Berita > Uinsa Bekali Mahasiswa Kkn Dengan Nilai-nilai Pancasila

UINSA BEKALI MAHASISWA KKN DENGAN NILAI-NILAI PANCASILA


UINSA Newsroom, Jumat (13/07/2017); Pancasila sebagai dasar hukum dan bernegara, sudah selayaknya menjadi pedoman Bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Karenanya, implementasi dari Nilai-nilai Pancasila pun menjadi sebuah keniscayaan dalam rangka mewujudkan ketahanan nasional. Tema ini menjadi diskusi menarik dalam kegiatan pembekalan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Sunan Ampel Surabaya angkatan ke-II yang digelar Lembaga Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (LP2M) pada Kamis, 13 Juli 2017. Kegiatan pembekalan yang digelar di Masjid Raya Ulul Albab ini secara khusus meghadirkan Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri, dan Letkol Didi Suryadi dari Kodam V Brawijaya Surabaya.

Dr. H. Muh. Fathoni Hasyim, M. Ag., Ketua LP2M UIN Sunan Ampel Surabaya menyampaikan, untuk KKN angkatan II tersebut sebanyak 1007 mahasiswa akan diterjunkan ke Madiun, dan Magetan. Selain KKN Reguler, terdapat pula KKN Nusantara yang akan diterjunkan ke daerah Kupang dan Jayapura. Jenis KKN lainnnya, yaitu KKN Internasional dengan tujuan Malaysia dan Thailand. “Kami mengucapkan terimakasih kepada narasumber yang telah menyempatkan waktu ditengah kesibukannya untuk hadir dalam kegiatan ini. Inilah mahasiswa kami yang telah siap untuk bisa mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila ke seluruh pelosok pedesaan sebagai bagian dari pengabdiannya terhadap masyarakat,” ujar Dr. Fathoni.

Dalam kesempatan selanjutnya, mewakili Pimpinan UIN Sunan Ampel Surabaya, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan  dan Kerjasama, Prof. Dr. H. Ali Mufrodi, MA., berpesan, agar mahasiswa KKN dimanapun senantiasa menjaga nama baik UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai bentuk kecintaan terhadap almamater. Sebab, Mahasiswa KKN tidak hanya bertugas untuk melakukan pendampingan namun juga secara implisit menjadi duta-duta dari UIN Sunan Ampel Surabaya.

“Tunjukkan kebaikan-kebaikan UIN. Bahwa kita memiliki etika, dan juga ilmu yang mumpuni untuk bisa diberikan kepada masyarakat,” ujar Prof. Ali berpesan. Tak lupa, Prof. Ali juga berharap, agar di lapangan, para mahasiswa senantiasa membangun sinergi dengan pemerintahan desa juga TNI AD untuk bersama bahu-membahu melakukan pengabdian di masyarakat. “Semoga kerjasama ini berjalan baik, sekaligus memberi manfaat bagi kita semua,” imbuh Prof. Ali.

Prof. Haryono Suyono sendiri dalam pemaparannya menyampaikan, mahasiswa harus siap menghadapi ujian dari masyarakat desa dan senantiasa mengangkat budaya gotong royong sebagai bagian dari pengamalan Nilai-nilai Pancasila. Guna menyukseskan tugas tersebut, lanjut Prof. Haryono, maka mahasiswa perlu mengantongi lima kekuatan kepercayaan masyarakat. Pertama, percaya pada diri sendiri. Yakni, yakin bahwa setiap bekal yang telah diberikan dosen selama kuliah akan menjadi modal yang kuat untuk bisa terjun ke masyarakat. “Mahasiswa yang siap menghadapi ujian dari masyarakat, akan membuat mahasiswa UINSA menjadi sarjana yang memiliki kompetensi yang tinggi dan peduli kepada rakyat desa,” ujar Prof. Haryono.

Kepercayaan yang kedua, yakni mahasiswa harus percaya pada teman dan kemampuannya. Sehingga terciptalah semangat gotong royong yang menjadi dasar untuk bisa mempersatukan bangsa. Ketiga, mahasiswa harus percaya pada institusi, dimana mahasiswa menuntut ilmu dan belajar. Dalam hal ini harus bangga dengan kampusnya sendiri. Keempat, dalam rangka terjun ke desa, mahasiswa tidak boleh menjelekkan daerah dan masyarakat yang dikunjungi. Karena setiap daerah memiliki kekhasan dan kearifan lokalnya sendiri yang menjadikannya istimewa.

Kekuatan kepercayaan yang kelima, menurut Mantan Menko Kesra dan Taskin tersebut, yakni mahasiswa harus menumbuhkan semangat untuk rakyat desa, membangun kebersamaan, serta mengamalkan Pancasila. “Mahasiswa harus bisa menjadi insan yang dicintai masyarakat. Mahasiswa bisa membuktikan bahwa Pancasila bisa dilakukan di desa dan sayang kepada kesatuan dan persatuan bangsa," tutur dia.

Selain itu, menguatkan apa yang disampaikan Prof. Haryono, Letkol Didi dalam penyampaian yang mengambil tema, ‘Seinergitas TNI dan UINSA dalam pengabdian masyarakat demi terwujudnya ketahanan nasional’ berpesan pada Mahasiswa KKN UIN Sunan Ampel Surabaya untuk terus menjaga ucapan, sopan santu, dan tingkah laku selama berada di tempat KKN. “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung,” tutur Letkol Didi menegaskan.

Pada kesempatan tersebut, Letkol Didi secara tegas juga menyatakan, bagaimana ideologi PKI kembali gencar berupaya melemahkan sendi-sendi katahanan bangsa. Bahkan, menurut data yang dimiliki Letkol Didi, Ketahanan Nasional saat ini berada dalam kondisi kurang kuat. Hanya satu tingkat diatas status rawan. Hal ini perlu diwaspadai, mengingat betapa kuatnya sebuah ideologi merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. “Sebuah negara bisa saja hancur lebur, tapi sebuah ideologi tidak akan pernah mati,” seru Letkol Didi mengingatkan.

Lebih lanjut dijelaskan Letkol Didi, rawannya Ketahanan Nasional saat ini salah satunya disebabkan adanya intoleransi dalam beragama. Satu kelompok merasa lebih unggul dibanding lainnya. “Karenanya, saya berharap sinergi TNI dan UIN Sunan Ampel Surabaya yang telah terjalin ini akan terus ditingkatkan dengan berbagai program yang lebih kuat lagi kedepannya,” ujar Letkol Didi. Dimana hal itu akan terwujud, ketika setiap orang memahami dan mengimplementasikan Nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Nur/Humas)


Baca Juga

CONNECT WITH US