikan tempat penyelenggaraan berbagai ritual atau upacara adat. Seperti yang masih diselenggarakan hingga saat ini setiap setahun sekali adalah Perang Topat. Dalam ritual ini umat Hindu dan Islam akan berperang menggunakan topat atau ketupat yang dilemparkan kepada sesama temannya. Perang ini diadakan sebagai tanda untuk bersyukur atas rezeki yang telah diberikan Tuhan kepada masyarakat di wialyah ini. Perang Topat ini pun biasa dilakukan pada sebelum musim timbun padi dan juga setelah musim penghujan.

Songket Sukarara, Kain Tenun Khas Lombok

Kain tenun yang dihasilkan di Desa Sukarara adalah Kain tenun dengan benang emas yang biasa disebut Kain Songket. Kain Songket ini merupakan kain tenunan yang dibuat dengan berbagai teknik. Mulai dari teknik menambah benang pakan dan membuat hiasan dengan menyisipkan benang perak, emas atau benang warna di atas benang lungsi.

Kain Tenun di Desa Sukarara memiliki motif yang berbeda dengan kebanyakan kain tenun atau songket yang ada di Daerah lain di Indonesia. Ciri khas kain songket khas Lombok di Desa Sukarara kebanyakan digambarkan dengan motif rumah adat dan Lumbung serta motif tokek. Selain itu, ada juga motif lainnya seperti serat penginang, cungklik, keker, subahnala dan masih banyak lagi. Bahan baku yang digunakan dalam menenun adalah benang katun, sutera, sutera emas, dan benang sutera perak. Sedangkan untuk benang warna, bahan pewarna yang mereka gunakan adalah bahan alami seperti benang warna coklat yang bahannya berasal dari pohon mahoni, warna coklat muda dari batang jati, warna coklat tanah dari biji asam, dan warna ungu dari kulit manggis.

Belajar Kebudayaan adalah upaya mentradisionalkan warisan leluhur. Kebudayaan adalah alat komunikasi masyarakat jaman dulu dan jaman NOW.

Lokalitas Sasak Nan Menawan

Hari Kedua perjalanan Kuliah Lintas Budaya, Minggu ( 4-2-2018) diisi dengan kunjungan ke Dusun Sade, guna belajar budaya masyarakat asli Sasak. Sade adalah salah satu dusun di Desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah. Dusun ini dikenal sebagai dusun yang mempertahankan adat suku Sasak. Suku Sasak Sade sudah terkenal di telinga wisatawan yang datang ke Lombok.

Karenanya, tidak heran jika Dinas Pariwisata setempat menjadikan Sade sebagai ikon desa wisata. Ini karena keunikan Desa Sade dan suku Sasak yang jadi penghuninya. Sebagai desa wisata, Sade punya keunikan tersendiri. Meski terletak persis di samping jalan raya aspal nan mulus, penduduk Desa Sade di Rembitan, Lombok Tengah masih berpegang teguh menjaga keaslian desa. Bisa dibilang, Sade adalah cerminan suku asli Sasak Lombok.

Walaupun listrik dan program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) dari pemerintah sudah masuk ke sana, Desa Sade masih menyuguhkan suasana perkampungan asli pribumi Lombok. Hal itu bisa dilihat dari bangunan rumah yang terkesan sangat tradisional. Atapnya dari ijuk, kuda-kuda atapnya memakai bambu tanpa paku, tembok dari anyaman bambu, dan langsung beralaskan tanah. Orang Sasak Sade menamakan bangunan itu 'bale'. Pemandu lokal kami yang bernama Bapak Mesah berkata, ada delapan jenis bale yaitu Bale Tani, Jajar Sekenam, Bonter, Beleq, Berugag, Tajuk dan Bencingah. Bale-bale itu dibedakan berdasarkan fungsinya. Di Dusun Sade, ada 150 Kepala Keluarga (KK).

Dulu, berdasarkan penuturan Bapak Maesah, penduduknya banyak yang menganut Islam Wektu Telu (hanya tiga kali sholat dalam sehari). Tapi sekarang, banyak penduduk Sade sudah meninggalkan Wektu Telu dan memeluk Islam sepenuhnya.

