Berita > Mahasiswa Uinsa Juarai Lomba Mhq Di Brunei Darussalam

MAHASISWA UINSA JUARAI LOMBA MHQ DI BRUNEI DARUSSALAM


 

UINSA Newsroom, Selasa (13/06/2017); Prestasi tingkat Internasional kembali ditorehkan Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya. Kali ini, lomba Musabaqah Menghafaz Al-Quran yang di Indonesia lebih familiar dinamakan Musabaqah Hifdzi Al-Quran (MHQ) membawa dua mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya meraih prestasi Internasional. Adalah Khobirul Amru, Mahasiswa Program Studi Tafsir Hadist dan Nur Asfiyah, Mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) yang meraih juara dalam ajang Lomba Musabaqah Menghafaz Al-Quran Beserta Pemahamannya di Brunei Darussalam pada 8 dan 10 Juni 2017.

Kegiatan Dwi Tahunan yang diselenggarakan Kementerian Agama Peringkat Negara Anggota MABIMS (Malaysia, Brunei Darussalam, Indonesia, dan Singapura) tersebut merupakan kali ke-5 digelar. Bertempat di Dewan Persidangan Utama, Pusat Persidangan Antarbangsa Berakas Brunei Darusslam, delegasi Indonesia (UIN Sunan Ampel Surabaya) hadir bersama delegasi dari negara lainnya. Delapan peserta dari empat negara dibagi dalam dua kategori lomba yakni Kategori 10 dan 30 Juz.

Khobirul Amru yang berhasil meraih predikat Juara III pada Kategori 30 Juz mengaku bersyukur, sebagaimana lazimnya seseorang yang mendapat juara. Kendati terselip juga rasa bersalah dan sedikit kecewa. Sebab, ia mengaku sempat mengalami kendala hafalan yang tidak lancar sewaktu perlombaan berlangsung. “Padahal di pundak saya memegang nama besar bangsa Indonesia, yang notabene sangat masyhur dengan para penghafalnya yang sudah go international,” ujar Amru menyesali.

Selain itu, persiapan yang minim juga menjadi kendala lain yang menghambat optimalnya penampilan yang bisa dipersiapkan Amru. Hal yang sama pun dialami Nur Asfiyah yang baru pertama kali mengikuti kegiatan MHQ serta di tingkat internasional pula dan dapat pulang dengan predikat Juara Harapan I kategori 10 Juz. “Saya hanya berharap, ke depan kegiatan seperti ini dapat dipersiapkan dengan lebih serius, cekatan, dan tidak disepelekan.  Karena bagaimana pun, peserta nantinya membawa nama besar bangsa.  Dan jika tidak tertata dengan baik, penampilan delegasi pun tidak akan optimal,” harap Amru yang mendapat kesempatan tampil pada hari kedua, Sabtu, 10 Juni 2017.

Ditanya apakah ada kebanggan tersendiri dpat mengikuti kegiatan tersebut, baik Amru maupun Asfiyah mengakui bahwa melalui perlombaan tersebut semakin menyadarkan mereka untuk lebih giat lagi melatih hafalan dan pemahaman Al-Quran. “Senang iya, tapi kalau bangga belum. Tetap banyak kesalahan yang harus saya koreksi. Justru dari mengikuti perlombaan kemarin itu saya semakin sadar bahwa hafalan saya masih perlu banyak perbaikan dan pelancaran,” ujar Amru yang pernah menjadi delegasi lomba serupa di Singapura rendah hati.

Sementara itu, mewakili pihak Dekanat FUF sekaligus pendamping, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan, Drs. Muktafi, M.Ag. mengatakan, delegasi UIN Sunan Ampel Surabaya atas nama Indonesia telah berupaya melakukan yang terbaik. Kaitannya dengan pembinaan kelembagaan, FUF memperhatikan setiap potensi dan menfasilitasi kegiatan tahfidz dengan semaan dua kali dalam sebulan. Sedangkan hafalan para hafidz dan hafidzah juga dihargai SKS dalam Matakuliah Tahfidz. “Kami sangat mengapresiasi prestasi yang diraih dan yang lebih penting adalah bagaimana mendorong dan menjaga hafalan mereka di antara kegiatan akademik yang juga meminta perhatian serius. Harapan kami tentunya, supaya ke depan dapat mengembangkan lagi dan juga meneruskan bagi generasi berikutnya,” ujar Drs. Muktafi mengapreasi sekaligus mengingatkan anak didiknya.

Sedangkan terkait tantangan yang dihadapi selama perlombaan, Drs. Muktafi menuturkan, kendala kepercayaan diri dan persiapan memang dihadapi delegasi UIN Sunan Ampel Surabaya. Akan tetapi, Drs. Muktafi tetap mengapresiasi tampilan kedua anak didiknya yang dinilainya telah melebihi peserta lainnya. “Tentu kita memang tidak boleh puas, tapi pantas bersyukur. Semoga ke depan menjadi pelajaran bagi mereka dan menelorkan kepada teman-temannya. Sebab UINSA punya kebijakan bagi maba yang hafidz/ah dalam pembebasan UKT, maka akan banyak mahasiswa hafal Al-Quran yang harus sama-sama kita beri perhatian lebih serius lagi,” pungkas Drs. Muktafi.

Sebagai informasi, Juara untuk kategori 30 Juz antara lain, 1. Muhammad Hazri bin Haji Mohammad Hamzani dari Brunei Darussalam, 2. Nur Amalina binti Azharuddin dari Malaysia, 3. Khobirul Amru dari Indonesia, dan Penghargaan. Abdillah Ammar bin Mohd Hanaim dari Singapur. (Nur/Humas)


Baca Juga

CONNECT WITH US