Berita > Syeikh Fadhil Dari Turki Isi Kuliah Umum Di Uinsa

SYEIKH FADHIL DARI TURKI ISI KULIAH UMUM DI UINSA


 

UINSA Newsroom, Kamis (05/10/2017); Sepekan setelah kedatangan Syeikh Amin dari Lebanon, kini UIN Sunan Ampel Surabaya kembali mengundang syeikh guna mengisi kuliah umum keagamaan, Kamis, 05 Oktober 2017 usai Shalat Dhuhur di Masjid Raya Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya. Adalah Prof. Dr. Sayyid Muhmmad Fadhil Al-Jailani dari Turki yang masih cucu ke-25 keturunan Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani. Jika Syeikh Amin dari Lebanon menjelaskan mengenai Thariqot Naqsabandiah, Prof. Dr. Sayyid Muhammad Al-Jailani dari Turki menjabarkan terkait Thariqot Qodariyah.

Kuliah umum Prof. Dr. Sayyid Muhmmad Fadhil Al-Jailani yang akrab di sapa Syeikh Fadhil ini, menyampaikan tentang perjalanan mencari manuskrip asli Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani sejak masa mudanya. Perjuangan yang gigih dan keyakinan mantap membuat semangat Syeikh Fadhil tidak pernah luntur sampai saat ini. Kegigihan tersebut tetap dilakoni Syeikh Fadhil, karena yakin bahwa tidak ada seorangpun yang sudah meneliti dan mencari manuscript asli milik Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.

Penjelajahan manuskrip dimulai Syeikh Fadhil dari perpustakaan Madinah Al-Munawarroh bernama Al-Hikmat yang kini sudah tidak ada lagi. Pada awalnya, Syeikh Fadhil hanya terfokus pada tiga manuskrips. Lama kelamaan, Syeikh Fadhil justru mendapat manuskript lain dan membuatnya lebih bersemangat dan termotivasi mendapatkannya. “Seiring perjalanan, banyak sekali kisah-kisah yang sangat mengejutkan,” ujar Syeikh Fadhil.

Salah satu perjalanan paling berkesan hingga membuat Syeikh Fadhil terkenal adalah setelah menjajaki perpustakaan di Vatikan. Syeikh Fadhil menceritakan, sebelum mendatangi perpustakaan Vatikan Syeikh Fadhil datang menemui Dubes Turki di Vatikan. Dari keterangan yang didapatkan, Dubes menjelaskan bahwa Vatikan tidak seperti Italia. Di Vatikan sangat ketat, tidak semua orang bisa sembarangan masuk kesana, apalagi masuk ke perpustakaannya. Syeikh Fadhil pun berterima kasih dengan Dubes tersebut, namun dalam hatinya masih yakin bahwa Allah swt akan memberi kemudahan.

Ternyata benar, ketika Syeikh Fadhil hendak memasuki perpustakaan Vatikan, antri dua orang di depan yakni orang Jerman dan Inggris. Orang pertama lolos dengan setumpuk berkas yang dimilikinya. Kemudian orang kedua ada satu berkas yang kurang, akhirnya petugas penjaga pintu perpustakaan dan orang Inggris tersebut adu mulut hingga di amankan polisi. Ketika itu keajaiban muncul, Syeikh Fadhil didatangi seorang petugas wanita yang hanya mengecek paspor lalu langsung mempersilahkan masuk. Sontak Abdurrahman Yordano (teman Prof. Dr. Sayyid Muhmmad Fadhil Al-Jailani yang menemani dan mendampingi) sontak terkagum-kagum.

“Bagaimana, apakah kamu masih ragu dengan barokahnya ilmu?” tanya Syeikh Fadhil kepada rekannya itu. Belum selesai ketakjuban Abdurrahman, hal tak terduga terjadi lagi ketika mereka berdua langsung berhadapan dengan Direktur Perpustakaan Vatikan. “Mengapa di Perpustakaan Vatikan yang besar ini begitu sulit prosedur masuk kedalamnya. Padahal ilmu itu untuk semua, Nasrani, Yahudi, Islam bahkan hewan sekalipun” protes Syeikh Fadhil kepada direktur perpustakaan Vatikan.

Cerita berlanjut, ketika sebelum pulang, ada satu pertanyaan dari Direktur Perpustakaan Vatikan, “Mengapa umat Islam boleh menikahi wanita kami sedangkan kami tidak boleh sebaliknya?” ujar Syeikh Fadhil mengulangi pertanyaan Direktur Perpustakaan Vatikan.

Menjawab pertanyaan tersebut, Syeikh Fadhil menjelaskan, alasannya adalah karena Orang Yahudi kalian tidak percaya adanya Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Muslim percaya Nabi Muhammad dan Isa, Musa, begitupun Nabi lainnya. Direktur tersebut terdiam dan hanya manggut-manggut. Lalu Syeikh Fadhil bertanya balik kepada Sang Direktur. “Saya punya satu pertanyaan, dimana makam Isa AS?”

Direktur itu sangat terkejut dengan pertanyaan itu, dan sedikit berbisik kepada rekan Syeikh Fadhil yang mendampingi, “Kalau saya teruskan ngobrol dengan orang ini, bisa-bisa saya jadi Muslim”. Setelah tragedi itu, kisah Vatikan yang mencekam dengan sekian banyak peraturan kini mencair, dan Syeikh Fadhil menjadi tamu istimewa. Bahkan kata-kata; ”Ilmu itu untuk semua, Nasrani, Yahudi, Islam bahkan hewan sekalipun” menjadi quotes di perpustkaan tersebut.

Mengakhiri kuliah umum, Syeikh Fadhil membuka sesi tanya jawab serta memberikan amalan (Ijazah) sebuah sholawat sebanyak 313 kali yang merupakan jumlah Pasukan Perang Badar dan Nabi Musa. (RF/Humas)


Baca Juga

CONNECT WITH US