Hal unik lainnya yang bisa ditemukan di Dusun Sade, yakni kebiasaan khas warga desa punya mengepel lantai menggunakan kotoran kerbau. Jaman dahulu ketika belum ada plester semen, orang Sasak Sade mengoleskan kotoran kerbau di alas rumah. Sekarang sebagian dari mereka sudah bikin plester semen dulu, baru kemudian diolesi kotoran kerbau. Konon, dengan cara begitu lantai rumah dipercaya lebih hangat dan dijauhi nyamuk. Bayangkan saja, kotoran itu tidak dicampur apa pun kecuali sedikit air. Tapi saat saya masuk ke rumah, tak ada bekas bau yang tercium. Ah, bagi saya, orang Sasak Sade memang jenius

Refreshing ke Pantai Kuta

Pantai Kuta Lombok memiliki pasir pantai berwarna putih yang sangat halus dengan air laut yang jernih hingga anda bisa melihat pemandangan bawah lautnya. Di Pantai Kuta Lombok terdapat bukit yang bernama Mandalika, adanya bukit ini menambah keindahan tersendiri. Selain itu, wilayah pantainya sangat aman untuk melakukan kegiatan air seperti mandi atau berenang. Untuk anda yang suka olahraga air juga tersedia fasilitas seperti banana boat, windsurfer, dan jetski. 

Selain menikmati olahraga air dan keindahan alamnya, anda juga bisa melihat upacara bau nyale yang diadakan setahun sekali di Pantai Seger sekitar 2 km sebelah timur Pantai Kuta yang diadakan sekitar bulan Februari dan Maret. Upacara bau nyale merupakan penangkapan cacing nyale yang oleh masyarakat setempat sebagai bentuk mengenang kisah Putri Mandalika yang diperebutkan tiga pria.

Dari Kota Mataram, Pantai Kuta Lombok ini berjarak sekitar 72 Kilometer ke arah Tenggara, dan bisa dicapai sekitar 90 Menit perjalanan. Disarankan agar Anda menyewa mobil atau bergabung dengan paket tour. Karena angkutan umum sangat jarang dan relatif mahal. Serta hanya beroperasi sampai jam 3 sore. Jika Anda terlambat, maka Anda harus menginap, atau menyewa taksi yang harganya relatif mahal. Di lokasi pantai, banyak sekali aktivitas yang bisa Anda lakukan di pantai nan menakjubkan ini. Seperti snorkling, berselancar, atau hanya sekedar bermain air sembari menanti sunset yang indah. Sekitar 2 km sebelah timur Pantai Kuta, Anda bisa mengunjungi juga Pantai Seger. Pantai ini masih berada pada garis pantai yang sama dengan Pantai Kuta. Pemandangannya juga menakjubkan. Bagi pecinta snorkling dan selancar, Pantai Seger adalah tempat yang tepat. Di pantai ini juga tersedia persewaan alat snorkling dan selancar. Namun pastikan Anda menawar sampai 30% jika berminat menyewa.

Workhshop MGBK pungkasi KLB Lombok

Hari Ketiga, Senin, 5 Februari 2018, rangkaian kegiatan KLB di Lombok diisi dengan Workshop Bersama Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) SMK Se-Kabupaten Lombok Barat. Kegiatan ini dihadiri 30 Guru perwakilan masing-masing SMK di Kabupaten Lombok Barat dengan Narasumber Dr. Arif Ainur Rofiq, S.Sos.I., M.Pd., Kons., Dosen Prodi BKI Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSA yang juga menjadi Ketua Ikatan Konselor Iki PD Jawa Timur. Dalam Workshop ini, bertindak sebagai petugas antara lain, MC (Inayah dan Regita), Pembaca Al Qur’an (Vivin) , Pembaca doa ( Azwar Anas), Moderator (Erwin Habib), Ice Breaking dan ketua panitia (Ulul Aflika) yang seluruhnya mahasiswa BKI semester 3.

Selain workshop, Rutinitas Setiap Bakda Magrib dan Bakda Subuh yang dilakukan selama berada di Lombok adalah mengaji Al Quran bersama jamaah Masjid Nurul Hidayah. Termasuk Kerja bakti membersihkan halaman Masjid Nurul Hidayah RT. 02 Dusun Batu Kumbung Lobar.


Baca Juga

CONNECT WITH US