Berita > Kajian Tasawuf, Perluas Wawasan Keislaman

KAJIAN TASAWUF, PERLUAS WAWASAN KEISLAMAN


UINSA Newsroom, Jumat (05/10/2017); Diskusi ilmiah menjadi kegiatan rutin di lingkungan kampus sebagai upaya peningkatan kapasitas keilmuan mahasiswa. Himpunan Mahasiswa Program Studi Pengembanngan Masyarakat Islam (HIMAPRODI PMI) UIN Sunan Ampel Surabaya bekerja sama dengan Penerbit Mizan dan juga Komunitas Baca Rakyat (KOBAR) mencoba menjaga rutinitas ini dengan menyelenggarakan diskusi buku “ Islam Tuhan Islam Manusia” di Aula Dakwah UIN Sunan Ampel Surabaya, Kamis, 05 Oktober 2017.

Narasumber diskusi buku tersebut, Haidar Bagir yang merupakan penulis buku “ Islam Tuhan, Islam Manusia” serta Ilung Senha, seniman yang juga seorang penulis. Diskusi buku yang diselenggarakan pukul 09.00 sampai 13.00 WIB tersebut cukup diminati mahasiswa. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya peserta yang hadir mencapai 450 peserta serta antusiasme peserta dalam sesi tanya jawab.

Dalam pemaparannya, Haidar Baghir  menjelaskan mengenai agama dan spiritualitas pada zaman sekarang. Dewasa ini, menurut Haidar Baqir, jihad yang paling besar adalah fitrah. Islam Tuhan adalah al haq yang mutlak (Islam yang kebenaranya mutlak). Sedangkan Islam Manusia, merupakan Islam yang relatif (berupa tafsir). Selanjutnya haidar Baqir juga menjelaskan, bahwa tiada Islam tanpa cinta. Karena Islam dan cinta (mahabbah) bagaikan dua sisi dalam satu koin dan tidak dapat dipisahkan. “Al Ghazali dari Nabi Muhammad, cinta itu adalah asas dari agamaku. Perpecahan dalam negara kita di zaman sekarang adalah karena agama sekarang bukan dianggap sebagai spiritualitas dan lunturnya cinta dari manusianya” jelasnya.

Sementara itu, menurut Ilung S.enha, Islam yang berpusat pada cinta itu masih memiliki kekurangan. Karena Islam itu ada tiga Akidah, fiqih, Dan Tasawuf. Ketika seseorang hanya berpusat pada cinta semata, Ilung S.enha, hal itu dirasa masih kurang karena masih banyak hal yang dilupakan. Salah satunya adalah tasawuf ilmu. “Cinta bukan berarti tidak akan menghukum, tidak ada pertengkaran, maupun tidak ada kebencian. Tapi didalam cinta terdapat segalanya. Cinta adalah sebuah kebencian yang belum tersingkap. Cinta mengenal benci, benci bukan kepada orangnya tapi sikapnya” tambahnya pada saat pemaparan materi. (PMI/FDK)


Baca Juga

CONNECT WITH US